Banyak orang takut mendengar kata “sempurna.” Mereka kemudian menafsirkan atau memandang bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang tidak akan dialami di bumi. Mereka berpikir bahwa kesempurnaan hanya ada di surga. Padahal, Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:48 bahwa kita harus sempurna. Tentu sekarang ini. Itu jelas, sempurna harus dimulai sejak hari ini. Sebelum Yesus berkata “kamu harus sempurna seperti Bapa,” Yesus sudah menyampaikan khotbah-khotbah yang dikenal sebagai Khotbah Di Bukit. Jadi, kalau seseorang belajar mengenai kebenaran yang dikhotbahkan Yesus, maka ia bisa mencapai kesempurnaan itu. Sempurna seperti Bapa bukan berarti kita menyamai Allah Bapa. Kita tidak mungkin bisa menyamai Allah Bapa. Tetapi, kita bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Tuhan melatih kita untuk bisa sempurna seperti Bapa. Tuhan memberikan kepada kita pengalaman-pengalaman hidup, ujian-ujian—dari ujian yang sederhana sampai yang berat.
Bagaimana kita dapat menyelesaikan ujian tersebut? Kita harus membaca Alkitab. Di Perjanjian Lama, kita menemukan tindakan Allah dan tokoh-tokoh iman yang diperkenan oleh Allah. Dari hal itu kita bisa mengenal bagaimana Bapa di surga bersikap, atau kita bisa mengenal hakikat Allah kita. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan kebenaran-kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus. Kita bisa memiliki kecerdasan rohani untuk bisa mengerti bagaimana memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi. Tuhan memberikan kita masalah-masalah sederhana, ibarat orang belajar Matematika, dari angka 3 ditambah 3, kemudian 30 kali 30 dan seterusnya. Tuhan pasti membuat semacam kurikulum atau program untuk setiap individu agar mengalami proses pertumbuhan. Allah cakap sekali, karena Ia adalah Arsitek jiwa yang mampu mengubah jiwa dengan sangat sempurna. Oleh sebab itu, kita percaya bahwa kesempurnaan bisa kita capai sekarang di bumi. Tentu kesempurnaan setiap orang berbeda. Itulah sebabnya, firman Tuhan mengatakan ada yang diberi banyak, ada yang diberi sedikit; “Yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit.”
Sempurnanya si A dengan sempurnanya si B itu berbeda. Jadi, kalau misalnya ada anak kelas 3 SMP menyelesaikan soal Matematika mendapat nilai 9, juga ada anak kelas 3 SMA menyelesaikan soal Matematika dengan nilai 9. Nilai 9 anak kelas 3 SMP dengan nilai 9 anak SMA itu berbeda. Jadi, kita harus mengerti dan memahami bahwa setiap orang memiliki porsi yang berbeda-beda. Ada yang bertobat sejak usia 10 tahun, ada juga yang baru mengenal Tuhan atau menjadi Kristen setelah usia 60 tahun. Belum lagi soal situasi atau keadaan lingkungan. Semua itu juga terkait. Intinya adalah bagaimana dalam menghadapi setiap persoalan, seseorang bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Allah.
Yesus adalah model dari manusia yang bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ketika Yesus selesai dibaptis lalu ada suara “ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan,” cara Allah menilai Putra Tunggal-Nya ini bukan hanya ketika Ia memberi diri-Nya dibaptis, seakan-akan Ia sama seperti orang berdosa. Tentu juga ditinjau dari masa kanak-kanak-Nya. Ketika usia 12 tahun, Ia sudah di Bait Allah, dan menyatakan Ia harus ada di Rumah Bapa-Nya serta bersoal jawab dengan para ahli Taurat. Para ahli Taurat ini adalah orang-orang hebat. Tetapi, Yesus yang berusia 12 tahun sudah bisa mengimbangi kecerdasan imam ahli Taurat itu.
Kalau kita membaca Alkitab, kita tidak pernah menemukan kehadiran Yusuf setelah perisitiwa kembalinya mereka dari Yerusalem. Pada waktu Yesus dianggap gila, hanya Maria yang datang bersama saudaranya. Waktu Yesus disalib, hanya Maria yang menengok Yesus. Menurut para ahli, kemungkinan Yusuf meninggal di usia muda. Dan ada beberapa alasan lainnya. Tetapi, ini belum pasti. Seandainya itu benar bahwa Yusuf meninggal di usia muda, berarti Yesus sejak masa muda-Nya harus bekerja keras memikul beban keluar...