Keselamatan diterima manusia bukan secara otomatis, melainkan menuntut respons yang aktif dan proporsional. Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk selamat, seseorang harus berjuang masuk jalan sempit (Luk. 13:3-24). Kasih karunia bisa dialami seseorang, kalau dua pihak—yaitu Allah melalui Roh Kudus dan orang tersebut sebagai penerima anugerah—mau bekerja sama sebagai responsnya. Dari pihak Allah, untuk mewujudkan keselamatan atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada mereka yang menerima-Nya, supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία) yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. privilege). Kata “kuasa” dalam Yohanes 1:12 ini berbeda dengan kata “kuasa” dalam Kisah Rasul 1:8; kata “kuasa” dalam kisah Rasul ini adalah dunamis (δύναμις). Kata ini lebih tepat atau lebih dekat bila diterjemahkan “sesuatu yang menggerakkan” (Ing. power). Kuasa itu adalah fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa dalam kehidupan (Rm. 8:28).
Dari pihak manusia, keselamatan berarti perjuangan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) atau sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Perjuangan ini bisa terjadi karena Allah memberi kasih karunia atau anugerah. Kasih karunia itu terdapat pada fasilitas keselamatan yang Allah sediakan tersebut. Tanpa fasilitas tersebut, keselamatan tidak dapat terwujud. Orang percaya harus menggunakan secara maksimal fasilitas keselamatan itu. Dikemukakan Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. “Dengan takut dan gentar,” menunjukkan pergumulan yang tidak ringan, yaitu bila direlasikan dengan ayat sebelumnya, yaitu memiliki pikiran dan perasaan (Flp. 2:5-7).
Allah menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Yun. φρονέω, phroneo). Yesus adalah model manusia yang diinginkan dan dirancang oleh Allah. Jadi, keselamatan adalah usaha untuk menjadi manusia yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah sebabnya, orang percaya disebut sebagai Kristen yang artinya seperti Kristus. Ini berarti orang percaya yang harus mengusahakan dengan serius bagaimana menggerakkan atau mengarahkan pikiran dan perasaannya menjadi seperti Kristus. Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan sendirinya, atau karena sepenuhnya intervensi pihak lain dalam diri seseorang. Masing-masing individu yang harus mengendalikan pikiran dan perasaannya sendiri. Ini sebenarnya sebuah proyek mustahil, artinya tanpa intervensi Allah seseorang tidak akan dapat menjadi seperti Kristus. Intervensi Allah inilah kasih karunia itu. Tetapi intervensi Allah tidak mengambil alih bagian atau tanggung jawab manusia.
Sejatinya, menerima keselamatan itu bukanlah seperti sebuah titik, tetapi suatu proses yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang. Jika seseorang menganggap bahwa keselamatan itu adalah suatu momentum atau suatu peristiwa sesaat seperti sebuah titik, maka ia tidak akan mengusahakan pertumbuhan secara proporsional dalam proses tahapan-tahapan yang ketat. Orang-orang seperti ini tidak bertumbuh dalam kedewasaan dan kesempurnaan seperti Bapa. Ini berarti orang tersebut tidak akan pernah mencapai kehidupan yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, atau tidak mencapai standar “dikenal oleh Tuhan” (Mat. 7:21-23). Dikenal di sini artinya dinikmati oleh Tuhan (Yun. ginosko). Hanya orang yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dapat dinikmati oleh Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Kita harus berjuang untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus karena itulah standar kesucian Allah. Banyak orang Kristen tidak memahami panggilan ini. Mereka merasa sudah puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki dan tidak berusaha untuk menaikkan level mereka dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus.