Setiap orang memiliki “virus” yang disebut oleh Yohanes dalam suratnya sebagai keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Virus ini berjangkit bukan saja atas orang-orang yang tidak mengenal Allah, bukan hanya pada kehidupan jemaat Tuhan, melainkan juga para pendeta atau mereka yang mengikut “Yesus yang lain.” Mereka mau menjadi orang yang dikultuskan atau dianggap penting dan terhormat. Memang mereka tidak mengucapkannya secara langsung, tetapi tindakan mereka menunjukkan hal tersebut. Keinginan mereka untuk menjadi “orang yang istimewa” bagi jemaat, dan juga bagi pendeta lain tampak terlihat sekali. Bagi mereka, pengkultusan bukan sesuatu yang mereka pandang keliru, sebab mereka merasa layak untuk mendapat perlakuan seperti itu. Namun, mereka tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlibat dalam kesombongan yang mendukakan hati Tuhan. Itulah sebabnya mereka mengingini keberhasilan dalam pelayanan melalui mukjizat.
Karena tidak memiliki landasan pemahaman kebenaran yang cukup, dan tidak berhati-hati dalam menjalani hidup dengan potensi bahaya yang begitu besar, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menyimpang dari jalan Tuhan. Bahaya besar bagi para hamba-hamba Tuhan tersebut selain kekayaan dan ketenaran, juga jabatan dalam sinode atau pemimpin di kalangan para pendeta. Penyimpangan ini tidak terlalu tampak bagi mereka yang tidak mengenal kebenaran.Namun, bagi mereka yang mengenal kebenaran, penyimpangan ini sangat tampak jelas. Kita dapat menilai dari isi khotbahnya, di mana penyimpangan hingga kesesatannyasudah dapat dikenali.
Tidak sedikit di antara mereka yang suka mendemonstrasikan mukjizat. Dengan melakukannya, mereka dapat dianggap dan merasa sebagai “orang istimewa Tuhan,” dan ditambah lagi dengan kepercayaan dari jemaat, ia akan dengan mudah membuat pernyataan-pernyataan bahwa dirinya menerima pesan atau visi dari Tuhan. Bagi jemaat awam, tidak mudah membedakan apakah pesan atau visi itu dari Tuhan atau bukan; tetapi bagi yang mengenal kebenaran, sangat mudah mengenalinya. Faktanya, lebih banyak yang tertipu daripada yang mengenali penipuan tersebut. Dari hal ini, maka banyak orang Kristen yang hanyut alam fenomena mukjizat kesembuhan, sehingga tidak fokus terhadap proses keselamatan yang harus dijalani.
Dalam Matius 7:21-23 dijelaskan ada orang-orang yang mengaku sudah bernubuat, mengusir roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat, tetapi ditolak oleh Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak mengenal mereka. Frasa ”tidakmengenal” di sini sebenarnya maksudnya bukan tidak mengenal dalam arti tidak diketahui.Maksudnya frasa ini adalah “tidak dapat dinikmati” oleh Tuhan (Yun.ginosko). Tidak dapat dinikmati oleh Tuhan berarti bahwa kehidupan pribadi hamba Tuhan atau pendeta tersebut tidak menyenangkan hati Tuhan. Tidak menyenangkan hati Tuhan atau tidak berkenan di hadapan Tuhan disebabkan karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Dari hal ini sangat jelas dikemukakan bahwa mukjizat bukanlah segalanya. Tuhan tidak menikmati mukjizat yang dilakukan melalui orang percaya. Tuhan lebih menikmati kehidupan orang percaya yang melakukan kehendak Bapa.
Timbul pertanyaan, bagaimana dengan hamba Tuhan yang memulai pelayanannya dengan tulus dan sungguh-sunggguh,—walaupun ketulusannya belum matang atau tidak sempurna—apakah ukuran kedewasaan rohani mereka pada waktu itu sudah cukup bagi mereka untuk diperkenan melayani Tuhan dan dinilai baik? Pada mulanya mereka tidak bermaksud hendak serakah, gila hormat atau berniat dikultuskan, juga tidak bermaksud ikut terlibat politik praktis serta menyalahgunakan kekuasaan rohani. Mereka juga tidak pernah bercita-cita hendak melakukan berbagai pelanggaran moral. Pada waktu itu, dalam usia rohani yang masih dipandang muda oleh Tuhan, mereka bisa menerima karunia-karunia dari Tuhan, di antaranya karunia mengadakan mukjizat. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar dan terkenal, dengan segala berkat jasmani yang membanjiri hidupnya, dirinya mulai tenggelam.