Dalam Matius 6:14-15 tertulis: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Kata “kesalahan” dalam di ayat ini, teks aslinya adalah paraptoma (παράπτωμα). Paraptoma berarti: side-slip (lapse or deviation), error (wilful) or transgression: fall, fault, sin, trespass, offence, sin, to fall beside or near something, a lapse or deviation from truth and uprightness, a sin, misdeed, side-slip (penyimpangan), kesalahan atau pelanggaran (disengaja), jatuh, kesalahan, dosa, pelanggaran, pelanggaran, dosa, jatuh di samping, penyimpangan dari kebenaran dan kejujuran, dosa. Mengapa dalam Matius 6:12 kata “kesalahan” menggunakan kata opheilemata (ὀφειλήματα), tetapi di ayat 14-15 digunakan paraptoma? Hal ini menunjukkan bahwa dosa atau pelanggaran adalah utang. Sebagaimana Allah mengampuni kesalahan kita, maka kita juga mutlak harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kalau seseorang tidak mengasihi sesamanya, Allah juga tidak mengampuni kesalahan orang tersebut. Artinya, membatalkan keselamatan yang Allah telah berikan. Tentu saja orang seperti ini tidak dapat hidup di hadirat Allah.
Dalam Markus 11:25-26 tertulis, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kata “kesalahan” dalam teks ini adalah paraptomata (παραπτώματα); noun accusative neuter plural from paraptoma (παράπτωμα) (Mrk. 11:25-26). Sama halnya dengan Matius 6:14-15, juga menggunakan kata paraptoma. Pada intinya, kalau seseorang masih menyimpan kebencian terhadap sesamanya, maka Allah tidak akan berurusan dengan orang seperti itu. Ini berarti orang yang masih menyimpan dendam dan tidak mengasihi sesamanya, tidak akan pernah menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya.
Allah adalah kasih. Berangkat dari kenyataan bahwa Allah mengasihi manusia sebab manusia berharga di mata-Nya, maka siapa yang mengasihi Allah, harus mengasihi manusia yang dikasihi Allah. Kasih kepada Allah harus diwujudkan dalam bentuk kasih kepada sesama. Kasih yang sempurna dari Allah kepada manusia harus dibalas dengan kasih yang sempurna yang dapat dilakukan, atau kasih yang terbaik yang dapat diperbuat (Yoh. 15:12-17). Seperti Tuhan mengasihi, maka umat diajar untuk mengasihi orang lain seperti kasih Allah kepadanya. Banyak orang bisa mengasihi orang yang menurutnya layak dikasihi, tetapi tidak mengasihi orang yang menurut mereka tidak layak dikasihi, terutama kepada mereka yang telah menyakiti hatinya. Kasih yang Tuhan ajarkan adalah menyerahkan nyawa bagi orang lain, artinya orang percaya juga harus rela dirugikan demi orang lain sebagai objek pelayanan. Seperti Tuhan menyerahkan nyawa untuk orang percaya, maka orang percaya juga wajib berbuat demikian (1Yoh. 3:16).
Dengan demikian, mengasihi Allah berarti membalas kasih Allah. Mengasihi Allah berarti hidup dari kasih-Nya, yakni dikuasai oleh anugerah Allah. Mengasihi Allah ialah menerima dan memberi lagi, disayangi dan menyayangi. Allah memberikan yang “tersayang” yaitu Anak Tunggal-Nya untuk orang percaya, maka orang percaya patut menyerahkan hatinya untuk Dia, dengan mengasihi sesama. Allah menghendaki orang percaya untuk mengasihi sesamanya. Kasih orang percaya terhadap sesama manusia harus didasarkan atas kasih Allah kepada dirinya.
Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukan manusia sendiri yang menentukan siapa yang menjadi sesamanya, tetapi Allah yang menentukan. Allah juga menentukan untuk siapa seseorang layak menjadi sesama manusia. Sesama manusia ialah orang yang sedang menderita kesukaran yang ditempatkan Allah pada jalan hidup orang percaya. Orang percaya harus menjadi sesama manusia bagi orang itu, demi kehendak Allah.