Sebenarnya, banyak orang Kristen sedang berpesta pora dengan segala kemewahan hidup, seakan-akan pesta kesenangan itu tidak ada ujungnya. Mereka adalah orang-orang yang berusaha meraih sebanyak-banyaknya kesenangan dari dunia ini, sampai mereka tidak pernah mengenal damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Pasti mereka tidak menghormati Tuhan secara pantas. Orang-orang seperti itu berusaha tiada henti untuk mencari kesenangan dunia. Padahal, kita harus menyadari bahwa semakin tua, kita semakin tidak membutuhkan apa-apa. Rumah besar dan mewah pun tidak dapat dinikmati, sampai suatu saat kita harus melepaskan semuanya dengan mata tertutup, hanya membutuhkan kuburan berukuran dua kali satu meter. Ini adalah hukum kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tetapi, banyak orang tidak menyadari sama sekali, mereka berpikir bahwa seakan-akan apa yang dimilikinya akan digenggamnya dan tidak dapat terlepas.
Firman Tuhan mengatakan bahwa dari debu kita diambil, maka kita juga akan kembali ke dalam debu (Pkb. 12:7). Pada umumnya, mereka tidak berpikir bahwa tubuhnya adalah debu dan akan kembali kepada debu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak memikirkan ada tempat lain yang harus dipersiapkan. Ada tanah abadi yang harus dipersiapkan mulai sekarang. Tanah yang tidak dapat dibeli dan nilainya tidak terduga. Itulah langit baru dan bumi baru, tujuan hidup kita. Hidup yang sesungguhnya yang Allah sediakan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Hati kita harus kita pindahkan ke sana sebelum kita meninggal dunia.
Mereka tidak akan pernah memiliki kepekaan memahami kehendak Allah, sebab yang memenuhi jiwa mereka adalah kehendak mereka sendiri. Tuhan pun hanya dijadikan sebagai sarana untuk memuaskan keinginan mereka. Jadi, mereka ke gereja hanya untuk memperoleh berkat jasmani, bukan mengenal kebenaran-Nya. Dalam lingkungan gereja, terdapat orang-orang seperti ini, tetapi mereka tidak menyadari keadaan yang sangat berbahaya tersebut. Mereka mengaku percaya adanya Tuhan dan pengadilan-Nya, tetapi gaya hidup mereka menunjukkan kalau mereka tidak memercayai realitas dan fakta tersebut.
Mereka tidak mempersiapkan diri menyongsong kehidupan kekal, sebab mereka berpikir bahwa persiapan masuk kekekalan baru pantas dilakukan setelah tua sebelum meninggal dunia. Padahal, tidak seorang pun tahu kapan hari ajalnya tiba. Ini adalah sebuah kecerobohan. Lagipula, kalau dalam waktu panjang seseorang tidak membiasakan diri hidup di dalam kehendak Tuhan, ia tidak akan bisa mengarahkan diri kepada Tuhan dengan benar. Cita rasa jiwa ini menjadi permanen, sampai sulit diubah, bahkan sampai tidak bisa diubah lagi. Kalaupun pergi ke gereja dan berbagai kegiatan rohani, aktivitasnya tidak signifikan mempersiapkan diri memasuki kekekalan, sebab irama hidupnya sudah salah dan tidak bisa diubah lagi. Kekekalan bagi mereka seperti bangun dari mimpi indah.
Orang-orang Kristen seperti di atas ini tidak merasa sebagai orang-orang yang jahat, sebab mereka tidak melanggar norma umum, bahkan di antara mereka adalah orang-orang yang terhormat di mata manusia. Pada dasarnya, mereka tidak menempatkan diri mereka secara benar di hadapan Tuhan. Mereka adalah orang Kristen yang menolak menjadi anak-anak Allah yang layak dipermuliakan bersama Yesus. Pada dasarnya, mereka melawan Tuhan, sebab tidak menuruti rencana Allah menjadi manusia sempurna seperti Putra Tunggal-Nya.
Orang Kristen yang hidup dalam pesta pora dengan segala kemewahannya—sehingga tidak menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya—adalah orang yang berkategori berzina secara rohani. Mereka tidak mencari kebenaran untuk melepaskan diri dari percintaan dunia. Orang yang tidak mencari kebenaran adalah orang “berzina” meninggalkan Tuhan (Mzm. 73:27). Hendaknya, kita tidak beranggapan bahwa kalau seseorang ke gereja berarti mendekat kepada Tuhan dan tidak melakukan perzinaan rohani. Padahal, mereka pasti tidak hidup seturut kehendak Tuhan.