Kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, sesungguhnya di balik ini ada risiko yang tidak ringan atau mengandung konsekuensi yang berat, sebagaimana kalau seseorang diadopsi oleh seorang bangsawan. Hidup sebagai anak bangsawan memiliki tatanan tersendiri. Demikian pula kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, ada tatanan untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Tentu saja hidup kita harus benar-benar berubah. Hidup sebagai anak-anak Allah berarti harus selalu membiasakan diri hidup di hadirat-Nya. Kita harus membiasakan diri hidup di hadirat Allah dan merasakan hadirat Allah tersebut setiap saat.
Dengan hidup sebagai anak-anak Allah dan hidup di hadirat Allah, kita tidak bisa lagi atau memang tidak boleh lagi hidup secara sembarangan. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 1:14-17 tertulis: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Hidup di hadirat Allah membuat kita menjadi peka terhadap dosa dan kesucian. Ketika kita menyimpang atau melakukan kesalahan, kita akan sangat merasa tersiksa.
Hidup di hadirat Allah membuat kita lebih cepat menyadari ketika adanya kesombongan terselubung, ketidaktulusan, ketidakjujuran, dan segala kesalahan yang mungkin dipandang orang sebagai “hal sederhana” atau kecil, tetapi hal tersebut bisa menyakiti hati Allah atau paling tidak, membuat hati Allah tidak nyaman. Proses kehidupan ini akan menciptakan kesucian hidup yang natural, yang bisa terbangun terus-menerus dari hari ke hari, sehingga kita dapat bertumbuh di dalam kesucian Allah, mengambil bagian dalam kekudusan Allah, atau mengenakan kodrat ilahi. Sebenarnya, inilah tujuan hidup kekristenan yang sesungguhnya. Kalau kita hidup di hadirat Allah—di mana kita bisa menikmati damai sejahtera-Nya—maka hal itu membuat kita menjadi takut untuk berbuat dosa atau kesalahan. Banyak hal yang dulu menjadi kesukaan, sekarang tidak kita sentuh lagi. Pada akhirnya, hidup dalam kesucian menjadi irama hidup yang tetap; permanen. Tidak menyentuh dosa bukan karena hukuman atau konsekuensi, bukan karena takut terkena disiplin atau pukulan, melainkan karena kita tidak ingin melukai hati Bapa.
Hendaknya kita bisa memiliki perasaan Bapa yang benar-benar terluka pada waktu kita berbuat salah; seperti kesombongan yang terselubung, perasaan tidak suka kepada sesama, dendam, kebencian, dan perasaan negatif lainnya. Dosa atau kesalahan yang tidak dilihat oleh orang lain harus kita sadari, dan jika kita melakukannya, kita harus merasa sakit. Ketika kita memiliki masalah kemudian bergantung pada manusia, itu pun melukai hati Allah. Hal ini bisa merusak “hadirat Allah” di dalam hidup kita. Dengan hal tersebut, bukan berarti kita tidak boleh sharing atau berbagi beban kepada sesama, tetapi dasarnya bukan karena kita mau bergantung kepada manusia, melainkan berbagai beban dengan tulus tanpa bermaksud mengandalkan manusia. Kita menjadi peka terhadap hal-hal yang melukai hati Allah. Dan hal ini menjadi pilihan bahwa kita mau menjaga perasaan Allah. Kita percaya bahwa ada Pribadi yang hidup yang menjadi Tuan Rumah jagat raya ini, yaitu Allah semesta alam, Bapa di surga. Harus selalu diingat, bahwa kita hidup hanya untuk melayani perasaan-Nya.
Yesus adalah model dari manusia sejati yang tubuh-Nya menjadi Bait Allah. Kalau menjadi Bait Allah, berarti tempat pertemuan antara Allah dengan individu. Ini juga berarti tubuh ini tempat ibadah, inilah pekerjaan Allah. Tuhan Yesus menyelenggarakan hidup sebagai “Bait Allah” dengan melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.