Sarana perdamaian dengan Allah adalah Yesus Kristus. Tidak ada jalan perdamaian dengan Allah kecuali melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya anugerah bagi keselamatan semua manusia, diberikan dengan cuma-cuma, bukan karena perbuatan baik. Itulah sebabnya Paulus menyatakan agar kita tidak memegahkan diri (Ef. 2:8-9). Tetapi, terwujudnya perdamaian dengan Allah secara ideal atau benar—sesuai dengan isi dan maksud perdamaian tersebut—tidaklah cuma-cuma, artinya tidak bisa dialami dan dimiliki secara otomatis. Harus ada perjuangan yang dilakukan untuk mewujudkannya.
Dari pihak Allah, Ia menyediakan fasilitas, yaitu kurban Yesus, Roh Kudus, dan Injil, serta penggarapan Allah dalam segala peristiwa hidup. Dari pihak kita, harus ada perhatian dan tindakan untuk menerima penggarapan atau didikan Allah sebagai Bapa, agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Tanpa kekudusan, tidak ada perdamaian yang benar. Dalam hal ini, kita bukan hanya dikuduskan dari perbuatan dosa kita, melainkan juga menjadi berkeadaan kudus dalam karakter kita; bukan hanya dibenarkan, tetapi benar-benar berkeadaan benar.
Hal ini paralel dengan pemberian Kerajaan Surga. Kerajaan Surga diberikan dengan cuma-cuma tanpa harus berbuat baik, tetapi untuk hidup dalam Kerajaan Surga, harus memiliki perjuangan. Sebab seseorang tidak bisa memiliki dan menikmati Kerajaan Surga tanpa mengalami pembaharuan hidup atau perubahan kodrat. Harus ada perubahan dari kodrat dosa ke kodrat ilahi, atau perubahan karakter menjadi seperti Yesus. Ikan air laut tidak bisa hidup di air tawar kecuali kodrat ikan tersebut diubah. Memang mustahil bagi manusia, tetapi tidak mustahil bagi Allah.
Untuk itu, dituntut pengorbanan segenap hidup guna mengalami perubahan (Luk. 14:33). Harga Kerajaan Surga bagi Yesus adalah segenap hidup-Nya. Ia mengurbankan diri agar Kerajaan Surga bisa disediakan bagi orang percaya. Demikian juga bagi orang percaya, harga Kerajaan Surga adalah segenap hidup kita, bukan hanya meyakini bahwa Yesus sudah menyediakan Kerajaan Surga bagi kita. Orang yang menjadi anggota Kerajaan Surga, sejak di bumi harus sudah meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kalau seorang Kristen tidak meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, ia tidak akan pernah mewarisi Kerajaan Allah.
Jadi, sejatinya harga Kerajaan Surga bagi kita adalah segenap hidup kita. Dengan demikian, pada intinya, yang gratis adalah kesempatan atau potensi memiliki dan mengalami Kerajaan Surga itu. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, Kerajaan Surga tertutup rapat; tidak ada yang dapat membuka selain Yesus. Tetapi kalau kita tidak bersedia berjuang dengan segenap hidup sebagai harga yang harus dibayar, kita tidak akan pernah memiliki Kerajaan Surga. Yesus berkata: “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk. 12:31-34).
Demikian pula dengan perdamaian dengan Allah. Tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak ada pintu sama sekali untuk melakukan perdamaian dengan Allah. Tetapi isi dan maksud perdamaian tersebut bisa dialami dan dimiliki melalui perjuangan. Sama dengan kalau seseorang berdamai dengan musuhnya. Harus ada isi dan maksud perdamaian itu diadakan. Kalau hanya berdamai secara status tetapi tidak ada implikasinya, percuma mengadakan perdamaian. Demikian pula dengan Allah. Perdamaian bukan hanya membuat kita berstatus sebagai telah berdamai dengan Allah, melainkan dengan perdamaian tersebut, seseorang menjadi warga Kerajaan Surga yang juga menjadi sekutu Allah.
Seseorang tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah kalau tida...