Sekalipun kita dapat memberi seluruh harta kita, tanpa kasih, semua sia-sia. Ini berarti bahwa kasih itu bukan hanya memberi sesuatu kepada seseorang, tetapi tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah, karena Allah itu kasih. Kalau kita membantu seseorang hanya karena kasihan dan kita senang dengan perbuatan tersebut, berarti kita melakukan untuk diri sendiri. Ini juga berarti kita masih mempunyai kepentingan. Tetapi kalau kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Tuhan, maka kita menjadi gift, pemberian khusus dari Tuhan untuk orang sekitar kita. Siapa pun orang di sekitar kita, kita adalah gift dari Tuhan untuk mereka.
Tidak bisa tidak, dalam hidup ini kita harus memilih; apakah kita melakukan sesuatu untuk dan karena diri sendiri, atau untuk dan karena perasaan Allah. Kalau kita memberi hidup sepenuhnya bagi Allah, kita melakukan segala sesuatu hanya untuk kesukaan hati Allah. Untuk ini, kita tidak harus menjadi aktivis gereja, majelis, atau pendeta, tetapi dalam segala hal yang kita lakukan, selalu menyenangkan hati Bapa. Jangan sampai terjadi, menjadi aktivis gereja, majelis, bahkan pendeta, tetapi malah tidak menyukakan hati Allah.
Dari bangun pagi, kita sudah menghayati bahwa satu hari yang Tuhan berikan harganya tidak ternilai, yaitu kalau kita mengisi hari itu hanya untuk menyukakan perasaan-Nya. Harus diingat, bahwa baik orang kaya maupun orang miskin, berpendidikan atau tidak, pria atau wanita, orang terhormat di mata manusia atau tidak, memiliki kesempatan yang sama. Sama-sama memiliki satu hari yang tidak ternilai harganya. Banyak orang tidak menyadari hal ini, namun kalau sudah di ujung maut, baru mereka menyadari betapa berharganya satu hari itu. Dengan cara bagaimana pun, seseorang tidak bisa menambah satu hari umur hidupnya, dengan uang berapa pun.
Satu hal yang kita harus perkarakan adalah bagaimana kita menjadikan satu hari menjadi tidak ternilai harganya. Jawabnya adalah mengisi hari hidup ini dengan melakukan segala sesuatu untuk kesenangan hati Allah. Jika tidak demikian, benar-benar sebuah kehidupan yang tidak bernilai, kehidupan yang celaka. Jadi, 70-80 tahun umur hidup kita, harus menjadi sesuatu yang bernilai untuk kekekalan, sebab segala sesuatu yang kita lakukan sekarang ini di bumi menentukan keadaan kekekalan kita. Dengan demikian, satu hari yang kita miliki, harganya tidak ternilai, sebab memberi dampak atau akibat terhadap keadaan kekekalan kita di balik kubur.
Jika satu hari yang kita miliki benar-benar kita gunakan untuk menyenangkan hati Allah, maka hari itu menjadi hari yang luar biasa. Bukan hanya luar biasa untuk kita di bumi, tetapi juga luar biasa di Kerajaan Surga, baik sekarang ini maupun nanti. Kalau seseorang hidup suka-suka sendiri, ia harus membayarnya nanti di kekekalan, tentu dalam penderitaan kekal, yaitu terpisah dari hadirat Allah. Allah tidak akan bersama-sama dengan orang yang tidak menyukakan hati-Nya.
Kalau seseorang mau berjuang untuk dapat menyukakan hati Allah, ia harus memiliki tekad yang kuat, sebab menyukakan hati Allah bukan hal mudah. Seperti yang dilakukan oleh Yesus, harus melalui penderitaan. Tetapi penderitaan tersebut mendatangkan upah di kekekalan, yaitu kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, dapatlah diperoleh fakta sebagai hukum kehidupan bahwa hidup ini tidak gratis. Setiap orang harus menjalani jalan yang dikehendaki oleh Allah, dan memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Pengurbanan Yesus di kayu salib membuka ruangan pengadilan untuk semua manusia. Bagi mereka yang tidak mengenal Injil, dihakimi menurut perbuatan berdasarkan hukum yang mereka pahami atau taurat yang tertulis di hati mereka. Tetapi bagi orang percaya, standar hukum yang dikenakan adalah “berkenan di hadapan Allah.” Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 5:9-10 Paulus mengatakan, “Aku berusaha, baik aku diam dalam tubuh maupun di luarnya, supaya aku berkenan. Karena semua kita harus menghadap takhta pengadilan Kristus.