
Sign up to save your podcasts
Or


Seperti apakah hujan bagi Latiff, selain bunyi "tin-tin kosong berguling guling gu ling" (Wayang Pak Dalang, 1977) yang ditulis kemudiannya? Lebih awal, dalam kumpuisi Sungai Mekong (1972), Latiff memisalkan hujan kepada lagu – mengalir satu-satu di muka kaca pintu. Antara kelantangan ini ada jua keheningan, kaku seekor kupu-kupu antara batu-batu. Dan Latiff soal kita, ketika nada lagu makin lantang, kenapa kita tak berdansa? Memahami gusar dan soal-soal yang Pak Latiff timbulkan, Fajar memilih untuk memandang "Hujan" sebagai sebuah percakapan dengan diri sendiri yang sunyi, ketika melihat ia mengalir di kaca tingkap.
By maingayongSeperti apakah hujan bagi Latiff, selain bunyi "tin-tin kosong berguling guling gu ling" (Wayang Pak Dalang, 1977) yang ditulis kemudiannya? Lebih awal, dalam kumpuisi Sungai Mekong (1972), Latiff memisalkan hujan kepada lagu – mengalir satu-satu di muka kaca pintu. Antara kelantangan ini ada jua keheningan, kaku seekor kupu-kupu antara batu-batu. Dan Latiff soal kita, ketika nada lagu makin lantang, kenapa kita tak berdansa? Memahami gusar dan soal-soal yang Pak Latiff timbulkan, Fajar memilih untuk memandang "Hujan" sebagai sebuah percakapan dengan diri sendiri yang sunyi, ketika melihat ia mengalir di kaca tingkap.