Pelabuhan hidup adalah sesuatu yang membuat seseorang merasa aman, nyaman, lengkap, dan bahagia. Tidak sedikit orang yang berlabuh di pelabuhan yang salah sehingga terpenjara di situ. Padahal, pelabuhan satu-satunya yang harus dituju adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus Kristus inilah yang harus menjadi pelabuhan kita, yang sama dengan kekasih jiwa orang percaya. Demi kesetiaan dan kecintaan kepada Tuhan Yesus Kristus, orang percaya harus membuktikan dengan tindakan nyata dalam seluruh aspek kehidupannya. Pada zaman gereja mula-mula, Allah mengizinkan mereka mengalami aniaya yang begitu hebat. Dalam aniaya tersebut, terkesan Tuhan tidak membela mereka. Mereka harus mengorbankan harta, keluarga, ketenangan hidup, bahkan nyawa mereka sendiri. Dalam segala keadaan tersebut, mereka membuktikan kesetiaan dan kecintaan mereka kepada Tuhan Yesus (Luk. 14:26). Membuktikan cinta kepada Tuhan Yesus harus dengan berjuang menjadi seperti Yesus. Berani meninggalkan cara hidup dengan segala gairah dan kesenangan dunia, selanjutnya berusaha mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa untuk dilakukan. Inilah yang disebut mengingini Tuhan.
Kita harus merindukan dan mengingini Tuhan lebih dari kita merindukan dan mengingini apa pun dan siapa pun, karena memang Dia layak diperlakukan demikian. Kurang dari ini, berarti kita tidak bersikap pantas terhadap Tuhan. Ini berarti dunia sudah tidak lagi diharapkan dapat membahagiakan hidup; dunia sudah menjadi “kartu mati.” Untuk menunjukkan ekstremnya hubungan ini, Tuhan Yesus mengemukannya dalam Lukas 14:26, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ikatan dengan Tuhan adalah ikatan yang terdalam. Paulus mengatakan bahwa kita bisa menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Kalau sudah sampai pada level satu roh, ini berarti tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi ikatan antara kita dengan Tuhan. Ini sebuah ikatan yang melebihi ikatan dengan siapa pun dan apa pun. Ikatan dengan Tuhan haruslah sebuah ikatan dua pihak, bukan satu pihak.
Dalam sebuah relasi dan ikatan dua pihak, dibutuhkan sikap saling percaya. Itulah sebabnya, yang harus dipersoalkan dalam hal ini adalah: Apakah Tuhan bisa memercayai kita? Bukan hanya memercayai kuasa Tuhan dan mengalami mukjizat-Nya. Banyak orang cukup puas bila mengalami suatu kejadian yang spektakuler, seperti mukjizat. Hal itu sudah dianggap cukup menandai eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Padahal, yang penting bukanlah kejadian sesaat yang menunjukkan kehadiran Tuhan, melainkan sebuah ikatan yang terjalin setiap saat, dimana seseorang mengalami Tuhan dan sungguh-sungguh berjalan dengan Tuhan. Untuk ini, ikatan dengan Tuhan secara riil harus dirajut setiap saat. Ikatan ini membuat seseorang dapat melakukan kehendak Bapa setiap saat.
Terdapat perjuangan yang berat untuk menemukan, mengalami, dan memiliki secara permanen hubungan ini. Perjuangannya terletak ketika kita harus melepaskan segala ikatan dan kecintaan kita terhadap apa pun dan siapa pun, sehingga kita dapat menempatkan Tuhan Yesus sebagai pribadi yang paling berharga dan tercinta. Dalam tulisan yang lain, Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus seperti hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor. 11:2-3). Perjalanan hidup kita adalah perjalanan untuk menemukan, mengalami, dan memiliki hubungan unik, yaitu hubungan yang istimewa di bumi dengan Tuhan, juga di balik kubur nanti dan sampai selama-lamanya. Orang yang tidak memiliki hubungan eksklusif dengan Tuhan, tidak akan pernah menjadi sekutu Tuhan atau tidak akan bersama dengan Tuhan selamanya.
Oleh sebab itu, tidak dapat dibantah bahwa tanda-tanda keadaan kekal seseorang—apakah orang itu nantinya masuk surga atau masuk neraka—sudah tampak mulai sekarang. Ini adalah bentuk orang yang serius dengan Tuhan.