“Yesus yang lain” tidak mengajak orang percaya menderita, bahkan mengikut Yesus tidak perlu mengalami penderitaan. Namun, Yesus mengajak orang percaya untuk menderita bersama dengan Dia. Dalam Matius 20:23 tertulis, “Yesus berkata kepada mereka: ‘Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.’“Cawan yang dimaksud oleh Yesus adalah cawan penderitaan. Penderitaan mendatangkan kemuliaan. Jadi, semua orang percaya yang hendak dimuliakan bersama dengan Yesus pasti mengalami penderitaan.
Dalam 2Korintus 4:17-18 tertulis,“… Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”Kalimat penting yang kita harus perhatikan adalah “penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal.” Disingkapkan oleh Paulus adanya penderitaan yang “mengerjakan” kemuliaan kekal. Kita akan menggali maksud ayat ini sebab ayat ini merupakan mutiara kebenaran Firman Tuhan yang sangat berharga.
Dalam Roma 8:18, Paulus mengatakan bahwa penderitaan yang orang percaya alami hari ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kita alami nanti. Pernyataan ini menandaskan adanya penderitaan yang mendatangkan “kemuliaan.” Dengan pernyataan ini, Paulus hendak meneguhkan hati orang percaya agar tetap bertahan dalam penderitaan, agar kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang percaya yang setia tetap menjadi bagiannya. Dalam Roma 8:17, Alkitab berkata bahwa kita akan mewarisi janji-janji Allah yang akan kita terima bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Janji-janji itu adalah kemuliaan yang Bapa berikan kepada Tuhan Yesus dan orang percaya.
Kemuliaan kekal menunjuk kepada “kebahagiaan” atau kenyamanan hidup dalam keabadian. Memang sering hal ini menjadi komoditi para rohaniwan untuk mencari keuntungan dari umat—atau sejajar dengan penggunaan fakta neraka untuk mengancam umat supaya memberi perhatian kepada perkara-perkara rohani—dan ujungnya ternyata supaya “bisnis rohaniwan” tidak sepi. Namun, mereka tidak menunjukkan bagaimana cara memperoleh kemuliaan kekal itu. Kita banyak menjumpai para rohaniwan ini hanya memberikan syarat yang ringan, yang sebenarnya belum memenuhi kualifikasi syarat yang dikehendaki oleh Tuhan.
Salib yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah penderitaan demi keselamatan orang lain. Salib kita masing-masing juga kita pikul demi keselamatan sesama. Semua orang percaya harus memiliki salibnya sendiri. Tentu saja sebelum kita memikul salib, kita sendiri harus telah mengalami keselamatan. Sebenarnya kalau seseorang benar-benar mengalami keselamatan, ia pasti mengusahakan agar orang lain juga mengalami keselamatan. Orang seperti ini akan berani membayar berapa pun harganya, sebab nilai jiwa manusia lebih dari semua kekayaan dunia ini. Nilai jiwa manusia itu tidak terhingga. Orang yang sudah mengalami keselamatan akan mengisi hidupnya—selain terus berusaha mengerjakan keselamatannya, yaitu bagaimana menjadi anak Allah yang sempurna atau ideal—juga mengusahakan orang lain mengalami kesempurnaan. Untuk melakukan ini, semua milik dipertaruhkan atau dikurbankan: baik tenaga, waktu, pikiran, harta, dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan sebagai pengabdian kepada Tuhan.
Pengurbanan segenap hidup yang dipersembahkan oleh anak-anak Allah yang baik akan sampai pada taraf “menyakitkan.” Inilah prajurit yang baik, yang rela menderita demi tugas yang disandangnya. Penderitaan inilah yang dimaksud dengan salib kita masing-masing (Mat. 10:38). Penderitaan tersebut akhirnya menjadi kenikmatan dan kebanggaan. Paulus berkata bahwa ia bermegah dalam penderitaan salib (Gal. 6:14).