Di zaman Perjanjian Baru, Allah berkenan hadir dalam kehidupan manusia, dan secara pribadi, Allah berkenan berinteraksi dengan manusia. Itulah sebabnya, Yesus dijuluki sebagai Imanuel (Ἐμμανουήλ). Kata “imanuel” sebenarnya dari bahasa Ibrani imanu dan el (עִמָּנוּ אֵֽל). Imanu artinya bersama-sama, dengan, dan beserta. El merupakan bentuk tunggal dari Elohim; Allah. Jadi, “Imanuel” artinya Allah beserta atau dengan kita. Inilah julukan untuk Yesus, Sang Juruselamat, Anak dara Maria. Malaikat sendiri sebagai utusan Allah yang menyampaikan hal ini (Mat. 1:23). Kata Imanuel sebenarnya sangat luar biasa. Allah yang bertakhta di tempat yang Mahatinggi dan di terang yang tidak terhampiri, berkenan hadir dalam kehidupan individu untuk berinteraksi secara pribadi dengan manusia.
Anugerah yang begitu besar ini juga merupakan kehormatan yang luar biasa. Di balik kata “Imanuel” dalam Perjanjian Baru, ditunjukkan bahwa Allah berkenan menggelar keadaan dan ruangan di mana Allah hadir dalam pergumulan hidup manusia secara nyata. Pergumulan hidup yang di dalamnya Allah berkenan hadir adalah pergumulan hidup terkait dengan keselamatan, yaitu bagaimana manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula; yaitu manusia diubah untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Dalam hal ini, maksud kehadiran Allah dalam hidup manusia harus dipahami dengan benar. Kesalahan memahami maksud kehadiran Allah mengakibatkan manusia tidak mengalami kehadiran-Nya. Untuk ini, orang percaya harus benar-benar mengerti mengenai concern (kepedulian, urusan, perhatian) Allah dalam kehidupan umat pilihan. Inilah inti Injil, yaitu keselamatan, yaitu manusia diubahkan untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan-Nya, dimana Yesus adalah model manusia tersebut yang mutlak harus diteladani. Jika ada pengajaran yang tidak menekankan hal tersebut, berarti bukan Injil.
Di zaman Perjanjian Baru, orang percaya dapat memperoleh meterai Roh Kudus dan bisa hidup dalam perjumpaan dengan Allah setiap saat. Kalau di zaman Perjanjian Lama, hanya imam besar yang dapat menjumpai Allah. Perjumpaan imam besar dengan Allah setahun sekali di ruang Mahasuci bukanlah perjumpaan ideal yang Allah inginkan. Allah menghendaki sebuah keintiman sebagai Bapa dengan anak-anak-Nya. Dalam hal ini, dimungkinkan setiap individu orang percaya mengalami percakapan terus-menerus dengan Allah tiada henti dan tanpa batas. Interaksi dengan Allah dapat terjadi berlangsung setiap saat, di mana pun dan dalam segala hal. Itulah sebabnya firman Allah mengatakan: Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Ini berarti tidak ada wilayah dan tidak ada waktu dalam hidup orang percaya di luar kehadiran Allah. Namun, apakah seseorang mengalami kehadiran-Nya atau tidak, tergantung pada masing-masing individu.
Kita tidak harus melihat Allah secara fisik, baru percaya terhadap kehadiran-Nya. Kalau kita menuntut Allah menyatakan diri secara fisik dengan tanda-tanda nyata secara lahiriah, maka kita tidak belajar memiliki kepekaan dan ketajaman merasakan kehadiran Allah, atau hidup di hadirat-Nya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang tidak melihat tetapi percaya adalah orang-orang yang berbahagia (Yoh. 20:24-29). Tuhan menghendaki orang percaya dapat percaya kepada Tuhan walau tidak melihat. Dalam hal ini, seharusnya orang percaya berlatih untuk percaya dengan iman, bukan dengan penglihatan dan perasaannya sendiri. Orang percaya tidak boleh menggunakan indera jasmaninya untuk menangkap kehadiran Tuhan. Orang percaya harus belajar mengerti kehendak Tuhan dan menyerah terhadap setiap keadaan yang Tuhan izinkan harus dialaminya, walau sangat mungkin keadaan tersebut menyakitkan.
Tidak ada kejadian dan keadaan yang kita alami di luar kontrol Allah. Kita percaya Allah hadir, walau keadaan hidup kita tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. Banyak orang meragukan kehadiran Allah sebab keadaan hidupnya tidak sesuai dengan keinginannya meskipun ia sudah berdoa meminta per...