INI KOPER

INI KOPER

By Dani Wahyu MunggoroSociety & CultureRelationships
Download on the App Store

INI KOPER episodes

  • #414 Bongkar Rahasia Jurang Kaya Miskin ala Piketty

    Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa jurang antara si kaya dan si miskin terasa semakin lebar, bahkan di tengah kemajuan zaman? Ekonom Prancis Thomas Piketty, melalui mahakaryanya Capital in the Twenty-First Century, membongkar rahasia di baliknya dengan satu rumus sederhana namun kuat: r>g. Artinya, tingkat pengembalian modal (r) secara historis selalu tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi (g). Ini bukan sekadar teori, melainkan mesin utama yang secara otomatis mendorong konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang, di mana masa lalu—dalam bentuk modal warisan—secara perlahan "memakan" masa depan.

    Piketty menelusuri sejarah ketimpangan dalam kurva berbentuk U yang dramatis. Periode kesetaraan relatif di pertengahan abad ke-20 bukanlah hasil alami dari kemajuan, melainkan sebuah anomali yang disebabkan oleh guncangan dua Perang Dunia dan kebijakan pajak progresif yang radikal. Kini, kita menyaksikan kembalinya "kapitalisme patrimonial", di mana warisan sekali lagi menjadi penentu utama status sosial dan ekonomi. "Dilema Rastignac" dari novel Balzac kembali relevan: apakah lebih menguntungkan bekerja keras atau menikahi seorang ahli waris kaya? Fenomena ini mengancam nilai-nilai meritokrasi yang kita junjung tinggi.

    Karya Piketty memicu perdebatan global, menuai pujian sekaligus kritik tajam. Namun, di luar kontroversi, ia menawarkan solusi radikal untuk mengatur kapitalisme abad ke-21: pajak modal global yang progresif. Tujuannya bukan sekadar untuk mengisi kas negara, tetapi untuk mengendalikan spiral ketidaksetaraan yang tak berujung dan menciptakan transparansi keuangan global. Apakah ini sebuah utopia atau langkah penting untuk masa depan demokrasi? Dengarkan episode lengkapnya untuk memahami bagaimana dinamika ini membentuk dunia kita dan apa artinya bagi masa depan Anda.

    12 min
  • #413 Birokrat Paripurna vs. Birokrat Robot

    Dalam episode ini, kita akan menyelami transformasi krusial birokrasi Indonesia di tengah dinamika global yang tak terduga. Apakah birokrat hanya akan menjadi "robot" yang terikat regulasi, atau mampukah mereka berevolusi menjadi "birokrat paripurna" yang adaptif dan mampu "melakukan hal yang benar"? Kita akan membahas bagaimana pergeseran dari sekadar manajemen menuju kepemimpinan yang berlandaskan "olah roso"—kecerdasan emosional dan spiritual—menjadi kunci untuk menghadapi tantangan kompleks di era modern. Episode ini bersumber pada tulisan Wiratno, seorang birokrat, inovator konservasi dan pemikir berjudul Birokrasi Intelektual.  Naskah ini dipaparkan untuk ASN Baru dua tahun lalu.

    Pembahasan kita akan menyoroti bagaimana filosofi kepemimpinan tradisional Indonesia, seperti "Hasta Brata" dan Trilogi Ki Hajar Dewantara ("Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"), dapat disintesis dengan konsep kepemimpinan modern. Pendekatan "sistem hibrida" ini, yang memadukan sains modern dengan kearifan lokal, terbukti mampu menciptakan kebijakan publik yang tidak hanya efektif dan berkelanjutan, tetapi juga sangat relevan secara budaya, membangun legitimasi, dan kepercayaan publik.

    Bergabunglah bersama kami untuk memahami bagaimana integrasi intelektualitas, kearifan lokal, dan tata kelola adaptif dapat membentuk birokrasi masa depan yang berintegritas, responsif, dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa. Kita akan mengeksplorasi studi kasus nyata dan rekomendasi strategis untuk mewujudkan Aparat Sipil Negara yang tidak hanya efisien, tetapi juga menjadi pendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

    9 min
  • #412 Mengelola Kelompok yang Tidak Produktif

    Dalam episode podcast ini, kita akan menyelami tantangan umum dalam fasilitasi kelompok: ketidakproduktifan. Seringkali disalahpahami sebagai kegagalan individu, esai ini mengubah perspektif kita, mengungkap bahwa ketidakproduktifan sebenarnya adalah gejala dari dinamika kelompok yang lebih dalam. Kita akan membahas bagaimana faktor-faktor kontekstual, struktural, dan proses di dalam organisasi dapat secara fundamental menghambat kolaborasi yang efektif, menciptakan lingkungan di mana tujuan kelompok sulit tercapai.

    Pembahasan kita akan berlanjut dengan mengidentifikasi manifestasi nyata dari ketidakproduktifan ini. Dari siklus keluhan yang merusak suasana kelompok hingga arketipe interaksi disfungsional seperti 'Titik-Kontra-Titik' atau 'Oposisi Terselubung', kita akan belajar mengenali pola-pola yang menghambat kemajuan. Yang menarik, esai ini juga menyoroti bagaimana fasilitator sendiri, tanpa disadari, dapat berkontribusi pada masalah ini melalui tujuan yang tidak jelas atau salah kelola kekuasaan, menekankan pentingnya kesadaran diri dalam peran fasilitasi.

    Namun, bukan hanya tentang masalahnya. Esai ini juga menawarkan serangkaian intervensi strategis dan taktis yang komprehensif untuk membangun dan mempertahankan lingkungan fasilitasi yang produktif. Mulai dari penyelarasan metrik kinerja dan komposisi tim yang strategis, hingga teknik komunikasi real-time dan manajemen konflik, kita akan mengeksplorasi solusi praktis. Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa fasilitasi yang efektif adalah perjalanan berkelanjutan yang menuntut pengelolaan diri fasilitator, peningkatan kapasitas kelompok, dan komitmen teguh terhadap budaya adaptasi dan pembelajaran.

    8 min
  • #411 Membedah Negara sebagai Jaringan Raksasa Super Kompleks

    Negara. Satu kata yang membangkitkan citra bendera, istana presiden, dan tentara. Namun, di balik simbol-simbol itu, tersembunyi sebuah perjalanan sejarah dan pertarungan ide yang luar biasa. Dari polis di Yunani kuno hingga negara-bangsa modern, konsep ini telah menjadi arena bagi cita-cita termulia sekaligus tragedi tergelap dalam peradaban manusia. Negara bisa menjadi perwujudan kehendak rakyat, namun juga bisa menjadi monster Leviathan yang menelan individu.

    Berangkat dari sebuah esai tajam tentang hakikat negara, episode ini mengajak Anda untuk melakukan perjalanan intelektual. Kita akan membedah bagaimana gagasan tentang kedaulatan, hukum, dan kewarganegaraan dibentuk oleh revolusi, perang, dan pemikiran filsafat. Kita akan melihat bagaimana negara hadir dalam detail kehidupan kita, dari jalan raya yang kita lewati hingga data digital yang kita serahkan setiap hari.

    Di tengah era globalisasi dan krisis iklim, pertanyaan tentang peran negara menjadi semakin mendesak. Masihkah ia relevan? Atau kita sedang menyaksikan kelahirannya dalam bentuk yang baru? Diskusi ini adalah undangan untuk tidak hanya menjadi penghuni, tetapi juga pemikir yang sadar akan "rumah" besar bernama negara ini. Temukan analisis lengkapnya dan mari berpikir bersama kami.

    8 min
  • #410 Gerakan Anak Indonesia Bersaudara

    Menyongsong Indonesia Emas 2045, kita berdiri di sebuah titik krusial dalam sejarah bangsa. Visi besar untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur hanya dapat terwujud jika kita mempersiapkan fondasi utamanya: generasi penerus yang unggul. Anak-anak Indonesia hari ini, yang kita kenal sebagai Generasi Z dan Generasi Alpha, adalah pewaris sekaligus arsitek masa depan bangsa. Kekuatan Indonesia pada tahun 2045 tidak akan diukur semata dari kemajuan ekonomi atau teknologi, melainkan dari kekuatan karakter, ketangguhan mental, dan soliditas sosial anak-anak kita.

    Namun, di tengah derap kemajuan zaman, anak-anak kita dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Isu kekerasan, perundungan, krisis kesehatan mental, hingga risiko di dunia digital menjadi ancaman nyata yang dapat menggerus potensi terbaik mereka. Menjawab tantangan ini, negara tidak bisa tinggal diam. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dengan bangga menginisiasi sebuah gerakan nasional yang berakar pada kearifan luhur bangsa: "Anak Indonesia, Kita Bersaudara".

    Gerakan ini adalah sebuah panggilan, sebuah komitmen bersama untuk menanamkan lima nilai fundamental yang akan menjadi perisai sekaligus bekal bagi anak-anak kita: Berakhlak Mulia, Bahagia, Peduli, Cerdas, dan Solidaritas. Panduan ini dirancang sebagai peta jalan yang komprehensif bagi seluruh pemangku kepentingan—orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah—untuk bersinergi dalam membentuk Generasi Emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, luhur dalam budi pekerti, dan kokoh dalam semangat persaudaraan. Mari kita bergandengan tangan, karena masa depan bangsa ada di tangan anak-anak yang kita bimbing hari ini.

    8 min
  • #409 Jelajah Intelektual Memahami Apa itu Kehidupan

    Apa itu kehidupan? Pertanyaan ini, yang gaungnya telah melintasi lorong-lorong waktu, bukanlah sebuah teka-teki dengan jawaban tunggal, melainkan sebuah kanvas luas yang diisi dengan beragam corak pemikiran, dari goresan kuas para filsuf kuno hingga piksel-piksel tajam ilmu pengetahuan modern. Jauh dari sekadar definisi biologis tentang organisme yang mampu bereplikasi dan bermetabolisme, "kehidupan" adalah sebuah konsep yang berkelindan dengan makna, tujuan, dan kesadaran. Esai ini akan menjelajahi berbagai perspektif tentang kehidupan, sebuah mozaik pemikiran yang tidak dibingkai oleh satu kebenaran absolut, melainkan menyajikan panorama pemahaman yang kaya dan terkadang saling bertentangan.

    Secara fundamental, ilmu pengetahuan mendefinisikan kehidupan melalui serangkaian karakteristik: organisasi seluler, metabolisme, pertumbuhan, adaptasi, respons terhadap rangsangan, dan reproduksi. Dari amuba yang paling sederhana hingga paus biru yang megah, semua yang "hidup" berbagi ciri-ciri ini. Definisi ini, meskipun akurat secara empiris, terasa hampa ketika dihadapkan pada pertanyaan "mengapa?". Ia menjelaskan "bagaimana" kehidupan beroperasi, tetapi bungkam tentang "apa" esensinya.

    Di sinilah filsafat mengambil alih, menawarkan narasi-narasi yang mencoba mengisi kekosongan makna tersebut. Para filsuf Yunani kuno meletakkan dasar bagi banyak perdebatan yang masih relevan hingga hari ini. Plato, dengan dunianya yang berupa "idea", memandang kehidupan di bumi sebagai bayang-bayang dari bentuk yang lebih sempurna dan abadi. Bagi Plato, kehidupan adalah sebuah perjalanan untuk mengingat dan kembali kepada esensi sejati. Muridnya, Aristoteles, membawa fokus kembali ke dunia inderawi. Baginya, setiap makhluk hidup memiliki telos atau tujuan inheren. Tujuan hidup manusia, menurut Aristoteles, adalah mencapai eudaimonia, sebuah keadaan sejahtera dan berkembang yang sering diterjemahkan sebagai "kebahagiaan" atau "berkembang secara utuh," yang dicapai melalui kehidupan yang bajik dan rasional.

    Seiring berjalannya waktu, pertanyaan tentang makna hidup menjadi semakin personal dan eksistensial. Abad ke-19 dan ke-20 melahirkan aliran eksistensialisme, yang dengan tegas menyatakan bahwa "eksistensi mendahului esensi." Tidak seperti Aristoteles yang percaya pada tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, para eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa manusia terlahir ke dalam dunia tanpa tujuan yang inheren. Kita "dikutuk untuk bebas," yang berarti kita bertanggung jawab penuh untuk menciptakan makna dan nilai bagi kehidupan kita sendiri melalui pilihan dan tindakan kita.

    Sebuah cabang dari pemikiran ini adalah absurdisme, yang dipopulerkan oleh Albert Camus. Camus menggambarkan kondisi manusia sebagai sesuatu yang absurd—sebuah benturan antara hasrat kita akan makna dan keteraturan dengan alam semesta yang dingin, sunyi, dan acuh tak acuh. Dalam esainya yang terkenal, "Mitos Sisifus," Camus menggunakan sosok mitologis yang dikutuk untuk selamanya mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali, sebagai metafora kehidupan manusia. Namun, bagi Camus, kesadaran akan absurditas ini bukanlah alasan untuk putus asa atau bunuh diri. Sebaliknya, ia adalah sebuah undangan untuk memberontak. Dengan merangkul absurditas nasibnya dan menemukan kepuasan dalam perjuangan itu sendiri, Sisifus menjadi pahlawan absurd. Makna hidup, dalam pandangan ini, tidak ditemukan dalam tujuan akhir, tetapi dalam pemberontakan yang gigih dan sadar terhadap ketiadaan makna.

    Di sisi lain spektrum, humanisme menawarkan visi yang lebih optimis. Kaum humanis, seperti para eksistensialis, menolak gagasan tentang takdir ilahi atau kosmik. Namun, alih-alih berfokus pada absurditas, mereka menekankan potensi manusia untuk mencapai aktualisasi diri, kebahagiaan, dan kehidupan yang etis melalui akal, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow, dengan hierarki kebutuhannya, menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia secara alami akan mencari pertumbuhan pribadi, kreativitas, dan pemenuhan diri. Dari perspektif ini, kehidupan adalah sebuah kesempatan untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan untuk berkontribusi pada kebaikan umat manusia.

    Tentu saja, tidak ada eksplorasi tentang makna hidup yang lengkap tanpa mempertimbangkan perspektif budaya dan spiritual yang telah membentuk peradaban selama ribuan tahun. Agama-agama besar di dunia, seperti Yudaisme, Kristen, dan Islam, secara tradisional mengajarkan bahwa kehidupan adalah anugerah dari Tuhan dan memiliki tujuan ilahi. Dalam kerangka ini, makna ditemukan dalam pengabdian, kepatuhan pada ajaran suci, dan janji akan kehidupan setelah kematian. Perspektif ini memberikan kerangka moral dan rasa kepastian di tengah ketidakpastian eksistensi.

    Pada akhirnya, esai tentang "Apa itu Kehidupan" tidak dapat ditutup dengan sebuah kesimpulan yang rapi. Ia adalah sebuah pertanyaan terbuka yang setiap individu dan setiap generasi harus jawab untuk dirinya sendiri. Apakah kehidupan adalah sebuah perjalanan biologis, pencarian filosofis, pemberontakan absurd, proyek aktualisasi diri, atau sebuah ziarah spiritual? Mungkin, kehidupan adalah semua itu sekaligus—sebuah mozaik yang rumit dan terus berubah, yang keindahannya justru terletak pada keragamannya yang tak terbatas dan ketiadaan bingkai yang membatasinya. Makna hidup bukanlah sesuatu yang kita temukan, melainkan sesuatu yang kita ciptakan, setiap hari, dengan setiap pilihan yang kita buat, dalam tarian abadi antara eksistensi dan esensi.

    9 min
  • #408 Gamestorming: Panduan Praktis bagi Kreator

    Selamat datang di episode terbaru kami, di mana kita akan membahas sebuah metodologi yang mengubah cara kita berinovasi: Gamestorming. Di era pengetahuan saat ini, metode kerja tradisional yang diwariskan dari zaman industri seringkali gagal memicu kreativitas dan terobosan yang kita butuhkan. Proses yang kaku dan terprediksi justru menghambat penemuan. Gamestorming hadir sebagai "buku pedoman untuk para inovator," menawarkan kerangka kerja sistematis untuk menavigasi ambiguitas dan memecahkan masalah kompleks melalui permainan yang terstruktur. Dalam episode ini, kita akan mengupas tuntas apa itu Gamestorming dan mengapa pendekatan ini menjadi sistem operasi yang sangat dibutuhkan untuk inovasi di dunia bisnis modern.

    Lalu, apa yang membedakan 'permainan' dalam Gamestorming dari sekadar 'bermain'? Kita akan mendalami anatomi sebuah permainan—mulai dari ruang permainan yang aman, batasan yang jelas, aturan interaksi, hingga artefak fisik seperti sticky notes yang mengubah ide abstrak menjadi objek nyata. Struktur inilah yang menciptakan keamanan psikologis bagi tim untuk bereksperimen, mengambil risiko, dan bahkan gagal tanpa konsekuensi di dunia nyata. Pendekatan ini sangat efektif untuk menghadapi "tujuan samar" (fuzzy goals), di mana tujuan akhir tidak sepenuhnya jelas, memungkinkan penemuan tak terduga yang seringkali menjadi cikal bakal inovasi sejati.  

    Terakhir, kami akan memberikan panduan praktis tentang bagaimana Anda bisa mulai menerapkan Gamestorming. Kami akan membahas struktur tiga babak yang fundamental dalam setiap sesi—Membuka, Menjelajahi, dan Menutup—sebuah ritme yang mengelola energi kelompok dan mengoptimalkan hasil dari pemikiran divergen hingga konvergen. Kami juga akan menyoroti keterampilan inti yang dibutuhkan, mulai dari seni mengajukan pertanyaan yang tepat hingga kekuatan bahasa visual dan improvisasi. Dengarkan episode ini untuk mendapatkan wawasan dan alat yang dapat ditindaklanjuti untuk mengubah rapat Anda dari diskusi yang membosankan menjadi sesi inovasi yang dinamis dan produktif.  

    8 min
  • #407 Sinergi Meritokrasi dan Manajemen Talenta serta Pola Karir

    Selamat datang di episode kali ini, di mana kita akan membahas sebuah isu krusial dalam reformasi birokrasi: bagaimana kita mengubah unit pengembangan SDM dari sekadar pelaksana administratif menjadi arsitek talenta yang strategis? Di tengah tantangan tata kelola lingkungan dan kehutanan yang semakin kompleks, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memerlukan birokrat yang unggul. Fokus kita adalah pada Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, sebuah unit dengan potensi besar yang perannya perlu dioptimalkan agar menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan kinerja kementerian.

    Dalam diskusi ini, kita akan mengupas kerangka kerja transformasi BP2SDM yang berlandaskan pada dua pilar utama: meritokrasi dan manajemen talenta. Meritokrasi menjadi fondasi untuk memastikan setiap keputusan terkait karier ASN didasarkan pada kompetensi dan kinerja secara adil. Sementara itu, manajemen talenta menjadi strategi proaktif untuk menemukan, mengembangkan, dan mempertahankan individu-individu terbaik. Kami akan membedah langkah-langkah konkretnya, mulai dari mengubah pelatihan generik menjadi pengembangan individu yang terpersonalisasi hingga membentuk talent review board di tingkat pimpinan.

    Pada akhirnya, penguatan peran BP2SDM bukanlah sekadar perbaikan prosedur kepegawaian, melainkan sebuah investasi strategis untuk masa depan tata kelola lingkungan Indonesia. Dengan menempatkan talenta terbaik di posisi yang tepat melalui proses yang transparan, Kemenhut akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Lebih dari itu, model transformasi ini bisa menjadi cetak biru bagi kementerian dan lembaga lain dalam mewujudkan cita-cita birokrasi berkelas dunia. Mari simak pembahasannya lebih lanjut.

    10 min
  • #406 Migrasi ke Bintang-Bintang : Visi Gila Fisikawan Michio Kaku

    Pernahkah Anda menatap langit malam dan bertanya-tanya tentang takdir umat manusia di antara bintang-bintang? Menurut fisikawan visioner Dr. Michio Kaku, kita berada di ambang transisi terbesar dalam sejarah: dari sekadar pengamat pasif alam semesta menjadi koreografer aktifnya. Didorong oleh keniscayaan untuk bertahan hidup dari ancaman kepunahan yang tak terhindarkan—mulai dari asteroid hingga kematian matahari kita sendiri—perjalanan kita ke kosmos bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Dalam episode ini, kita akan menyelami visi Kaku yang menakjubkan, mengeksplorasi mengapa "polis asuransi" kosmik ini sangat penting untuk kelangsungan hidup jangka panjang kita.  

    Perjalanan monumental ini dimungkinkan oleh konvergensi tiga revolusi ilmiah yang akan mendefinisikan abad ke-21: revolusi Komputer, Biomolekuler, dan Kuantum. Bayangkan robot-robot cerdas yang membangun kota-kota di Mars, ditenagai oleh kecerdasan buatan yang canggih. Pikirkan tentang bagaimana kita harus merekayasa ulang biologi kita sendiri—memperpanjang hidup, meningkatkan indra, dan bahkan menghubungkan pikiran kita ke dalam "Brain Net"—untuk bertahan dalam perjalanan antarbintang yang panjang. Dan bersiaplah untuk sistem propulsi revolusioner seperti kapal nano yang ditenagai laser dan mesin fusi yang akan membawa kita melintasi galaksi dengan kecepatan yang tak terbayangkan.  

    Namun, saat kita meraih kekuatan layaknya dewa ini, kita juga dihadapkan pada pertanyaan mendalam tentang kemanusiaan kita. Bagaimana kita menyeimbangkan potensi tak terbatas dari transhumanisme dengan "Prinsip Manusia Gua" kita yang kuno—keinginan bawaan kita untuk koneksi dan komunitas? Akankah kita berevolusi menjadi peradaban galaksi Tipe III, yang mampu memanfaatkan energi seluruh bintang, atau bahkan belajar melarikan diri dari alam semesta kita yang sekarat? Bergabunglah bersama kami saat kami mengurai peta jalan Kaku untuk masa depan, sebuah perjalanan epik dari buaian kita di Bumi menuju takdir kita di antara bintang-bintang.  

    9 min
  • #405 Kepemimpinan Positif: Membangun Pengaruh dari Dalam Diri

    Bagaimana seorang pemimpin bisa menjadi sumber harapan di tengah badai disrupsi? Jawabannya terletak pada pergeseran fundamental ke dalam diri. Esai ini mengeksplorasi kembali relevansi kerangka "See, Say, Do" dari Lead Positive, sebuah pendekatan yang mengajak kita untuk secara sadar memilih lensa positif (Asset-Based Thinking) dalam memandang setiap tantangan, mulai dari AI hingga dinamika tim.

    Dari sekadar mengelola, kita beralih ke menginspirasi. "See" mengajarkan kita melihat aset di balik masalah. "Say" menantang kita untuk berkomunikasi dengan Substance, Sizzle, dan Soul—menyampaikan tujuan yang tulus bahkan di ruang virtual. Sementara "Do" mendorong kita untuk bertindak responsif, menciptakan lingkungan kerja di mana tim merasa aman, dihargai, dan bersemangat untuk beradaptasi.

    Mari kita adopsi sebuah kepemimpinan yang regeneratif, yang tidak menghabiskan energi tetapi justru membangkitkannya. Dengan mempraktikkan "See, Say, Do", kita bisa membangun pengaruh yang otentik dan berkelanjutan, menciptakan tim yang tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang di tengah kompleksitas dunia modern.

    7 min

About INI KOPER

From the publisher's feed

INIKOPER percaya berbagi pengetahuan dan cerita apa saja, pasti bermanfaat bagi komunitas perubahan. Perubahan selalu dimulai dari diri sendiri, organisasi dan pada akhir sistim. Jadikan bumi lebih…