Banyak orang hanya memahami Injil sekadar “kabar baik” tanpa memahami isi dan maksud kabar baik tersebut. Tentu pengertian “baik” harus dilihat dari perspektif atau sudut pandang Allah, bukan perspektif mana pun. Untuk memahami yang baik menurut Allah, kita harus mengerti rencana Allah dalam proses keselamatan dalam Yesus Kristus. Kalau seseorang membangun pengertian “baik” sesuai dengan pikirannya sendiri, maka keselamatan dalam Yesus Kristus tidak akan pernah dialami dan tidak pernah dimiliki. Ini berarti gagal menerima kasih karunia. Dalam hal ini, bisa dimengerti betapa pentingnya pengertian Injil yang benar. Menurut Allah, yang baik adalah keselamatan. Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah untuk memulihkan manusia agar segambar dengan diri-Nya atau sesuai dengan rancangan-Nya semula. Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16-17).
Kalau pengertian “baik” diukur dengan ukuran berkat jasmani, yaitu dimana kebutuhan jasmani terpenuhi, itu berarti orang tersebut tidak mengerti Injil yang benar. Kalau pikiran disesatkan, maka seluruh kehidupannya juga sesat, sebab pikiran memainkan peranan yang penting dalam kehidupan seseorang, termasuk sikap hatinya. Pikiran yang salah membentuk sikap hati yang salah juga. Kalau seseorang tidak mengenal Injil yang benar, berarti ia tidak akan dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar. Menerima Yesus sebagai Juruselamat berarti setelah mengakui kurban-Nya di kayu salib, ia juga harus memberi diri untuk diubah. Menerima Dia sebagai Tuhan artinya bersedia tunduk kepada kehendak-Nya atau jalan pikiran-Nya, dan rencana-Nya. Untuk tunduk kepada Tuhan Yesus, kita harus mengerti kehendak-Nya dengan tepat.
Dalam Matius 11:5, Yesus menyampaikan pernyataan-Nya bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dari pernyataan Yesus ini, secara logis dapat dikatakan bahwa orang buta membutuhkan mata, orang lumpuh membutuhkan kaki yang kuat untuk dapat berjalan, orang kusta membutuhkan pentahiran atas kulitnya yang teridap kusta, orang tuli membutuhkan pendengaran, dan orang mati membutuhkan jantung yang berdetak dan nadi yang berdenyut. Tetapi bagaimana dengan orang miskin? Jawaban logisnya adalah uang atau kekayaan. Dan inilah yang dipromosikan besar-besaran dewasa ini, sehingga hal ini memicu jemaat menjadikan Yesus sebagai Juruselamat duniawi. Benarkah bahwa isi kabar baik itu adalah kekayaan di dunia ini? Ternyata bukan. Dalam perspektif Allah, kebutuhan utama orang miskin bukanlah harta.
Tidak sedikit orang Kristen yang mencari Tuhan hanya untuk pemulihan ekonomi, tubuh sehat, keluarga bahagia, pekerjaan baik dan lancar, jodoh sesuai idaman, memiliki keturunan yang baik, dan perkara fana lain. Sudah tentu, Tuhan bisa memberikan pemulihan atas hal-hal tersebut karena Ia terlalu sanggup, dan Tuhan juga sebenarnya berkenan memulihkan keadaan kehidupan jasmani umat-Nya, asal dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya. Tuhan menghendaki agar kita memberi perhatian kepada apa yang menjadi maksud keselamatan diberikan. Bila Injil yang diberitakan hanya bermaksud mengangkat manusia dari masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, pada dasarnya itu adalah penyesatan. Akhirnya, bisa memunculkan pemikiran bahwa filsafat atau agama lain pun juga dapat menjawab kebutuhan inti manusia. Padahal, hanya Yesus yang dapat menjawab kebutuhan inti manusia.
Dalam 2 Korintus 11:2-4, ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “injil yang lain.” Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Kuasa kegelapan langsung menyerang ke jantung gereja. Ternyata Iblis bisa menyelenggarakan pemberitaan Firman Allah yang palsu yang dilegalisir sebagai “suara Tuhan.” Kenyataan seperti ini selalu ada dalam sejarah kehidupan uma...