
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Pemilihan presiden Amerika Serikat ke 46 akan berlangsung sebentar lagi. Bagaimana pandangan negara-negara timur tengah, terutama Iran terhadap pemilu kali ini?
Para pakar menganalisis bahwa kedua kandidat presiden Negeri Paman Sam memiliki ide-ide mereka tersendiri, terutama dalam menyelesaikan permasalahan Iran.
Kelompok garis keras tentu berharap Donald Trump dapat kembali memenangkan pemilu, sehingga hubungan Amerika Serikat dengan Iran akan semakin memanas.
Pendukung Joe Biden sebaliknya berharap jika kemenangan Beliau dalam pemilu AS kali ini dapat meringankan kesulitan ekonomi warga Iran.
Namun demikian, Amerika Serikat memiliki kebijakan yang konsisten; siapa pun yang terpilih, cakupan perubahannya mungkin akan sangat terbatas.
Sikap Permusuhan Donald Trump Meningkatkan Ketegangan AS-Iran
Semenjak menang dalam pemilu tahun 2016, Donald Trumo telah memperlihatkan sikap permusuhan terhadap otoritas Iran. Salah satunya adalah menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran "Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)", dan menetapkan kembali sanksi perekonomian terhadap Iran.
Hal tersebut disinyalir memukul berat perekonomian masyarakat Iran.
Di samping itu, Amerika Serikat juga kian memperlihatkan tindakan-tindakan kontroversi berikutnya; misal mendorong negara-negara Arab lainnya untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan menggunakan pesawat tak berawak untuk membunuh Komandan Qassem Soleimani.
Aksi Negeri Paman Sam tersebut telah meningkatkan permusuhan dan ketegangan antar kedua negara.
Otoritas Iran tidak terlalu menanggapi akan sosok siapa yang akan terpilih dalam pemilu Amerika Serikat tahun ini. Ketua Majelis Nasional Iran, Baqer Qalibaf, mengatakan kepada Kongres setempat bahwa kemenangan Donald Trump atau Joe Biden tidak ada bedanya.
Permusuhan kedua negara sangat mengakar dan kebijakan Amerika Serikat tidak akan pernah berubah, yakni akan selalu merugikan Iran.
Iran Dianggap Telah Mencampuri Pemilu AS
Amerika Serikat sebelumnya juga telah berulang kali menuding otoritas Iran berniat mencampuri pemilu AS.
Pada tanggal 15 Agustus 2020 silam, Donald Trump menuduh Iran dan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) berniat untuk memenangkan Joe Biden memenangkan pemilu AS mendatang.
Kepala The Office of the National Counterintelligence Executive (ONCIX), Wiliiam Evanina menyampaikan kepada media BBC, bahwa Rusia, RRT dan Iran berupaya menggunakan pengaruh publik untuk mempengaruhi pemilu AS secara diam-diam.
Hal ini bukan lain adalah untuk memecah belah suara Amerika Serikat.
William Evanina menambahkan, otoritas Teheran jelas tidak ingin Donald Trump terpilih kembali. Jika lelaki berusia 74 tahun tersebut kembali memenangkan pemilu, maka akan membuat Amerika Serikat terus menekan Iran, yang dicemaskan akan berbuntut pada perubahan rezim.
Media Twitter menyuitkan, bahwa selama debat pertama Amerika Serikat yang berlangsung pada akhir bulan September lalu, mereka telah bekerja sama dengan FBI untuk menghapus 130 akun bermasalah yang disinyalir berasal dari Iran.
Iran yang Lebih Mendukung Joe Biden
Menurut survei yang digelar oleh otoritas Iran memperlihatkan, bahwa publik dan para elit setempat menaruh perhatian mendalam terhadap perkembangan pemilu Amerika Serikat.
Iranian Students Polling Agency menyampaikan, tiga perempat warga di Iran diketahui mengikuti perihal pemilu AS melalui media internet. Jajak pendapat lainnya juga memperlihatkan tendensi serupa, yakni 96% warga Iran mengikuti perkembangan berita pemilu Negeri Paman Sam.
Pakar mengemukakan bahwa sebagian besar warga Iran berharap Joe Biden dapat memenangkan pemilu mendatang. Apalagi petinggi partai Demokrat tersebut merupakan Wakil Presiden di era pemerintahan Barack Obama, yang juga menjadi saksi dari penandatanganan perjanjian penting dengan otoritas Iran.
Joe Biden juga sempat mengujar, jika terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat berikutnya, Beliau akan segera kembali kepada perjanjian nuklir Iran.
Koresponden media The Independent, Borzou Daragahi menyampaikan, Joe Biden merupakan pribadi yang akrab dengan permasalahan Timur Tengah. Tidak seperti Donald Trump, Joe Biden telah mengunjungi kawasan Timur Tengah secara ekstensif.
Hal ini dapat terlihat dari perkataan "Insya Allah" yang ia lontarkan dalam debat capres pertama pada bulan September silam.
Harian Timur Tengah, Sharq mewartakan, kemenangan Joe Biden akan mengurangi tekanan ekonomi di kawasan Iran.
"Dibandingkan dengan Partai Republik, langkah yang diambil Partai Demokrat akan lebih lembut."
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan, ROC) --- Pemilihan presiden Amerika Serikat ke 46 akan berlangsung sebentar lagi. Bagaimana pandangan negara-negara timur tengah, terutama Iran terhadap pemilu kali ini?
Para pakar menganalisis bahwa kedua kandidat presiden Negeri Paman Sam memiliki ide-ide mereka tersendiri, terutama dalam menyelesaikan permasalahan Iran.
Kelompok garis keras tentu berharap Donald Trump dapat kembali memenangkan pemilu, sehingga hubungan Amerika Serikat dengan Iran akan semakin memanas.
Pendukung Joe Biden sebaliknya berharap jika kemenangan Beliau dalam pemilu AS kali ini dapat meringankan kesulitan ekonomi warga Iran.
Namun demikian, Amerika Serikat memiliki kebijakan yang konsisten; siapa pun yang terpilih, cakupan perubahannya mungkin akan sangat terbatas.
Sikap Permusuhan Donald Trump Meningkatkan Ketegangan AS-Iran
Semenjak menang dalam pemilu tahun 2016, Donald Trumo telah memperlihatkan sikap permusuhan terhadap otoritas Iran. Salah satunya adalah menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran "Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)", dan menetapkan kembali sanksi perekonomian terhadap Iran.
Hal tersebut disinyalir memukul berat perekonomian masyarakat Iran.
Di samping itu, Amerika Serikat juga kian memperlihatkan tindakan-tindakan kontroversi berikutnya; misal mendorong negara-negara Arab lainnya untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan menggunakan pesawat tak berawak untuk membunuh Komandan Qassem Soleimani.
Aksi Negeri Paman Sam tersebut telah meningkatkan permusuhan dan ketegangan antar kedua negara.
Otoritas Iran tidak terlalu menanggapi akan sosok siapa yang akan terpilih dalam pemilu Amerika Serikat tahun ini. Ketua Majelis Nasional Iran, Baqer Qalibaf, mengatakan kepada Kongres setempat bahwa kemenangan Donald Trump atau Joe Biden tidak ada bedanya.
Permusuhan kedua negara sangat mengakar dan kebijakan Amerika Serikat tidak akan pernah berubah, yakni akan selalu merugikan Iran.
Iran Dianggap Telah Mencampuri Pemilu AS
Amerika Serikat sebelumnya juga telah berulang kali menuding otoritas Iran berniat mencampuri pemilu AS.
Pada tanggal 15 Agustus 2020 silam, Donald Trump menuduh Iran dan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) berniat untuk memenangkan Joe Biden memenangkan pemilu AS mendatang.
Kepala The Office of the National Counterintelligence Executive (ONCIX), Wiliiam Evanina menyampaikan kepada media BBC, bahwa Rusia, RRT dan Iran berupaya menggunakan pengaruh publik untuk mempengaruhi pemilu AS secara diam-diam.
Hal ini bukan lain adalah untuk memecah belah suara Amerika Serikat.
William Evanina menambahkan, otoritas Teheran jelas tidak ingin Donald Trump terpilih kembali. Jika lelaki berusia 74 tahun tersebut kembali memenangkan pemilu, maka akan membuat Amerika Serikat terus menekan Iran, yang dicemaskan akan berbuntut pada perubahan rezim.
Media Twitter menyuitkan, bahwa selama debat pertama Amerika Serikat yang berlangsung pada akhir bulan September lalu, mereka telah bekerja sama dengan FBI untuk menghapus 130 akun bermasalah yang disinyalir berasal dari Iran.
Iran yang Lebih Mendukung Joe Biden
Menurut survei yang digelar oleh otoritas Iran memperlihatkan, bahwa publik dan para elit setempat menaruh perhatian mendalam terhadap perkembangan pemilu Amerika Serikat.
Iranian Students Polling Agency menyampaikan, tiga perempat warga di Iran diketahui mengikuti perihal pemilu AS melalui media internet. Jajak pendapat lainnya juga memperlihatkan tendensi serupa, yakni 96% warga Iran mengikuti perkembangan berita pemilu Negeri Paman Sam.
Pakar mengemukakan bahwa sebagian besar warga Iran berharap Joe Biden dapat memenangkan pemilu mendatang. Apalagi petinggi partai Demokrat tersebut merupakan Wakil Presiden di era pemerintahan Barack Obama, yang juga menjadi saksi dari penandatanganan perjanjian penting dengan otoritas Iran.
Joe Biden juga sempat mengujar, jika terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat berikutnya, Beliau akan segera kembali kepada perjanjian nuklir Iran.
Koresponden media The Independent, Borzou Daragahi menyampaikan, Joe Biden merupakan pribadi yang akrab dengan permasalahan Timur Tengah. Tidak seperti Donald Trump, Joe Biden telah mengunjungi kawasan Timur Tengah secara ekstensif.
Hal ini dapat terlihat dari perkataan "Insya Allah" yang ia lontarkan dalam debat capres pertama pada bulan September silam.
Harian Timur Tengah, Sharq mewartakan, kemenangan Joe Biden akan mengurangi tekanan ekonomi di kawasan Iran.
"Dibandingkan dengan Partai Republik, langkah yang diambil Partai Demokrat akan lebih lembut."