
Sign up to save your podcasts
Or


Jenang Waluyo 爪哇人文化傳承的椰糖糯米麻糬 Part 1
Selamat datang di acara JK acaranya Maria Sukamto, apa kabar para kuliner lovers. Hari ini kita berjenang ria dengan penulis keren dan juga pencinta boga sekaligus tukang masak yang lihai secara diam-diam. Nah. Ada kejutan apa hari ini. yuk kita simak suratnya tentang jenang.
Manusia selalu berdampingan dengan makanan, entah itu dalam keadaan suka maupun duka. Dan bahkan sampai pada sebuah kematian makanan selalu disajikan. Beberapa filsuf sering menyebut kaliamat hidup untuk makan, melainkan makan untuk hidup. Berbagai simbol disematkan pada sebuah hidangan makanan, baik pada simbol nasionalisme, keagamaan, dan tentu saja simbol budaya. Hingga pada suatu kesimpulan manusia takkan lepas dari makanan.
Berangkat dari cerita Jurnal Maria tentang makanan tradisional pengingat masa kecil, saya sebagai pendengar tertarik untuk mengangkat makanan tradisional dari budayaku sendiri. Makanan ini membuat banyak orang minder untuk membuatnya, sebab apa? Ya makanan ini dibuat dengan penuh ketelitian dan kesabaran. Layaknya seorang Jawa yang katanya penuh kesabaran, ketelatenan dan ketelitian. Begitulah makanan ini dibuat sebagai hadiah bangsa Jawa untuk dunia dan anak cucunya. Makanan tersebut bernama jenang, makanan yang masuk dalam katagori kudapan manis. Makanan manis ini biasanya tersaji pada acara-acara besar seperti pesta khitanan (sunatan) dan acara perkawinan. Bahkan bukan acara besar juga, kadang-kadang ada yang membuatnya sebagai oleh-oleh untuk sanak keluarga tercinta baik di kota maupun di luar pulau.
By Maria Sukamto, RtiJenang Waluyo 爪哇人文化傳承的椰糖糯米麻糬 Part 1
Selamat datang di acara JK acaranya Maria Sukamto, apa kabar para kuliner lovers. Hari ini kita berjenang ria dengan penulis keren dan juga pencinta boga sekaligus tukang masak yang lihai secara diam-diam. Nah. Ada kejutan apa hari ini. yuk kita simak suratnya tentang jenang.
Manusia selalu berdampingan dengan makanan, entah itu dalam keadaan suka maupun duka. Dan bahkan sampai pada sebuah kematian makanan selalu disajikan. Beberapa filsuf sering menyebut kaliamat hidup untuk makan, melainkan makan untuk hidup. Berbagai simbol disematkan pada sebuah hidangan makanan, baik pada simbol nasionalisme, keagamaan, dan tentu saja simbol budaya. Hingga pada suatu kesimpulan manusia takkan lepas dari makanan.
Berangkat dari cerita Jurnal Maria tentang makanan tradisional pengingat masa kecil, saya sebagai pendengar tertarik untuk mengangkat makanan tradisional dari budayaku sendiri. Makanan ini membuat banyak orang minder untuk membuatnya, sebab apa? Ya makanan ini dibuat dengan penuh ketelitian dan kesabaran. Layaknya seorang Jawa yang katanya penuh kesabaran, ketelatenan dan ketelitian. Begitulah makanan ini dibuat sebagai hadiah bangsa Jawa untuk dunia dan anak cucunya. Makanan tersebut bernama jenang, makanan yang masuk dalam katagori kudapan manis. Makanan manis ini biasanya tersaji pada acara-acara besar seperti pesta khitanan (sunatan) dan acara perkawinan. Bahkan bukan acara besar juga, kadang-kadang ada yang membuatnya sebagai oleh-oleh untuk sanak keluarga tercinta baik di kota maupun di luar pulau.