Di balik kata “seperti Allah,” ada unsur kesombongan yang luar biasa. Kesombongan atau keangkuhan ini merupakan sikap yang ditentang atau dilawan oleh Allah. Ini termasuk dosa yang terutama. Dalam surat Yakobus tertulis: Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yak. 4:6). Kata “menentang” di sini dalam teks aslinya adalah antitasetai (ἀντιτάσσεται) yang artinya menentang, melawan, atau menolak. Terkait dengan hal ini, setan membujuk Daud melakukan tindakan yang berkategori meninggikan diri atau sombong, yaitu ketika Daud bermaksud menghitung jumlah rakyat dan tentaranya. Dalam 1 Tawarikh 21:1 tertulis: “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” Dalam hal ini, dapat diperoleh kebenaran bahwa orang yang melakukan kesombongan atau meninggikan diri adalah orang yang terbujuk oleh setan. Ternyata modus Iblis menjatuhkan manusia tidak berubah, yaitu tidak mengakui eksistensi Allah sebagai “Tuan” atau “penguasa.” Pada hakikatnya, “mau menjadi seperti Tuhan” seperti gairah hati Hawa, adalah tidak rela Allah Sang Khalik tidak tertandingi. Sebagaimana Iblis mau menandingi Allah, demikian pula ia membujuk manusia menandingi Allah (Yes. 14:12-14). Inilah dosa dimana manusia meletakkan kepentingan kehormatan si “aku” lebih tinggi dari Tuhan sendiri.
Orang percaya harus tunduk menyembah, berarti mengakui supremasi Allah sebagai Penguasa satu-satunya (Why. 4:9-11). Banyak orang merasa telah memperlakukan Allah dengan baik dan menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Padahal, ia tidak dibawahi oleh Allah sendiri, melainkan dibawahi dan dikuasai oleh dirinya sendiri, yaitu oleh keinginannya menjadi terhormat di mata manusia lain di bumi. Dalam lingkungan antar pendeta, terdapat pendeta yang tidak rela kalau ada pendeta lain yang lebih berprestasi. Karenanya ia berusaha untuk tampil hebat, tampil lebih berkarunia, mengaku lebih suci, lebih dekat dengan Tuhan, lebih dikasihi Tuhan, dan lain sebagainya. Mereka tidak segan-segan melemparkan kata-kata tuduhan yang merusak nama baik pendeta lain, supaya dirinya dianggap lebih benar dan lebih penting. Dalam Alkitab, Tuhan mengajar orang percaya untuk menganggap orang lain lebih penting atau lebih utama dari diri kita sendiri (Fil. 2:1-4).
Orang yang mencari hormat dari sesama manusia biasanya merasa terganggu kalau orang lain kurang menaruh penghargaan terhadap dirinya. Inilah sikap angkuh dalam kehidupan banyak orang. Biasanya, gairah tersebut disertai dengan keinginan menuntut orang lain untuk memberi penghargaan. Inilah yang Paulus maksudkan sebagai gila hormat (Gal. 5:26). Orang-orang seperti ini akan berusaha menjaga nama baik, kredibilitas, dan reputasinya dengan segala cara. Dalam gereja, sering kita jumpai orang-orang seperti ini, yaitu orang-orang yang tanpa sadar mencari penghormatan melalui aktivitas dalam gereja. Dalam lingkungan hamba-hamba Tuhan, terdapat orang-orang yang ingin memperoleh pengultusan dari orang lain. Hamba Tuhan seperti ini hanya mengajarkan siapa kita di dalam Dia, bukan siapa Dia di dalam kita.
Sejatinya, orang-orang seperti itu adalah pribadi yang kurang atau tidak hormat kepada Allah secara patut. Mereka kelihatan menghormati Tuhan ketika di gereja, tetapi setelah itu tidak merasa perlu menghormati Tuhan sepanjang waktu. Sikap hormat ini tidak bisa dibuat-buat. Hal ini tidak hanya ditunjukkan dengan kalimat doa atau sikap tubuh, tetapi dari sikap batin yang tersembunyi. Banyak orang merasa sudah menghormati Tuhan, tetapi kenyataannya tidak. Hal ini akan tampak dari perilakunya terhadap sesama. Di media sosial, kita menemukan orang-orang yang begitu banyak bicara. Dan dari sikapnya, kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang haus nilai diri di mata manusia lain. Bagi mereka,