Kalau kita percaya bahwa Allah itu hidup dan ada, memiliki segala kuasa yang tidak terbatas, memiliki segala kekayaan, kita bisa merasa benar-benar teduh dan tenang menghadapi segala keadaan. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidup dalam kekhawatiran dan kecemasan, walaupun mulutnya mengaku percaya kepada Allah. Mengapa demikian? Sejatinya, mereka kurang atau tidak percaya kepada Allah. Kalau seseorang benar-benar percaya Allah itu ada, memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tidak terbatas, mestinya ia bisa teduh dan tenang menghadapi segala keadaannya. Persoalannya, mengapa bisa begitu?
Sebenarnya, keteduhan dan ketenangan kita juga bisa terkait dengan hidup persekutuan kita dengan Allah. Dan hidup persekutuan kita dengan Allah ditentukan oleh sejauh mana kita benar-benar hidup dalam kesucian dan kekudusan, serta sikap kita terhadap dunia ini. Kalau seseorang hidupnya tidak bersih (tidak hidup suci) dan masih mengharapkan sukacita kebahagiaan dari dunia ini, tidak mungkin bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Allah tidak mungkin bersekutu dengan orang-orang yang hidupnya tidak bersih dan masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Memang kita membutuhkan fasilitas dunia, tetapi kebutuhan terhadap fasilitas dunia ini bukan untuk kebahagiaan hati kita melainkan untuk menopang, menunjang kegiatan hidup kita dalam bertumbuh untuk mencapai kekudusan, kesucian seperti yang Allah kehendaki.
Jadi, kalau kita bekerja, berkarier, studi, semua itu menjadi sarana kita untuk mengabdi kepada Tuhan dengan mengalami pertumbuhan iman, kehidupan kesucian seperti yang Allah kehendaki. Dan tentu selanjutnya, kita bisa melayani Tuhan, artinya menolong orang lain untuk juga bisa bertumbuh di dalam kesucian. Dan harta serta fasilitas hidup yang kita miliki menjadi sarana untuk itu. Orang yang hidup dalam kekudusan atau kesucian dan hatinya tidak melekat dengan dunia, bisa bersekutu dengan Allah. Persekutuan dengan Allah, yang pertama, akan melahirkan damai sejahtera, sukacita. Damai sejahtera dan sukacita ini akan bertumbuh dan berkembang terus sampai menjadi candu yang mengikat kita. Kita mau lebih besar, lebih banyak lagi, dan kita makin rela meninggalkan segala sesuatu, baik itu percintaan dunia maupun keinginan dosa. Yang kedua, persekutuan itu juga akan melahirkan bukan saja keyakinan, melainkan juga kesadaran penghayatan bahwa dirinya pasti diterima di Kemah Abadi.
Selanjutnya, yang ketiga, kita akan yakin bahwa Allah sebagai Bapa memelihara kita. Sebab, seiring dengan perjalanan waktu, kehidupan yang suci, terlepasnya dari percintaan dunia, membuat persekutuan dengan Tuhan semakin harmonis, maka kita bisa benar-benar menghayati keberadaan atau Allah yang hidup di dalam diri kita. Dia bukan Allah dalam fantasi, melainkan Allah yang nyata. Bisa dirasakan dan dialami secara konkret. Dan hal ini membuat kita tidak takut menghadapi segala keadaan; tidak gentar mengahdapi segala kesulitan dan kesukaran hidup.
Kita tahu bahwa Allah mengontrol dan mengendalikan segala sesuatu. Bahkan Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Kalau seseoranag meyakini hal ini maka sulit bersungut-sungut, bahkan tidak akan bersungut-sungut sama sekali menghadapi segal keadaan. Dalam menghadapi segala keadaan, dia meyakini bahwa semua dalam monitor Allah. Allah mengetahui semuanya itu, persoalan yang dihadapi, kesulitan yang kita hadapi tidak mungkin melampaui kekuatan kita dan tidak mungkin tidak mendatangkan kebaikan bagi kita.
Kalau seseorang hidupnya tidak bersih dan masih terikat dengan dunia sehingga tidak memiliki persekutuan yang baik dan harmoni dengan Allah, tidak mungkin bisa memiliki keteduhan dan ketenangan dalam menghadapi segala situasi hidup. Karena, ia tidak mampu menghayati kehadiran Allah di dalam hidupnya. Ia tidak mampu menghayati keberadaan Allah. Allah hanya dalam fantasi dan pikirannya. Itu tidak akan cukup membuat dirinya kuat menghadapi segala situasi atau keadaan.