Allah yang berdaulat menghendaki agar orang percaya hidup menurut roh. Hal ini mutlak harus dituruti atau dipatuhi. Kemutlakkan ini dapat dilihat dalam Roma 8:7-8, Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Untuk menemukan makna orisinal dari ayat ini kita harus dengan teliti menganalisa setiap kata dan kalimat dengan tepat. Keinginan daging dalam teks aslinya adalah to phronema tes sarkos (τὸ φρόνημα τῆς σαρκὸς). Phronema artinya bukan saja pikiran (mind), tetapi juga way of thinking atau mindset (cara berpikir), aim (tujuan atau arah), aspiration (aspirasi) yang lebih tepat diterjemahkan cara atau pola berpikir, aspirasi dan motif-motif seseorang berbuat sesuatu. Adapun kata sarkos berarti human and mortal nature (natur fana manusia). Sarkos hendak menunjuk kemanusiaan atau kodrat manusia. Jadi to phronema tes sarkos berarti cara berpikir yang telah ada di dalam diri setiap orang hasil atau buah dari pendidikan keluarga, pengaruh lingkungan, pendidikan, pergaulan dan lain sebagainya.
Sejak kanak-kanak, kita telah menerima berbagai filosofi yang membentuk atau membangun cara berpikir tertentu. Cara berpikir itu adalah cara berpikir yang tidak dapat sinkron dengan pikiran dan perasaan Allah. Seperti yang telah dikemukakan bahwa keinginan daging artinya cara berpikir manusia pada umumnya yang tidak sesuai dengan cara berpikir Roh Kudus atau cara berpikir Tuhan. Paulus tegas sekali menyatakan bahwa cara berpikir daging merupakan perseteruan terhadap Allah. Bagaimanapun cara berpikir manusia (Yun. sarkos) tidak akan pernah bisa sinkron dengan cara berpikir Allah. Bagi umat Perjanjian Lama, mereka tidak dituntut untuk memiliki kesempurnaan seperti umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Lama masih hidup menurut daging, artinya memiliki cara berpikir yang tidak sinkron dengan cara berpikir Allah. Orientasi berpikir mereka masih pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi hal ini tidak boleh ada dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Keberkenanan umat Perjanjian Baru diukur dari kehidupan menurut roh atau hidup dengan cara berpikir (phroneo) Kristus atau cara berpikir Allah.
Umat Perjanjian Lama sudah dipandang berkenan kepada Allah hanya dengan melakukan hukum Taurat dan tetap menyembah Elohim Yahweh. Berbeda dengan umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Baru dipandang berkenan jika dalam segala tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Keserupaan dengan Yesus merupakan goal yang harus dicapai setiap orang percaya. Dalam Roma 8:9 tertulis: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Ayat Firman Tuhan ini menyatakan bahwa kalau Roh Allah diam, artinya menetap (karena seseorang memberi diri dipimpin oleh-Nya), maka seseorang bisa menemukan hasrat atau gairah Allah. Jika gairah itu dituruti, maka seseorang hidup “dalam roh” atau menuruti hasrat atau gairah roh. Hal ini berarti bahwa seseorang memiliki roh Kristus.
Roh Kristus bukan berarti pribadi Yesus ada di dalam diri orang itu, tetapi maksudnya adalah bahwa cara berpikir Kristus (Yun. phroneo) yang ada di dalam Yesus juga dikenakan oleh orang tersebut. Hal ini sama seperti di dalam Galatia 2:19-20, bahwa hidup Paulus bukan dirinya lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam diri Paulus. Maksud pernyataan Paulus ini adalah bahwa gairah hidupnya dan cara berpikir yang dimiliki sebelum mengenal kebenaran Injil harus ditanggalkan, sekarang ini ia mengenakan gairah dan cara berpikir Yesus. Orang percaya seperti ini jelas sekali barulah bisa berkenan kepada Allah Bapa, sebab standar berkenan adalah seperti Putra Tunggal-Nya (Mat. 3:17). Inilah yang diupayakan Paulus,