Perspektif

(Kebijakan Baru ke Arah Selatan) Program Pendidikan Indonesia 2+


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Kementerian Pendidikan Taiwan (MOE) mempromosikan program khusus dengan tajuk “Kerja Sama Pembukaan Kelas Teknik Kejuruan dan Industri Indonesia 2+i”. Universitas Teknik Lunghwa (LHU) membuka kelas khusus teknik elektronika pada semester ini. LHU berhasil merekrut 32 siswa asal Indonesia. Rektor LHU, Ge Zi-xiang (葛自祥) menyampaikan, siswa-siswi asal Indonesia tersebut telah berada di Taiwan semenjak 3 bulan lalu. Mereka memiliki kualitas pembelajaran yang sangat baik, bahkan sebagian pelajar mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik dibanding pelajar Taiwan. Ge Zi-xiang berharap para siswa-siswi asal Indonesia ini dapat memperdalam kemampuan berbahasa Mandarin mereka di masa mendatang.

Program pembelajaran ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertukaran baru di sektor pendidikan, yang diresmikan oleh Taiwan dan Indonesia semenjak tahun lalu. Program ini mengundang pelajar diploma unggulan yang disaring oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Pihak Universitas Teknik dan Teknologi Taiwan berkunjung ke Indonesia untuk melangsungkan interview terhadap para siswa tersebut. Bagi pelajar yang terpilih, akan mendapatkan fasilitas uang sekolah gratis selama 2 semester, yang diperoleh dari pihak institusi pendidikan Taiwan. Sedangkan pihak pemerintah Indonesia akan memberikan tiket pesawat dan biaya hidup yang mencapai NT$ 24.000.

Kelas khusus ini pertama kali digelar di beberapa universitas di Taiwan, meliputi Hsing Wu University (HWU), Cheng Hsiu University (CHU), Ming Hsin University (MHU) dan Chien Hsin University (CHU). Untuk semester ini, Lung Hwa University of Science and Technology (LHU) membuka kelas khusus ini, dengan total siswa mencapai 33 orang.

Ge Zi-xiang mengatakan, “Ini merupakan kerja sama antar pemerintah. Proses pendaftarannya melibatkan institusi pendidikan di Indonesia, yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari pihak Taiwan. Kuota pelajar akan berikan langsung kepada pemerintah Indonesia. Mekanisme kali ini akan berbeda dengan ketentuan dalam Kebijakan Baru ke Arah Selatan, yang sebelumnya banyak menimbulkan kekacauan”.

Ge Zi-xiang menambahkan kurikulum pembelajaran kali ini dicanangkan akan berlangsung selama 6 semester atau 3 tahun. 3 semester pertama, para siswa akan dibekali dengan mata kuliah Bahasa Mandarin, sirkuit komponen elektronika dan desain robot pintar. 3 semester berikutnya, para siswa akan diberikan kesempatan untuk melakukan magang. Dan ketika lulus, setiap pelajar akan diberikan Sertifikat Kelulusan Sarjana Taiwan.

Ge Zi-xiang mengatakan, “Setelah saya amati, kualitas yang dimiliki pelajar-pelajar ini sangat baik. Beberapa dari mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Beberapa guru mungkin tidak menggunakan bahasa Mandarin dalam menyampaikan materi pembelajaran. Komunikasi yang berlangsung antar para siswa dengan guru, langsung menggunakan bahasa Inggris. Saya rasa ini merupakan metode pembelajaran yang baik”.

Salah satu mahasiswa asal Indonesia mengaku bahwa mereka belum pernah berkunjung ke Taiwan. Ini merupakan lingkungan pembelajaran baru, yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ia juga sangat senang akan kepedulian pihak sekolah yang selalu memperhatikan keadaan dan kehidupan mereka di Taiwan.

Saat ini, pemerintah Indonesia tengah mencanangkan program untuk meningkatkan jumlah sekolah kejuruan dan perguruan tinggi teknik. Dengan demikian, Indonesia tentu membutuhkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM), terutama di sektor pengajar. Guna untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran di bidang pendidikan, program “Kelas Khusus 2+i” akan memberikan kesempatan bagi pelajar Indonesia, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, misal master. Dengan harapan, begitu para siswa tersebut pulang ke tanah air, mereka dapat langsung terjun ke dunia pendidikan, menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi terkait.

 

Sektor Pariwisata yang Kian Menjanjikan

Pada tanggal 6 Januari 2020, Biro Pariwisata yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan (MOTC) mengemukakan jumlah wisatawan asing yang datang ke Taiwan selama tahun 2019 mencapai angka 11,84 juta orang. Angka ini meningkat sebanyak 770.000 ribu orang, jika dibandingkan tahun 2018. Angka di tahun 2019 tersebut, berhasil mencetak rekor terbaru di sektor pariwisata.

Menurut data yang dirilis oleh Biro Pariwisata, selama tahun 2019 wisatawan Republik Rakyat Tiongkok yang datang ke Taiwan berjumlah 2,71 juta orang, atau meningkat sebesar 0,5%. Selebihnya merupakan pelancong yang berasal dari berbagai negara, dengan jumlah mencapai 9,14 juta orang, atau meningkat sebanyak 9%. Untuk pertama kalinya, wisatawan asal Jepang berhasil menembus angka 2 juta pada tanggal 9 Desember 2019. Wisatawan asal Korea Selatan, juga meningkat pesat, mencapai 10% hingga 20%. Untuk 18 negara Kebijakan Baru ke Arah Selatan, angka wisatawannya pun meningkat sebesar 18%.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

PerspektifBy Yunus Hendry, Rti