Pada umumnya setiap manusia menjunjung tinggi kejujuran. Apalagi komunitas agama, kejujuran menjadi salah satu pilar etika yang dianggap utama. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan kejujuran itu? Benarkah selama ini kita telah memiliki kejujuran yang berkualitas? Bukan jujur pura-pura atau kebohongan terselubung. Maksud kebohongan terselubung adalah sikap atau perkataan yang tidak secara terang-terangan menunjukkan kebohongan, tetapi bermaksud menggelapkan fakta sebenarnya. Kebohongan terselubung ini sebenarnya lebih mengarah kepada sikap batiniah. Kebohongan terselubung sama artinya dengan ketidaktulusan. Tidak sedikit orang yang bisa dianggap jujur dalam ucapan dan perilaku di mata manusia, tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki ketulusan yang murni atau kejujuran yang berkualitas.
Tuhan selalu menghendaki kebenaran mutlak atau kebenaran penuh, sebab Ia sendiri adalah kebenaran. Sebaliknya, Iblis adalah pendusta. Iblis gemar menggunakan kebenaran-kebenaran yang hanya sebagian untuk menyesatkan manusia. Iblis berusaha membujuk manusia dengan segala cara agar manusia menuruti caranya dan pola tindaknya. Kejatuhan Adam dan Hawa di taman Firdaus adalah akibat dusta yang dilakukan Iblis terhadap mereka. Iblis menghampiri manusia dengan bersikap sebagai sahabat, tetapi sebenarnya memuat kekejaman musuh. Dengan modus operandi yang sama, hari ini Iblis mendorong manusia berbuat hal yang sama terhadap sesamanya. Dalam hal ini manusia berdiri di medan pertempuran antara kebenaran dan dusta, kebenaran mutlak atau sebagian kebenaran. Tuhan menghendaki jika kita berkata ya hendaklah mengatakan ya, jika tidak hendaklah mengatakan tidak. Lebih daripada itu berasal dari si jahat. Ayat ini sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai kejujuran ucapan, tetapi ketulusan dalam sikap. Kebohongan terselubung terjadi disebabkan oleh karena tidak matangnya kepribadian.
Dalam satu pernyataannya Paulus menulis: Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah” (2Kor. 1:12). Dari pernyataan ini kita memperoleh nasihat bagaimana seharusnya berperilaku dalam hubungan pergaulan dengan sesama. Inilah yang merupakan sukacita hidup kita. Kata “megahkan” dari terjemahan teks asli kaukhesis (καύχησις) bisa diterjemahkan rejoicing (sukacita). Jadi panggilan atau ajakan untuk memiliki ketulusan dan kemurnian dalam pergaulan bukan merupakan beban, tetapi sukacita. Selanjutnya orang yang memiliki ketulusan dan kemurnian dalam bersikap terhadap sesama sadar mengenai perilakunya tersebut.
Paulus menjelaskan hal ini dengan kalimat: “suara hati kami memberi kesaksian kepada kami”. Hal ini secara tidak langsung juga hendak menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tidak menyadari sikap batinnya terhadap sesama. Mereka memperlakukan sesamanya sesuka hatinya. Biasanya orang-orang ini adalah orang yang memanipulasi segala kesempatan untuk kepentingan pribadi. Inilah orang-orang oportunis, orang-orang yang dengan “hikmat duniawi” memperlakukan sesamanya. Hikmat duniawi di sini sama artinya dengan “politik pergaulan”.
Apa yang ditulis Paulus tersebut merupakan pola hidup yang sewajarnya yang harus kita miliki sebagai anak-anak Allah. Dalam pergaulan dengan sesama kita harus memiliki baju ketulusan dan jubah kemurnian oleh kekuatan kasih karunia Allah. Ketulusan di sini dalam teks aslinya adalah eilikrineia (εἰλικρίνεια). Kata ini berarti purity, sincerity, (kemurnian, ketulusan). Kata ini hendak menunjuk orang yang memperlakukan sesama sewajarnya, tidak berlaku munafik demi keuntungan pribadi.