Dalam kebutaan atau kebodohan mengenal dirinya, banyak orang menilai dirinya terlalu tinggi, tetapi ada juga yang memandang dirinya terlalu rendah dengan ukuran nilai-nilai yang salah. Orang yang memandang dirinya terlalu tinggi, cenderung percaya diri dan merasa yakin pasti diterima oleh siapa pun dan di manapun. Pada umumnya hal ini biasanya dianggap sebagai positif. Padahal, orang yang memiliki percaya diri bukan berarti telah memiliki gambar diri yang benar. Adapun kalau seseorang memandang dirinya rendah, maka akan cenderung rendah diri atau minder. Orang yang minder sebenarnya adalah orang sombong dari sudut dan cara yang berbeda. Mereka belum memiliki gambar diri yang benar.
Orang sombong adalah orang yang merasa bahwa dirinya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan manusia lain dengan ukurannya sendiri. Orang seperti ini biasanya menghormati orang yang dipandang memiliki sesuatu lebih dari dirinya sendiri. Di lain pihak, ia memandang rendah orang yang tidak memiliki sesuatu lebih dari dirinya. Dengan pola berpikir seperti ini, maka mereka tidak akan pernah dapat melayani sesamanya. Mereka terkunci dalam keangkuhan diri yang sia-sia. Betapa mengerikan, dan tragisnya ketika menutup mata, semua yang dianggap sebagai nilai lebih tersebut lenyap dalam sekejap. Karena tidak memiliki nilai-nilai yang benar, maka banyak manusia tersandera oleh pola berpikirnya yang sesat dan terus menjalani hidup dalam lingkaran penyesatan yang semakin membelenggu hidup.
Orang minder adalah orang yang juga menetapkan suatu standar atau nilai. Karena tidak mencapai standar atau nilai tersebut, maka ia menjadi minder atau rendah diri. Orang minder adalah orang yang tidak menerima dirinya sebagaimana adanya. Orang seperti ini tidak mengucap syukur atas apa yang ada pada dirinya. Itulah letak kesombongannya. Sebenarnya, kalau ia menerima keberadaannya, maka ia tidak akan menjadi minder. Orang yang memandang diri terlalu rendah bukan saja cenderung minder tetapi juga mudah memiliki perasaan tertolak dan perasaan negatif lainnya. Tidak jarang mereka menjadi mudah tersinggung.
Dalam hal ini terjadilah fakta di mana orang miskin secara materi tidak menyadari dan mengakui kemiskinannya, orang yang tidak berpendidikan tinggi tidak mengakui keberadaanya sebagai tidak berpendidikan tinggi dan lain sebagainya. Inilah konyolnya, di mana ada orang-orang yang sudah miskin, tidak berpendidikan tinggi dan tidak memiliki sesuatu yang bernilai di mata manusia dan tidak menyadari keadaannya, tetapi berusaha untuk tetap memiliki nilai diri di mata manusia lain.
Perbaikan atas keadaan diri minder tersebut melalui keselamatan dalam Yesus Kristus, bukan saja dapat mengembalikan penilaian atas dirinya secara proporsional, sehingga tidak minder lagi, tidak merasa tertolak, tetapi juga dapat mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Hal ini akan membuat seseorang mengerti nilai-nilai yang dikehendaki oleh Allah. Orang yang mengerti nilai-nilai yang dikehendaki oleh Allah tidak menjadi minder dan tidak menjadi sombong. Seseorang tidak menjadi minder atau sombong ketika menyadari bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh nilai-nilai yang dipahami manusia, tetapi pada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus.
Penjabaran mengenai gambar diri yang diseminarkan dan diceramahkan di lingkungan orang Kristen di dalam gereja sering tidak memiliki ukuran yang jelas. Misalnya percaya diri dianggap sebagai tanda seorang yang sudah menemukan gambar diri. Bila demikian ukurannya, maka ini bukanlah kebenaran Alkitab. Itu hanyalah pengembangan kepribadian yang juga diajarkan oleh para motivator umum yang lebih bersifat humanis. Pengembangan kepribadian bila diajarkan tanpa kebenaran Injil akan membangun pola pikir yang berpusat kepada diri sendiri dan tidak mengembangkan pola hidup seperti yang disaksikan Paulus yaitu “hidupku bukan aku lagi” (Gal. 2:19-20).
Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki keserupaan dengan Allah.