Kecerdasan rohani bukan hanya menyangkut kemampuan bertindak sesuai dengan moral umum dan ketepatan sehingga tidak menimbulkan kerugian, melainkan juga menunjuk kemampuan yang ada pada orang percaya agar dapat bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini menjadikan seseorang memiliki gambar dan rupa Allah, sempurna seperti Bapa, kudus seperti Allah, mengambil bagian dalam kekudusan Allah, dan mengenakan kodrat ilahi. Yesus adalah model manusia yang telah memiliki standar kecerdasan rohani sesuai dengan rancangan Allah semula. Selain itu, kecerdasan rohani dalam konteks kehidupan orang percaya mengarahkan dan menempatkan secara permanen tujuan hidup ke dunia yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi yang baru. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yesus dalam Matius 6:19-21 dan ayat-ayat lainnya, juga yang dikemukakan Paulus dalam banyak tulisannya. Dengan demikian, kecerdasan rohani dalam kehidupan orang percaya menempatkan cara berpikir “surgawi.”
Kebenaran Firman Tuhan mencelikkan pengertian kita mengenai kecerdasan roh yang menjadi bagian inti atau jantung utama dari proses keselamatan. Kebenaran Firman memuat prinsip-prinsip kehidupan yang harus dipahami dan dikenakan. Melalui proses tersebut, bukan saja paradigma seseorang diubah, melainkan juga cara berpikir dan selera jiwa juga mengalami perubahan. Hal inilah yang membangun kecerdasan rohani. Orang percaya tidak boleh mendasarkan penalarannya berdasarkan sumber-sumber yang ada di luar Alkitab, tetapi orang percaya harus memiliki perspektif sendiri yang didasarkan pada Alkitab
Kalau kita memerhatikan penciptaan, sesungguhnya manusia sudah diperlengkapi Tuhan untuk dapat memiliki kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani menurut Alkitab adalah kemungkinan manusia dapat bertindak seperti Allah bertindak. Hal ini sangat mungkin terjadi, sebab manusia memang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Kata-kata yang digunakan untuk “gambar dan rupa” di dalam teks asli Alkitab bahasa Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Perlu dicatat di sini bahwa dalam teks aslinya, dua kata ini digabung tanpa kata penghubung. Tselem sering diartikan sebagai gambar, sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan. Sejak penciptaannya, manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan potensi kecerdasan rohnya agar dapat mengerti kehendak Allah dan melakukannya dengan rela dan sukacita sampai menjadi kodrat, artinya menjadi bagian dalam kehidupan manusia yang permanen; manusia bisa berkodrat ilahi. Manusia pertama diciptakan oleh Allah tidak dalam sekejap menjadi cerdas, tetapi melalui proses pertumbuhan dan perkembangan, sehingga menjadi cerdas. Itulah sebabnya, sangat besar kemungkinan manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan tidak seketika besar secara fisik dan dewasa secara mental.
Adam juga mengalami proses pertumbuhan fisik dan pendewasaan mental yang sama dengan pendewasaan rohani atau bertumbuh dalam kecerdasan Roh. Oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia gagal mencapai kecerdasan roh yang dikehendaki oleh Allah untuk dicapai. Keselamatan dalam Yesus Kristus memiliki isi agar manusia dapat memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar yang dikendaki oleh Allah. Setan atau Iblis yang menjatuhkan manusia bermaksud agar manusia tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar Allah. Manusia berkeadaan kurang kualitas, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang tidak memiliki kecerdasan rohani adalah manusia yang tidak memiliki kemuliaan Allah.
Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Set memiliki rupa dan gambar Adam,