Iblis berkata kepada Hawa bahwa kalau mereka makan buah itu, mereka tidak akan mati, sebaliknya, akan menjadi seperti Allah. Pernyataan sederhana yang pertama yaitu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Kemudian meningkat menjadi pernyataan yang lebih dalam, yaitu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perkataan ular bahwa mereka tidak akan mati dengan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, bisa menimbulkan kecurigaan terhadap Allah. Di balik perkataan itu, tersirat tuduhan atau fitnah kepada Allah, seakan-akan Allah menyembunyikan sesuatu, yang mana hal itu menguntungkan bagi Allah tetapi tidak menguntungkan bagi manusia. Kecurigaan terhadap Allah atau ketidakpercayaan kepada-Nya menjadi bencana yang terbesar dalam kehidupan. Inilah yang dapat membuat seseorang tanpa ragu-ragu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nasihat Allah. Kalau seseorang sudah menaruh kecurigaan kepada Allah, kehidupan imannya pastilah runtuh.
Mengapa cinta akan uang memiliki dampak yang sangat mengerikan dalam kehidupan iman seseorang? Seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Timotius 6:9-10, yang tertulis: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Pada dasarnya, cinta akan uang merupakan ketidakpercayaan kepada Allah bahwa Allah sanggup melindungi dirinya dan memberikan kebahagiaan. Orang yang cinta akan uang berpikir bahwa uanglah yang dapat melindungi dirinya dan dapat memberi kebahagiaan yang maksimal.
Dalam Injil Matius, tertulis kisah mengenai Yesus yang dicobai oleh Iblis setelah Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis: “Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:5-7).
Pencobaan ini bisa memiliki dua arah. Pertama, membujuk Yesus untuk meninggikan diri di tengah-tengah kerumunan massa di sekitar bait Allah tersebut, yaitu dengan menjatuhkan diri dari bumbungan Bait Allah. Dengan demikian, Yesus dapat menjadi orang populer dalam waktu sekejap. Tetapi maksud pencobaan itu juga agar Yesus meragukan Allah Bapa-Nya, yaitu keraguan apakah benar Bapa di surga akan memerintahkan malaikat-malaikat menatang Yesus di atas tangan-Nya sehingga Ia tidak mengalami celaka sama sekali. Yesus menjawab bahwa kita tidak boleh mencobai Tuhan Allah kita. Mencobai Tuhan Allah artinya meragukan kasih dan pemeliharaan-Nya. Kita yakin dan benar-benar menerima bahwa Allah adalah Allah yang baik, yang tidak akan mencelakakan kita sama sekali. Sesungguhnya, kita yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang membutuhkan kita. Allah bisa tidak berkepentingan dengan kita sama sekali, tetapi kita yang berkepentingan terhadap Dia.
Yesus tidak mencurigai Allah Bapa-Nya, bahkan ketika ada dalam situasi yang benar-benar kritis dan krisis yaitu ketika Ia ada di kayu salib. Yesus benar-benar merasa Allah Bapa meninggalkan diri-Nya, yang oleh karenanya Ia berseru: “Eloi-Eloi lama sabakhtani.” Seruan itu bukan sandiwara, tetapi Yesus merasa benar-benar ditinggalkan oleh Allah Bapa. Namun, dalam keadaan seperti itu, Yesus tetap menaruh percaya kepada Allah Bapa dan tidak mencurigai-Nya sama sekali.