Terkait dengan masalah bahwa Allah menentukan atau menetapkan keselamatan sebagian orang pasti masuk surga, maka kita harus membahas mengenai kedaulatan Allah. Apakah benar Allah dalam “kedaulatan-Nya” menentukan secara sepihak sebagian orang pasti selamat masuk surga? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “kedaulatan” berasal dari kata “daulat” yang artinya kekuasaan atau pemerintahan. Berdaulat artinya mempunyai kekuasaan tertinggi atas suatu pemerintahan negara atau daerah. Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi atas pemerintahan negara, daerah, dan lain sebagainya. Kedaulatan Allah berarti Allah diakui sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas segala sesuatu. Ada sekelompok orang yang meyakini bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengatur segala hal sampai sekecil-kecilnya, tidak ada sesuatu yang bergerak di luar kedaulatan-Nya. Biasanya kelompok ini mengarah kepada takdir total atau takdir mutlak, artinya bahwa segala sesuatu terjadi dalam kehidupan ini atas kehendak Tuhan secara mutlak dan total.
Memahami kedaulatan Allah artinya juga harus menerima bahwa Allah berdaulat memberikan -baik malaikat maupun manusia- suatu kehendak. Dan kehendak malaikat maupun manusia tersebut adalah kehendak yang dapat mengarahkan diri mereka sendiri kepada suatu keadaan. Di sini Tuhan dalam keagungan kehendak bebas-Nya memberikan keagungan kepada malaikat dan manusia untuk mengambil keputusan dan pilihan. Itulah sebabnya malaikat juga bisa jatuh, memberontak kepada Allah. Memahami kedaulatan Allah, seharusnya bukan hanya dikaitkan dengan “penentuan” pemilihan Allah atas sejumlah orang untuk selamat, diperkenan masuk surga. Sebab konsekuensinya atau yang bisa diakibatkan bagi pihak lain, berarti juga penentuan atas sejumlah orang untuk binasa, masuk neraka kekal. Fakta ini tidak bisa dibantah. Karena kalau ada yang membantah berarti tidak berpikir secara adil dan sehat. Namun, faktanya demikian. Ada orang-orang yang berpendirian bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya menentukan sebagian manusia untuk selamat masuk surga, tetapi ia tidak menentukan manusia yang lain untuk binasa. Jika demikian berarti Tuhan tidak berdaulat atas segala sesuatu.
Jika mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu berarti, kenyataan manusia yang binasa juga dalam wilayah kedaulatan-Nya. Kedaulatan seperti ini adalah kedaulatan “sewenang-sewenang” yang menyalahi prinsip kasih dan keadilan. Di sini Tuhan direpresentasikan sebagai pribadi yang “kejam,” suka-suka sendiri tanpa kebijaksanaan. Padahal jelas sekali Tuhan tidak mungkin menghendaki kebinasaan dan kesengsaraan manusia ciptaan-Nya. Apalagi manusia ciptaan-Nya adalah makhluk yang memiliki Roh dari diri-Nya (Kej. 2:7; Yak. 4:5).
Memang Tuhan berhak bertindak suka-suka sendiri, tetapi Ia pasti bertindak berdasarkan kebijaksanaan, kasih, dan kecerdasan yang sempurna. Tidak mungkin Tuhan memilih secara acak atau random, sehingga bagi manusia keselamatan seperti proses kejatuhan “lotere” atau undian. Jika demikian, maka bagi manusia kedaulatan Tuhan dapat dipandang sebagai tabung yang memuat nama-nama orang yang ditentukan untuk selamat dan ditentukan untuk binasa. Ini berarti Tuhan tidak bisa dipandang agung oleh semua pihak. Tuhan hanya akan diagungkan oleh mereka yang dipilih untuk selamat. Tetapi Tuhan bisa disumpah serapah oleh mereka yang ditentukan untuk binasa, termasuk oleh malaikat yang jatuh yang diciptakan untuk menjadi “penjahat” dan obyek penderita. Bisakah mereka yang binasa berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau menciptakan aku untuk menderita di api kekal ini?”
Harus dicatat, bahwa kebinasaan bukan suatu keadaan “lenyap,” tetapi juga bisa menunjuk kepada siksaan abadi yang kengeriannya digambarkan Tuhan Yesus sebagai tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam. Ulat-ulat bangkai menunjuk tempat yang tidak menyenangkan. Semua itu adalah kengerian dahsyat wujud hukuman Allah (Mat. 5:22; Mrk. 9:43,