Ketika Iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakannya. Ada rule atau hukum atau aturan atau tatanan untuk bisa menunjukkan bahwa Iblis bersalah dan pantas dihukum. Rupanya pada waktu itu belum ada pembuktian bahwa tindakan Iblis bersalah dan patut dihukum, sebab jika pada waktu itu sudah bisa terbukti Iblis bersalah, niscaya Iblis sudah dihukum. Mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer saat itu juga ketika ia memberontak? Sebab tindakan Lusifer belum bisa dikatakan salah, karena tidak ada verifikasi atau alat pembuktian bahwa Lusifer bersalah. Harus ada semacam “corpus delicti” (fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan). Sama seperti kasus: bagaimana bisa membuktikan bahwa suatu benda warnanya putih kalau tidak ada verifikasi warna lain. Hal ini bisa diteguhkan oleh pernyataan surat Paulus dalam Roma 4:15; 5:13.
Dari apa yang dikemukakan dalam Roma 4:15; 5:13, hal itu membuka pikiran kita untuk memahami bahwa Allah bertindak dengan aturan yang sempurna. Taurat diberikan juga untuk membuktikan bahwa manusia terbukti bersalah (Rm. 4:15; 5:13). Demikian pula dalam menunjukkan kesalahan dan menghukum suatu oknum harus ada pembuktian. Bagaimana membuktikan bahwa Iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang melakukan kehendak-Nya atau berkeadaan gambar diri yang benar sesuai dengan maksud makhluk itu diciptakan. Untuk ini Allah menciptakan Adam. Harus dicatat bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Adam diharapkan dapat menjadi corpus delicti.
Lusifer yang jatuh tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktian, yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan Dia secara benar; sebuah gambar diri yang ideal. Makhluk yang memiliki ketaatan kepada Bapa itulah semacam corpus delicti. Hal ini dapat membungkam Iblis, sehingga tidak bisa mengelak atas kesalahan yang dilakukan. Inilah rule of the game (life) nya. Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan Allah dan meninggikan Allah Bapa serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan Iblis, sehingga ia bisa dihukum. Kalau ada pertanyaan: mengapa bukan malaikat lain yang tidak jatuh yang membuktikan kesalahan Lusifer? Jawabnya adalah bahwa Lusifer bukanlah malaikat, tetapi anak Allah. Malaikat tidak pernah dikatakan segambar dengan Allah seperti Lusifer dan manusia.
Pada mulanya manusia dirancang menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengalahkan Iblis. Sejatinya Adam di taman Eden bertanggung jawab untuk membangun gambar diri yang dapat menunjukkan bagaimana makhluk yang ideal sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu dapat membuktikan kesalahan Lusifer, tetapi ternyata manusia gagal menaklukkan Lusifer. Manusia gagal membangun gambar diri yang sesuai dengan kehendak Allah. Kegagalan manusia pertama menyisakan persoalan, siapakah yang dapat mengalahkan Iblis atau membuktikan bahwa Iblis bersalah sehingga dapat dihukum? Tidak ada jalan lain, kecuali Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Anak Tunggal Bapa harus turun ke bumi menjadi manusia, di mana dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17).
Allah Anak menjadi manusia untuk membuktikan bahwa ada pribadi yang bisa taat kepada Bapa, menjadi sebuah gambar diri yang sesuai dengan Allah (Flp. 2:5-11; Yoh. 4:34). Hal itu akan membuktikan bahwa tindakan Iblis salah dan patut dihukum. Tuhan Yesus berhasil membangun gambar diri, yaitu manusia yang dikehendaki oleh Allah. Tuhan Yesus meraihnya dengan perjuangan, dengan ratap tangis dan pergumulan yang berat, sebab dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia. Setelah Ia mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Pokok keselamatan dalam teks aslinya aitios,