Pengalaman seseorang di ujung maut adalah pengalaman yang tidak bisa dibayangkan, atau tidak mudah dibayangkan. Orang harus benar-benar ada dalam situasi itu, baru bisa mengerti kritis dan krisisnya keadaan ketika ada di ujung maut. Saya pernah mengalami itu, ketika saya tenggelam ditarik ombak di Laut Selatan. Perasaan ngeri di ujung maut, ketika saya masuk ke dalam laut dan saya sudah tidak memiliki daya atau kekuatan untuk berenang lagi, sementara kaki saya diikat oleh alat selancar yang juga tertarik oleh ombak.
Perasaan krisis dan kritis seperti ini tidak bisa dibagikan kepada orang lain. Puji Tuhan, Ia masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Ada orang yang memerhatikan saya ketika mulai berenang di atas selancar menuju laut luas yang makin dalam atau makin ke tengah. Dan ketika saya hilang dari pemandangan, orang itu yang berteriak dan menunjukkan bahwa saya hilang. Dan anak laut (istilah orang yang bekerja di sekitar laut), beramai-ramai berenang menolong saya.
Situasi krisis dan kritis itu membuka pengertian kita terhadap realitas betapa dahsyatnya kematian itu. Betapa dahsyatnya situasi dimana seseorang mau melepas nyawa dan memasuki kekekalan. Banyak orang tidak mengerti karena memang belum atau tidak mengalami, dan tidak mempersiapkan diri dengan benar untuk menghadapi situasi seperti itu. Padahal, situasi itu pasti kita alami cepat atau lambat. Apalagi, di situasi wabah COVID ini, dimana kita bisa terpapar COVID setiap saat tanpa kita ketahui, terutama orang-orang tua dan yang memiliki kelemahan fisik atau penyakit menahun. Kita pasti akan menghadapi situasi itu. Dan yang mengerikan adalah situasi di hadapan takhta pengadilan Allah.
Kita tidak diajar untuk menjadi seperti pengecut, tetapi untuk hal ini, kita harus benar-benar kecut. Dalam menghadapi kematian, kita harus merasa kecut. Firman Tuhan mengatakan, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membuang jiwa ke dalam neraka. Takutlah kepada Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga membuangnya ke neraka.” Takutlah akan Allah.
Di alam hal ini kita harus benar-benar menjadi kecut dan takut. Mestinya, satu-satunya yang kita takuti adalah terpisah dari hadapan Allah. Satu-satunya yang membuat kita gentar dalam hidup ini adalah terpisah dari Allah. Jika kita tidak memiliki kegentaran yang patut ini, kita jadi sembrono dan sembarangan dalam hidup. Tetapi kalau kita benar-benar takut dan gentar terhadap realitas “terpisah dari Allah” ini maka kita akan berusaha menghampiri Allah. Berusaha membangun hubungan yang harmoni dengan Allah. Kita tidak takut terhadap hal lain, tapi hanya takut terhadap keadaan “terpisah dari hadirat Allah”.
Kita berurusan dengan Allah bukan karena kita mau disembuhkan dari sakit, bukan karena kita mencari jalan keluar dari masalah ini dan itu, melainkan hanya karena satu hal: supaya kita tidak terpisah dari Dia. Bisa saja kita membawa persoalan-persoalan kita, karena Allah adalah Bapa kita. Kalau kita mengalami kesulitan ekonomi, kesehatan, masalah bisnis dan usaha, kita mempercakapkannya dengan Allah. Tetapi kalau kita berurusan cengan Allah, intinya bukan pada penyelesaian masalah itu sendiri. Melainkan bagaimana persoalan-persoalan hidup kita tidak mengganggu pertumbuhan rohani kita untuk bisa memiliki hubungan atau relasi yang ideal dan harmoni dengan Allah.
Membangun relasi yang ideal dengan Allah juga bukan sesuatu yang mudah, sebab kita harus memiliki karakter Yesus. Hanya kalau seseorang memiliki karakter Yesus, maka baru dapat memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Orang yang memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah, berani atau bisa mengorbankan apa pun demi hubungannya dengan Allah. Ia tidak akan menyakiti, melukai hati Allah. Ia akan berusaha bagaimana menemukan apa yang Allah ingini, memuaskan dan menyenangkan hati-Nya. Ia akan berusaha bagaimana menjadi seorang yang berkenan kepada Allah. Sebenarnya,