Tubuh kita membutuhkan makanan, yang karenanya kita harus makan setiap hari, harus ada asupan setiap hari. Demikian pula, jiwa kita juga membutuhkan makanan. Tentu saja makanan jiwa kita adalah kebenaran firman Tuhan, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di Matius 4:4, bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Namun demikian, yang harus kita sadari dan pahami bahwa kehausan terdalam di dalam jiwa kita itu sebenarnya tertuju pada Tuhan sendiri. Inilah dasar utamanya. Karena kita haus akan Allah, maka kita mencari: yang pertama, Firman-Nya. Yang kedua, suasana persekutuan dengan Dia. Hendaknya kita tidak membaca Alkitab tanpa kehausan akan Allah. Ini berarti bukan hanya membaca Alkitab, memiliki pengetahuan tentang Alkitab, apalagi hanya sekadar supaya dapat memiliki argumentasi untuk berdebat tanpa kehausan akan Allah.
Kehausan akan Allah adalah hal utama dalam batin kita. Kita harus memiliki kehausan akan Allah dan merindukan akan Allah. Dengan demikian barulah kita akan benar-benar merindukan Firman-Nya dan suasana persekutuan dengan Dia. Masalahnya, mengapa banyak orang tidak memiliki kehausan akan Allah walaupun belajar Firman Tuhan? Ada beberapa alasan antara lain: pertama, mereka hanya mau memiliki pengetahuan tentang Alkitab; kedua, ada juga yang membaca atau belajar Alkitab dengan tekun hanya supaya bisa berkhotbah dan berdebat, dan hal itu merupakan sarana mengaktualisasi diri. Nantinya orang-orang seperti ini akan menjadi seperti ahli Taurat, yang cakap berbicara tapi hidup dalam pemberontakan kepada Allah.
Kenapa seseorang tidak memiliki kehausan akan Allah? Karena jiwanya ditujukan kepada yang lain, karena minatnya juga ditujukan kepada yang lain. Seperti yang telah dikemukakan, orang belajar Alkitab hanya supaya memiliki pengetahuan tentang Alkitab, bisa berdebat, bisa berbicara mengenai Tuhan. Itu semua sebenarnya adalah usaha untuk mencari kehormatan atau nilai diri di depan manusia. Itulah minatnya. Banyak orang yang minatnya ditujukan kepada banyak hal, terutama materi, kekayaan dunia, gelar, pangkat, dan sebagainya. Bukan tidak boleh memiliki harta dunia atau kekayaan, gelar, pangkat, kekuasaan. Memang idealnya, kita memaksimalkan potensi, sukses dalam karier, bisnis, kegiatan hidup di bidang kita masing-masing, dan dengan keberhasilan tersebut, kita melayani Tuhan. Tetapi hendaknya kita tidak melakukan semua kegiatan tersebut karena kehausan terhadap dunia ini. Kita harus berani meninggalkan atau melepaskan kehausan kita terhadap yang lain. Kita harus berani melepaskan minat kita terhadap sesuatu. Minat kita harus hanya ditujukan bagi Tuhan.
Memang, pada waktu memulainya, kita seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan bisa juga mengalami kejenuhan. Tetapi lambat laun, kita bisa merasakan adanya rongga kosong dalam jiwa kita yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Kita harus memilih dulu, “Tuhan, aku memilih Engkau. Engkaulah satu-satunya yang membahagiakan hidupku.” Pada langkah atau pengalaman awal, kita seperti bercumbu dengan bayang-bayang. Tetapi, lambat laun kita tidak bercumbu dengan bayang-bayang melainkan mengalami Tuhan yang hidup dan nyata. Bukan bayang-bayang atau fantasi. Dia Allah yang hidup dan nyata, bisa dirasakan.
Ketika seseorang sampai pada pengalaman ini, baru dia bisa seperti “kecanduan” madu surgawi, yaitu Tuhan sendiri. Minat kita harus Tuhan saja, baru setelah itu haus dan lapar kita akan firman Tuhan benar. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kata “firman” dalam teks ini adalah rhema tou Christou. Rhema, bukan logos. Rhema ini lebih menunjuk kepada perkataan atau ucapan. Kalau “firman yang keluar dari mulut Allah” berarti sesuatu yang tertuang dari hati Allah sendiri. sejatinya yang kita butuhkan itu bukan sekadar ilmu teolog melainkan perkataan Allah yang terkait dengan hidup kita. Perkataan dari hati-Nya yang terkait dengan pergumulan ...