Orang percaya tidak boleh menutup pintu terhadap kemungkinan Roh Kudus menyingkapkan kebenaran-kebenaran terkait pengajaran mengenai berbagai pokok dalam Alkitab yang lebih kontekstual untuk kebutuhan orang percaya zaman ini. Tentu saja, pandangan para teolog terdahulu dan hasil keputusan konsili-konsili menjadi inspirasi, acuan, dan salah satu sumber pertimbangan yang sangat berharga. Tetapi bagaimana pun, Alkitab adalah narasumber utama dari seluruh kebenaran yang dirumuskan dengan kalimat. Dengan demikian, orang percaya harus mengadakan eksplorasi tiada henti terhadap Alkitab mengenai berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab, tentu dalam kaidah hermeneutik dan eksegesis yang baik.
Fakta yang kita dapat temui hari ini, sebagian gereja dan para teolog telah memarkir secara permanen pemahaman mereka dan pemahaman jemaat yang mereka ajar, dengan pandangan doktrin dan ajaran para teolog masa lalu, serta keputusan-keputusan konsili. Mereka sudah merasa cukup puas dengan doktrin dari berbagai pokok dalam Alkitab yang sudah mereka warisi dari para pendahulu, termasuk keputusan konsili-konsili, tanpa menyelidiki sendiri Alkitab secara sungguh-sungguh dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sangat lengkap hari ini, yang jauh lebih lengkap dari fasilitas yang ada pada zaman dulu.
Seharusnya, dengan tekhnologi yang berkembang seperti hari, dengan tersedianya berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi Alkitab, hal ini membuka kemungkinan bagi orang percaya untuk dapat menemukan banyak hal yang tidak atau belum ditemukan oleh teolog-teolog terdahulu. Dalam hal ini, kita bisa meyakini bahwa sebagaimana Allah memberi kesempatan manusia menemukan berbagai hal yang tidak pernah ditemukan manusia sebelumnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, Allah juga membuka rahasia Firman-Nya untuk manusia hari ini sesuai dengan kebutuhannya (Dan. 12:4).
Kesetiaan kepada pandangan teologi para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili secara buta dan tak terbatas, membuat pikiran menjadi kerdil sehingga menutup peluang menemukan hal-hal baru yang Allah akan terus disingkapkan. Hal tersebut juga menyandera pikiran, sehingga membatasi jelajah berpikir yang mestinya bisa terus berkembang. Bukan tidak mungkin, kesetiaan kepada pandangan teologi para teolog dan keputusan konsili-konsili secara tidak terbatas menjadi tindakan membatasi atau merusak kesetiaan kepada Allah yang hidup, yang mestinya kepada atau dengan Allah, orang percaya selalu berinteraksi tiada batas. Biasanya, orang-orang yang menaruh kesetiaan kepada gereja secara tidak terbatas menjadi orang Kristen yang legalistis, beragama secara terformat kaku, dan bersifat liturgis, artinya selalu harus dalam tatanan tertentu dalam ber-Tuhan, sehingga mereka tidak memiliki pengalaman secara riil dengan Allah yang hidup. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami secara riil atau nyata.
Gereja-gereja yang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang hanya mengenal Allah dari ruangan akademis seminari atau sekolah tinggi teologi, biasanya menciptakan atmosfer suasana seperti tersebut di atas dalam kegiatan gereja. Mereka bisa belajar Alkitab dari berbagai perspektif—seperti bahasa atau linguistik, latar belakang sejarah, transmisi tekstual, dan lain sebagainya—tetapi mereka belum tentu atau pada umumnya, tidak mengenal Allah secara pribadi dalam interaksi konkret. Mereka mengenal Allah hanya dalam nalar yang diolah secara maksimal, sehingga mereka bisa menulis banyak buku yang memuat format-format sistematika teologi yang kelihatannya argumentatif dan Alkitabiah, tetapi mereka tidak mencapai pikiran dan perasaan Allah yang mestinya mencengkeram hidup mereka. Mereka bisa melakukan pekerjaan misi, tetapi mereka lebih membawa doktrin daripada pribadi Yesus yang benar-benar dialami dalam kehidupan manusia. Gereja bisa dilahirkan dan dibangun,