Pola keagamaan yang bersifat seremonial harus dihentikan. Ini bukan berarti kita tidak boleh melakukan pertemuan di gereja pada hari Minggu—atau hari lainnya—seperti biasa. Pertemuan bersama seperti yang kita lakukan setiap hari Minggu di gereja tentu harus tetap kita lestarikan atau kita pertahankan. Kita sudah memiliki komitmen dengan semua orang percaya di seluruh dunia bahwa pada hari Minggu, kita bersama berkumpul untuk bersekutu dengan Tuhan dan satu dengan yang lain. Tetapi kita tidak boleh berpikir bahwa hal itu adalah suatu keharusan, seakan-akan hari Minggu adalah hari dan jam sakral atau suci. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada suatu hari yang lebih dari hari yang lain. Dalam kamus hidup orang kristen, tidak ada hari suci atau tempat suci. Semua hari adalah hari-Nya Tuhan, jadi setiap hari harus menjadi hari yang kita kuduskan bagi Allah, artinya kita menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada Allah. Setiap hari adalah hari dimana kita hidup dalam kekudusan dan dalam pengabdian kepada Allah.
Sebenarnya, liturgi menunjukkan bahasa orang beragama yang belum pasti sudah bertuhan. Seorang yang beragama, belum tentu bertuhan. Beragama berarti memeluk suatu agama dan memenuhi syarat-syarat sebagai orang beragama; di antaranya adalah pergi ke rumah ibadah dan mengikuti upacara agama atau seremonial, yang dalam konteks Kristen adalah liturgi. Tetapi bertuhan adalah berinteraksi dengan Tuhan setiap saat dan dalam segala hal. Pada umumnya, orang beragama merasa cukup puas bila sudah melakukan syarat-syarat seremonial agamanya. Tetapi kalau orang bertuhan, pasti berinteraksi dengan Tuhan sendiri. Ini berarti ia harus memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa kehadiran Tuhan di gereja lebih terasa kuat daripada di tempat lain. Ini adalah cara berpikir orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan benar. Banyak orang yang menyembah berbagai ilah atau dewa dengan meyakini bahwa ilah atau dewa mereka berada di tempat-tempat tertentu. Bagi umat Perjanjian Baru, pola berpikir yang salah tersebut harus diubah. Tuhan Yesus tidak mengajarkan suatu kehidupan “cara beragama,” tetapi “cara bertuhan” yang baru, yang tidak mengandung unsur agamawi. Kalau masih ada unsur agamawi, berarti masih terdistorsi. Kebenaran yang dibawa Tuhan Yesus mengarahkan bagaimana kita menggelar kehidupan dalam hubungan dengan Allah secara benar setiap saat.
Jadi, Tuhan mengajar kita bahwa ibadah bukan seremonial atau liturgi. Ini yang namanya berjalan dengan Tuhan setiap saat. Inilah inti Injil itu sebenarnya. Inilah Kabar Baik. Dalam Injil, terdapat kesempatan manusia berjalan dengan Penciptanya secara pribadi dalam interaksi secara interpersonal. Jadi, berdoa berarti selalu hidup di hadirat Allah. Kehidupan seperti inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah. Dalam hal ini, sesungguhnya doa adalah gaya hidup atau irama hidup. Kekristenan mengajarkan hidup dengan kualitas ini, yaitu selalu ada di hadirat Allah. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan ideal yang dikehendaki oleh Allah. Bukan hanya beberapa saat dalam perjumpaan dengan Allah seperti pada waktu berdoa atau sembahyang. Bagi orang Yahudi, mereka berdoa pada jam tertentu dan berkiblat ke Yerusalem. Kalau kita, setiap saat dan berkiblat ke langit baru dan bumi yang baru, karena kita memindahkan hati kita ke sana. Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada” (Mat. 6:19-21).
Kehidupan doa yang benar—yaitu interaksi tiada henti dengan Allah—bisa menciptakan mesin kehidupan sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, seorang percaya bisa bertumbuh dalam Tuhan dengan dialog, fellowship, persekutuan dengan Allah, dan dalam penghormatan yang patut kepada Allah setiap saat. Dengan demikian, hatinya dapat semakin mengasihi Allah sehingga tertuntun untuk menjadi sempurna. Hal ini menjadi irama hidup yang permanen.