Sebenarnya, setiap orang percaya yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus sudah kehilangan hak. Sebab, penebusan oleh Tuhan Yesus berarti di satu aspek semua dosa diampuni, pelanggaran dihapus, dan surga disediakan. Tetapi, di aspek lain dari penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti menempatkan kita sebagai milik Allah secara penuh dan mutlak. Sebagai anak tebusan, kita harus melepaskan kedaulatan hidup agar dimiliki sepenuhnya oleh Majikan yang membeli atau menebus kita. Oleh penebusan Tuhan Yesus, kita menjadi milik Allah sepenuhnya; dengan demikian, kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Hanya orang yang rela melepaskan hak-haknya yang sungguh-sungguh menjadi anak tebusan. Jika tidak, berarti dirinya menolak ditebus oleh darah Yesus. Orang yang dapat melepaskan hak-haknya adalah orang yang dapat mencapai kehidupan yang selesai dengan dirinya sendiri, dan dengan benar dapat melayani Allah, serta menderita bersama-sama dengan Yesus.
Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang memiliki segala kemuliaan, kekuasaan, dan kehormatan sebagai Tuhan. Kesediaan meninggalkan takhta kemuliaan-Nya adalah kerelaan kehilangan hak-hak-Nya, juga kerelaan tidak diterima oleh orang lain. Kerelaan untuk tidak diterima tersebut merupakan ciri dari kehidupan seorang pelayan Tuhan yang rela berjiwa hamba seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, seorang pelayan Tuhan tidak menuntut mendapat tempat di hati jemaat yang dilayaninya. Bahkan, sekalipun kehadirannya di suatu tempat tidak diterima, ia harus menerima realitas tersebut sebagai hal yang wajar. Tentu saja seorang pelayan Tuhan harus menghindari tindakan salah yang tidak terpuji, yang membuat dirinya tertolak oleh masyarakat atau jemaatnya. Selanjutnya, penampilan lahiriah bukanlah sarana untuk diterima orang lain. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus bersikap sederhana, yaitu kesederhanaan yang tulus yang memancarkan kerendahan hati Tuhan Yesus yang memberkati sesama.
Pelayanan seorang hamba Tuhan bukan merupakan sarana untuk mendapatkan penghasilan secara materi. Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani Dia, hal itu tidak dimulai dengan suatu jaminan bahwa dalam pekerjaan pelayanan tersebut akan memperoleh penghasilan berupa uang untuk memenuhi kebutuhannya. Memang, Alkitab mengemukakan adanya janji Allah dalam mencukupi hidup seorang yang melayani Tuhan, tetapi pelayanan bukan bertujuan memperoleh upah. Sekarang ini, di kalangan pelayanan pekerjaan Tuhan dapat muncul anggapan yang memutlakkan hak menerima persembahan; baik persembahan kolekte maupun persepuluhan. Hak untuk menerima persembahan bagi hamba atau pelayan Tuhan semakin dimutlakkan. Pelayan Tuhan yang benar harus sudah menanggalkan hak untuk menerima upah.
Zaman sekarang, banyak orang merasa nyaman bila memiliki deposito dalam jumlah besar. Orang percaya tidak boleh mengenakan standar hidup seperti anak-anak dunia. Paulus menasihati orang percaya bahwa asal ada makanan dan pakaian cukup. Ini artinya, bahwa anak-anak Allah tidak boleh menuntut dan mengharapkan memiliki standar hidup seperti anak-anak dunia. Bila seorang pelayan Tuhan sudah merasa berhak memiliki hak milik, ia tidak akan dapat menjadi pengikut Yesus yang benar. Dalam pelayanan memang dibutuhkan berbagai fasilitas, tetapi hendaknya fasilitas yang diharapkan—seperti mobil, rumah pastori, dan lain sebagainya—bukanlah menjadi hak milik untuk kenyamanan hidup, melainkan untuk kelancaran pekerjaan Tuhan. Walaupun telah bekerja keras, seorang pelayan Tuhan tidak boleh merasa berhak memiliki hak milik sebagai upah pelayanannya. Pengorbanannya adalah pengabdian bagi Tuhan, bukan taburan yang mengharapkan tuaian sekarang, melainkan nanti di Kerajaan Surga.
Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban juga berbicara bagaimana seorang pelayan Tuhan rela melepaskan kesenangan demi pekerjaan Bapa. Orang percaya hendaknya merasa puas dengan pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan papan.