Bagi banyak orang, uang atau harta materi atau harta dunia adalah nyawanya, artinya sesuatu yang dipandang bukan saja melengkapi hidup, melainkan menjadi inti atau pokok dari kehidupan. Itulah nyawa. Hampir semua manusia, hidup hanya untuk atau demi uang atau harta dunia tersebut. Bahkan tidak sedikit pelayan-pelayan jemaat atau pendeta dan teolog yang menyelenggarakan hidupnya hanya demi uang atau harta dunia—tetapi tentu saja mereka tidak mengakuinya atau memang tidak menyadarinya. Paling tidak, mereka hidup dalam kewajaran seperti manusia pada umumnya, yang hidup demi uang atau harta dunia. Orang-orang yang hidup demi harta dunia tersebut adalah orang-orang yang menjadikan diri mereka sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Tentu saja bagian mereka adalah api kekal.
Dalam kehidupan masyarakat di seluruh dunia, uang atau harta sudah menjadi segalanya, artinya yang dianggap menentukan kebahagiaan dan kelengkapan hidup. Dengan demikian, manusia telah tersandera oleh harta atau kekayaan, di dalamnya termasuk orang-orang Kristen dan para rohaniwan Kristen. Dengan keadaan ini, sebenarnya mereka tidak patut mengucapkan Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami hanya pantas diucapkan oleh mereka yang hidupnya bersedia dibelenggu oleh Tuhan, yaitu kehidupan orang percaya sebagai anak-anak Allah yang harus hidup sesuai dengan pola hidup yang termuat di dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami adalah doa yang hanya bisa diucapkan dengan benar oleh mereka yang rela kehilangan nyawa.
Yesus berkata: “Barangsiapa rela kehilangan nyawa karena Aku, ia akan beroleh nyawa.” Bagaimana kita bisa sampai pada tingkat kerohanian dimana Tuhan menjadi nyawa kita, seperti oksigen, sehingga kita hidup hanya untuk menikmati Dia? Kapan kita bisa berkata: “Untuk apa aku hidup tanpa Dia?” Hanya kalau kita berani menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Ketika kita merasa gagal membahagiakan Tuhan, kita akan merasa seperti tidak punya kehidupan, hidup terasa hancur. Tulang-tulang dan saraf kita terasa remuk. Batin kita akan terasa sangat tersiksa. Jika hal ini bisa kita alami, berarti kita sudah ada di jalan yang benar sebagai anak-anak Allah. Tentu saja hal ini membuat kita tidak berani berbuat dosa. Dari hal ini, kesucian hidup dapat terjalin secara benar.
Kehidupan iman seperti itu adalah kehidupan yang sungguh-sungguh menghargai Tuhan secara benar. Kenyataannya, sering kita gagal membahagiakan Tuhan. Kita harus bersyukur, walaupun kita tidak setia, namun Dia tetap setia. Kesetiaan Allah tidak boleh kita sia-siakan. Kalau kita masih berkesempatan berdamai dengan Dia, kita harus berdamai dengan benar. Berdamai dengan Allah bukan hanya meyakini bahwa Yesus sudah mendamaikan kita dengan darah-Nya, melainkan juga berjuang untuk hidup tidak bercela, agar kita bisa hidup dalam perdamaian dan persekutuan dengan Dia.
Banyak orang Kristen sebenarnya dalam keadaan tidak setia, tetapi tidak menyadari keadaannya yang tidak setia tersebut. Ironisnya, mereka merasa sudah setia, namun sebenarnya belum atau tidak setia. Keadaan ini bukan saja terjadi atas kehidupan jemaat awam, melainkan juga terjadi atas para rohaniwan atau pemimpin gereja dan teolog. Mereka merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena memiliki pengetahuan tentang pendamaian oleh darah Yesus. Kalau pemimpinnya tidak berdamai secara benar dengan Allah, bagaimana umat yang mendengar khotbahnya? Orang yang masih terikat dengan uang atau harta, pasti dalam keadaan tidak berdamai dengan Allah.
Puji Tuhan, Tuhan tetap setia. Dengan sabar, Ia menuntun kita agar kita mengerti bagaimana kesetiaan itu sebenarnya. Kalau Tuhan tidak setia, kita sudah binasa atau terbuang sejak lama. Seiring dengan pemahaman kita tentang kesucian Allah dan standar kekudusan Allah, kita bisa melihat kesabaran Allah yang luar biasa. Inilah yang membuat kita lebih mengasihi Dia. Yesus berkata bahwa yang diampuni banyak, akan mengasihi banyak.