Orang percaya harus memerhatikan yang dikatakan oleh firman Tuhan di dalam 2 Korintus 6:17-18, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Kalau ayat ini tidak dipahami dengan benar, mengesankan bahwa keselamatan dapat dicapai melalui atau dengan hidup kudus. Sebenarnya, bukan begitu maksud ayat tersebut. Keselamatan terjadi dengan diawali oleh kurban Yesus di kayu salib. Orang yang mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang memikul dosa manusia, harus mengikuti jejak hidup-Nya. Untuk itu, kita harus meninggalkan cara hidup anak-anak dunia ini, guna mengenakan cara hidup Yesus. Kalau tidak bersedia, berarti tidak percaya kepada-Nya.
Kalimat “keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu” merupakan panggilan untuk hidup secara khusus dan istimewa, yang tidak sama dengan gaya hidup sebelum seseorang dipanggil menjadi orang percaya. Dalam hal ini, bangsa Israel dapat menjadi gambaran kehidupan orang percaya. Mereka harus memiliki keadaan hidup yang berbeda untuk menjadi umat Allah. Bangsa Israel harus keluar dari Mesir, menerima Taurat dan melakukan hukum-Nya, dan mereka harus memunahkan semua orang Kanaan dari antara mereka, agar cara hidup bangsa kafir tidak memengaruhi kehidupan iman Israel. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Israel harus menjadi bangsa yang eksklusif bagi Allah (Elohim Yahweh).
Kehidupan bangsa Israel tersebut sejajar dengan kehidupan orang percaya hari ini. Dalam 1 Petrus 2:9 Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang percaya harus benar-benar berkeadaan baru sebagai wujud dari langkah imannya; iman adalah tindakan. Dengan demikian, orang yang benar-benar percaya kepada Yesus harus memiliki keadaan seperti yang termuat dalam 1 Petrus 2:9.
Sebenarnya, skema hidup seperti itu sudah dijalani oleh Abraham, sejak ia dipanggil menjadi bapak banyak bangsa, yang juga mendapat julukan “bapak orang beriman.” Abraham harus benar-benar berkeadaan berbeda dengan orang lain ketika ia bersedia mematuhi yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh. Kehidupan Abraham sebagai bapak orang percaya menunjukkan bahwa pola hidup Abraham harus juga menjadi pola hidup orang percaya, yang adalah anak-anak Abraham di dalam iman. Tentu saja, untuk ketaatannya kepada Elohim Yahweh, Abraham harus bersedia kehilangan segala sesuatu. Sebenarnya, kalau orang percaya disebut anak-anak Abraham dalam iman, mereka pun harus memiliki skema hidup seperti yang dijalani oleh Abraham. Hal ini menegaskan bahwa beriman kepada Yesus berarti kehilangan segala sesuatu agar hanya memiliki Dia dalam hidup ini atau hidup dalam penurutan sepenuhnya kepada Allah (Flp. 3:7-9).
Menjadi kemutlakan bagi orang percaya untuk memiliki gaya hidup yang berbeda dengan dunia, guna menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih. Untuk ini, orang percaya harus bertindak secara tegas memilih untuk mengikut Yesus, yaitu mengenakan gaya hidup yang dikenakan oleh Yesus. Tindakan ini bukan bermaksud untuk memberikan jasa guna memperoleh keselamatan, melainkan tindakan sebagai respons yang sama dengan tindakan iman untuk menyambut karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Hal ini sama sekali tidak menyalahi prinsip sola gratia (only by grace) atau hanya oleh anugerah.
Bagi orang percaya yang dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, ia harus berani meninggalkan dunia dengan segala kenyamanannya. Selanjutnya, ia harus memikul salib, yaitu mengalami penderitaan untuk turut meneruskan karya keselama...