Satu hal yang sungguh-sungguh harus kita percayai bahwa manusia itu benar-benar luar biasa. Sebab, manusia diciptakan oleh Penciptanya yang Mahacerdas, Mahaagung, Mahamulia dengan keadaan segambar dengan Dia, yang diharapkan juga bisa serupa dengan Dia. “Segambar dengan Allah” maksudnya manusia memiliki komponen-komponen yang juga ada pada Allah. Manusia diciptakan menurut tselem, artinya menurut gambar Dia. Dan Allah menghendaki agar manusia yang memiliki tselem atau gambar Dia ini bisa berkeadaan serupa (Ibr. Demuth) dengan Dia. Memang tselem dan demuth ini menurut teolog adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, merupakan rangkaian dua kata yang menyatu. Tetapi kenyataannya, tidak bisa dibantah bahwa tselem bisa terpisah dari demuth. Tselem menunjuk pada gambar, demuth menunjuk pada keserupaan.
Allah menciptakan manusia pada mulanya menurut gambar-Nya, tapi tidak menurut rupa-Nya. “Rupa” (Demuth) di sini adalah kualitas dari tselem; kualitas dari “gambar.” Maksud “gambar” di situ adalah manusia memiliki pikiran dan perasaan seperti yang Allah juga miliki. Dan Allah menghendaki agar pikiran dan perasaan manusia itu bisa mencapai kecerdasan seperti kecerdasan Allah. Maksudnya, agar manusia dapat berpikir, berperasaan secara benar sehingga segala keputusan-keputusan dan pilihan-pilihannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah yang dapat menyenangkan hati Allah. Allah bukanlah Pribadi yang oportunis, dan sebenarnya Allah bisa tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. Jadi, kalau manusia diciptakan menurut gambar-Nya, justru itu merupakan kehormatan bagi manusia tersebut. Dan kehormatan yang diberikan kepada makhluk ini—yang disebut sebagai manusia—memuat atau berisi tanggung jawab dimana manusia harus mengembangkan diri untuk bisa memiliki kecerdasan rohani, yaitu kemampuan dimana manusia bisa selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
Tetapi sayang sekali, manusia gagal. Itulah sebabnya dikatakan dalam Roma 3:23, manusia telah kehilangan (Yun. yustereo). Teks aslinya mestinya kata “kehilangan” itu berarti “kurang; lack of.” Manusia tidak mampu mencapai kecerdasan seperti yang Allah inginkan. Tentu manusia tidak akan bisa menyamai Allah, tetapi diharapkan manusia di dalam kecerdasannya bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, dan ini terkait dengan porsi pergumulan yang dimiliki masing-masing individu. Kegagalan manusia untuk mencapai keserupaan dengan Allah inilah yang mengakibatkan Allah harus mengutus Putra Tunggal-Nya guna mengembalikan manusia ke rancangan semula.
Banyak orang berpikir keselamatan itu hanya mengenai sekitar dimana manusia bisa terhindar dari neraka. Ini belum tepat benar. Sejatinya, terhindar dari neraka baru buah atau dampak atau akibat dari keselamatan. Sedangkan keselamatan itu sendiri diberikan agar manusia bisa memiliki keserupaan dengan Allah sesuai dengan rancangan-Nya semula. Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya manusia berkeadaan seperti Adam yang telah kehilangan kemuliaan Allah itu. Dalam Kejadian 5:3 tertulis, “setelah Adam hidup 130 tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki menurut rupa dan gambarnya.” Rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Kata “rupa dan gambar” dalam teks aslinya di ayat ini juga tselem dan demuth, tapi bukan tselem dan demuth Allah.
Dengan demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan potret gambar diri manusia yang benar dan ideal. Karena Adam yang mestinya menjadi role model; gambar diri manusia yang ideal, tidak dapat mencapainya atau gagal. Mestinya, Adamlah yang harus bertindak atau berfungsi sebagai pokok keselamatan; penggubah (Ing. Composer) bagi anak cucu keturunannya. Tapi sayang, Adam gagal. Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yang di dalam satu perspektif diistilahkan sebagai “agar manusia dapat menemukan kembali kecer...