Kita harus jeli memperhatikan kata “hukum” dalam ayat Roma 8:2. Hukum bukanlah hukuman. Kata hukum dalam teks aslinya di sini adalah nomos (νόμος) yang lebih menunjuk pada “kodrat”. Hukum dosa artinya kodrat dosa. Seperti hukum gravitasi, setiap benda yang lepas dari topangan pasti menuju pusat bumi yang sering disebut sebagai “jatuh”. Demikian pula manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah ada di dalam hukum dosa, artinya “tidak bisa tidak” selalu meleset dari kesucian Allah. Semua keturunan Adam telah terjual di bawah kuasa dosa ini (hukum kodrat dosa ini), sehingga semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia telah gagal memiliki gambar dan rupa Allah; dan dalam keadaan seperti ini tidak mungkin dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula tanpa anugerah dalam Yesus Kristus. Hukum dosa menempatkan manusia pada keadaan tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan untuk mengerti kehendak Allah.
Kegagalan memiliki gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah membuat manusia menjadi manusia yang hidup menurut daging bukan menurut roh. Hidup menurut daging artinya hidup dengan cara berpikir yang tidak sesuai dengan cara berpikir Allah. Kegagalan memiliki gambar dan rupa Allah, mengakibatkan manusia tidak mungkin dapat melakukan segala sesuatu tepat sesuai dengan kehendak Allah atau seturut pikiran dan perasaan-Nya. Memang manusia bisa melakukan hukum atau peraturan yang tertulis atau menjadi baik dalam ukuran manusia, tetapi manusia tidak bisa mencapai kesucian seperti kesucian Allah. Dalam hal ini, keadaan manusia dapat digambarkan dengan satu kalimat, meminjam pernyataan Martin Luther: non posse non peccare. Keadaan ini permanen ada dalam setiap individu. Agama tidak dapat melepaskan manusia dari keberadaan ini. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang dapat menanggulanginya. Agama hanya dapat membuat manusia menjadi baik menurut hukum, tetapi tidak bisa membawa manusia kepada kesempurnaan kesucian Allah sesuai rancangan Allah semula.
Manusia dalam keadaan “keberdosaannya” tidak bisa mencapai standar kesucian Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan fasilitas keselamatan, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus memimpin manusia dalam proses pembaharuan pikiran. Pembaharuan pikiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus berdasarkan kebenaran Injil (baik secara logos maupun rhema), sebenarnya sama dengan pembaharuan roh. Pembaharuan roh di sini paralel dengan terbentuknya cara berpikir yang cerdas; yang sama dengan membangun kecerdasan roh. Di dalam kecerdasan roh ini terdapat kepekaan terhadap kehendak Allah, yaitu apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Dalam proses tersebut dilahirkan roh dalam arti hasrat atau gairah yang sama dengan hasrat atau gairah Allah agar dapat menyatu dalam diri kita. Jika cara berpikir diubah berarti hasrat atau gairahnya diubah. Dalam hal ini, kebenaran Injil membangun kecerdasan roh yang memberi atau melahirkan hasrat atau gairah baru. Semua ini berlangsung secara logis dan realistis, bukan sesuatu yang mistis dan tidak logis.
Satu hal yang luar biasa adalah ketika seseorang dimerdekakan dari kodrat dosa atau tidak lagi hidup dalam penurutan terhadap keinginan daging, artinya tidak lagi memiliki cara berpikir yang salah, maka seseorang dapat hidup dalam kesucian yang berstandar Allah secara permanen. Kesucian berstandar Allah secara permanen membuat seseorang bukan saja tidak berbuat suatu kesalahan, tetapi juga tidak bisa melakukan kesalahan sama sekali. Inilah kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Bukan saja melakukan apa yang baik, tetapi tidak bisa lagi melakukan suatu kesalahan dalam bentuk apa pun dan dengan cara bagaimanapun. Inilah yang dimaksud hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kehidupan seperti inilah yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus. Pencapaian ini berarti sebuah kemenangan. Hanya orang yang tidak bercacat dan tidak bercela yang boleh mengklaim dirinya sebagai pemenang. Dengan demikian dapat terpenuhi kehendak Tuhan,