Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 31 Agustus 2023
"Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." (Ibrani 12:16-17)
Tentu kita sudah mengenal dengan baik kisah Esau yang menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi roti dan sepiring kacang merah (Kej 25:29-34). Akibat perbuatannya, Esau kehilangan berkat dari hak kesulungannya dan Tuhan memberikannya kepada Yakub. Namun mengapa penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa ini adalah seperti perbuatan cabul? Kata "cabul" yang dipakai dalam bahasa aslinya menggunakan kata "pornos" yang merupakan akar kata dari kata "porn" dalam bahasa Inggris dan menjadi kata "porno" dalam bahasa Indonesia. Kata "porno" biasanya berkaitan dengan kegiatan seksual, namun Alkitab tidak pernah mencatat dosa seksual yang dilakukan oleh Esau, sehingga jadi menarik ketika penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa perbuatan Esau adalah seperti perbuatan cabul. Makna kata "pornos" yang dipakai oleh penulis kitab Ibrani dapat dipahami dari kalimat "nafsu yang rendah", yang berarti Esau adalah orang yang hidupnya hanya berpikiran pendek, hanya memikirkan masa sekarang dan tidak memikirkan masa depan. Hal ini nampak ketika Esau tidak dapat menolak sepiring makanan dan berkata, "Sebentar lagi aku akan mati, apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu." (Kej 25:32), Maka, Esau memandang rendah kasih karunia Tuhan yang diberikan kepadanya, yaitu hak kesulungan. Memandang rendah kasih karunia Tuhan disetarakan oleh penulis kitab Ibrani dengan perbuatan cabul. Orang yang hidupnya hanya memikirkan untuk sesaat, tidak berpikiran panjang atau jauh ke depan, dan merendahkan kasih karunia Tuhan adalah seperti orang-orang cabul dan hanya memiliki nafsu yang rendah. Nafsu Esau yang rendah ini berakibat fatal, sehingga ia ditolak dan harus kehilangan berkat dari hak kesulungannya. Ia tidak hanya kehilangan berkat dari hak kesulungannya, namun ia juga kehilangan "kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata". (ay 17)
Terkadang perbuatan Esau tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai pengikut Yesus. Sebagai pengikut Yesus, kita menerima banyak kasih karunia dalam bentuk berbagai hak istimewa. Kita memiliki hak istimewa untuk berkomunikasi langsung dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan Alkitab, namun terkadang kita memandang rendah dengan perasaan malas dan enggan. Kita memiliki hak istimewa dengan diberikan berbagai talenta untuk melayani, kita merasa enggan untuk melayani. Mari, jangan remehkan kasih karunia Tuhan, tetapi belajarlah untuk mulai menghormati dan menghargai setiap pemberian-Nya, dengan mulai bertekun dalam doa dan menghormati Tuhan sebagai Raja Semesta Alam dan sumber berkat serta kekuatan kita. Tuhan Yesus memberkati.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menjadikanku anak-Mu. Bantulah aku agar aku selalu setia pada-Mu dalam setiap jam-jam doaku dan selalu rindu untuk datang ke hadirat-Mu. Amin. (Dod).