Suatu ketika di meja pemesanan kamar hotel Memphis, seorang turis melihat suatu kejadian yang menarik sekali yaitu bagaimana seseorang menghadapi orang yang sedang marah. Saat itu pukul lima sore lebih sedikit dan pihak hotel sedang sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan turis itu memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja resepsionis dengan nada memerintah. Pegawai hotel berkata, "Selamat datang, Tuan. Kami sudah sediakan satu kamar single untuk anda. Tamu itu heran dan berkata dengan nada membentak, "Single?? Saya memesan double!!!" Pegawai hotel berkata lagi, "Coba saya periksa sebentar (sambil menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata lagi). Maaf, Tuan. pesan anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan anda di kamar double kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh." Sang tamu berkata lagi dengan keras, "Saya tidak peduli apa bunyi pesan itu! Sekarang saya mau kamar double! Anda tahu siapa saya? Saya akan usahakan agar anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat anda di pecat." Kemudian dengan tenang pegawai hotel berkata lagi, "Tuan, kami menyesal sekali. Tetapi kami bertindak berdasarkan pesanan anda." Tamu tersebut berkata lagi, "Saya tidak akan mau tinggal walaupun di dalam kamar yang terbagus di hotel ini. Sekarang manajemennya benar-benar buruk!" Tamu hotel itu pun keluar. Sang turis lalu menghampiri meja penerimaan sambil berpikir bahwa pegawai hotel tersebut pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dia tetap saja menyambut semua tamu dengan salam yang ramah sekali. Pegawai hotel berkata kepada sang turis, "Selamat malam, Tuan." Sang turis berkata, "Saya mengagumi cara anda mengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar." Pegawai hotel itu pun berkata, "Ya, Tuan. Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya atau bisnisnya mungkin sedang lesu atau barangkali ia merasa rendah diri dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya. Padahal, pada dasarnya saya percaya ia mungkin orang yang sangat baik. Karena sesungguhnya semua orang adalah baik adanya." Sambil melangkah menuju lift, turis itu mengulang-ulang perkataan pegawai hotel itu, "Pada dasarnya saya percaya, ia mungkin orang yang sangat baik. Karena sesungguhnya, semua orang adalah baik adanya."
Ingatlah dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada kita. Jangan lagi membalas kejahatan dengan kejahatan. Jangan membalas caci maki dengan caci maki dan jangan membalas kemarahan dengan kemarahan. Mari membalas semua keburukan orang dengan kebaikan. Mungkin memang tidaklah mudah untuk mempraktikkannya, namun dengan pertolongan Roh Kudus, Dia akan memampukan kita untuk tetap tenang dan sabar dalam segala situasi. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya dan kemudian lupakan saja. Karena pada dasarnya semua orang adalah baik adanya. Tuhan Yesus memberkati.