Satu hal yang kita harus mengerti dan terima, bahwa yang sebagai anak-anak Allah, kita harus seperti Bapa kita, Bapa di surga. Kita tidak bisa mengaku sebagai anak-anak Allah jika kita berkarakter lain. Itulah sebabnya mengapa dalam 1 Petrus 1:17 dikatakan “kalau kamu menyebut atau memanggil Allah itu ‘Bapa,’ hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Dan ayat sebelumnya dikatakan, “kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Kalau kita menyebut Allah itu “Bapa” maka kita harus memiliki karakter seperti karakter-Nya, dan itu adalah satu kemutlakan, tetapi juga satu keniscayaan. Kita tidak bisa mengaku anak Allah tetapi berkarakter anak orang lain.
Memang, waktu kita baru menjadi Kristen, kita masih kanak-kanak rohani, karakter Bapa belum tampak dalam hidup kita, karena kita belkum bisa mengenakannya. Sama seperti anak usia 3-7 tahun, masih belum tampak karakter bapaknya. Anak masih childish; kekanak-kanakan. Tetapi seirama dengan berjalannya waktu, ketika seorang anak hidup dalam penurutan terhadap orangtuanya, pasti ia bertumbuh semakin dewasa seperti orangtuanya. Selama anak itu bersama dengan orangtuanya, pasti ada impartasi, penularan karakter orangtua kepada anak. Demikian pula kita dengan Bapa di surga.
Kalau Yesus berkata, “jadikan semua bangsa murid-ku,” itu sebenarnya artinya sama dengan “jadikan semua orang menjadi sama seperti diri-Ku yang adalah Anak Allah”. Yesus adalah model dari Anak Allah yang benar.” Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini sehingga mereka tidak semakin menjadi seperti Yesus. Kalau kekristenan menjadi sekadar agama, dimana orang cukup puas hanya pergi ke gereja, dan tidak semakin menjadi seperti Yesus ini adalah sebuah penyesatan. Dan banyak orang Kristen yang sebenarnya tersesat di sini, tapi mereka tidak menyadari kesesatan itu.
Apalagi kalau mereka merasa sudah berkarakter baik di mata manusia, santun, lalu menjadi aktivis atau majelis gereja, apalagi menjadi pendeta. Mereka tidak menyadari keadaan yang sebenarnya. Kalau hanya menjadi orang yang santun dan baik, yang kelihatan rohani, agama lain juga memiliki aset manusia seperti itu. Tetapi di dalam kekristenan, orang percaya harus mengenakan kodrat Allah. Menjadi anak Allah itu berarti seperti Bapanya, dan Yesus itulah modelnya. Yang menyedihkan, kadang-kadang orang belajar teologi, makin tinggi ilmu teologinya, makin pintar bicara dan cakap berkhotbah, malah makin tidak menjadi seperti Yesus. Memang mereka menjadi cakap bicara, mengajar dan berdebat, tetapi sebenarnya yang dikehendaki Allah bukan sekadar bisa bicara tentang Tuhan, melainkan mengenakan Tuhan dalam hidup kita.
Orang percaya hendaknya tidak hanya bisa bicara dan mengakui bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup, melainkan menjalani jalan itu, mengenakan kebenaran itu, dan memiliki hidup-Nya dalam hidupnya. Jadi, kalau Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” bukan hanya diyakini, melainkan dijalani, dipahami kebenaran tersebut, dan dihidupi di dalam hidup kita. Kita harus jujur melihat diri kita sendiri. Roh Kudus pasti akan pimpin kita. Sebab ketika kita sungguh-sungguh belajar untuk menjadi anak-anak Allah, Roh Allah pasti menuntun kita. Pada waktu kita berpikir sesuatu yang salah, Roh Kudus pasti tegur. Waktu kita mengucapkan kata-kata yang salah, Roh Kudus pasti mengingatkan. Waktu kita melakukan perbuatan yang salah, Roh Kudus pasti berbicara. Dan dari hal itu, kita terbimbing untuk menjadi anak Allah.
Kita harus mulai punya komitmen dari sekarang, bukan hanya meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu punya status sebagai anak Allah, tetapi mau berkeadaan seperti diri Yesus, yaitui berkodrat Ilahi. Kalau kita mengenakan kodrat ilahi, berkarakter seperti Bapa, kita pulang ke surga akan dikenal sebagai anak. Kita harus waspada, kuasa dunia berusaha mengkloning untuk menjadi anak dunia, serupa dengan dunia ini. Dan kuasa gelap dengan manufernya yang luar biasa,