“Yesus yang lain” mengajarkan kepastian masuk surga dari keyakinan dalam pikiran, yaitu memercayai bahwa kalau sudah percaya kepada Yesus,jika meninggal dunia, seseorangpasti akan masuk surga. Para pembicara “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa kepastian masuk surga dibangun dari keyakinan dalam nalar yang dilandaskan pada format-format doktrin atau sistem-sistem teologi. Biasanya, mereka memahami keselamatan sebagai terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga bukanlah keselamatan itu sendiri, tetapi sebenarnya adalah buah atau akibat dari keselamatan.Pengertian keselamatan yang salah ini mendangkalkan pikiran, sehingga tidak bisa membangun pengertian iman yang benar, sehingga kepastian masuk surga yang ada adalah semu. Ketika ada diujung maut, Yesus yang telah dipahami ternyata tidak ada, tidak menjemputnya, karena memang itu adalah “Yesus yang lain” atau sekadar fantasi.
Kepastian keselamatan banyak orang Kristen dibangun dari keyakinan dalam pikiran berdasarkan pandangan teologi tertentu seperti yang diajarkan “Yesus yang lain.” Hal ini terkait dengan pengertian iman. Kalau iman dianggap sekadar aktivitas nalar atau pikiran,pergumulan kepastian keselamatan juga bertorientasi pada nalar saja. Kualitas hidup kekristenan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengertiannya terhadap doktrin keselamatan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh salah dalam memahami doktrin ini. Untuk itu, dibutuhkan penggalian secara memadai dan serius terhadap isi Alkitab, supaya menemukan kebenaran yang murni berkenaan dengan pengajaran mengenai keselamatan ini.
Kekristenan adalah proses mengajar dan belajar. Allah yang mengajar dan kita yang diajar atau dididik. Buah atau akibat dari proses tersebut adalah dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah atau menjadi sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya seseorang harus melalui proses menjadi “murid,” pembaruan terus-menerus dan proses pendewasaan yang ketat bertahap untuk mencapai kesempurnaan. Proses ini juga sama dengan menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Dengan demikian, keselamatan dapat digambarkan seperti garis panjang (linear), bukan sebuah titik (dot). Keselamatan dalam Yesus adalah perjuangan panjang setiap hari tanpa henti sampai Tuhan memanggil pulang ke surga.
Keselamatan memang usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Namun, ini bukan berarti bahwa proses ini bisa terealisasihanya dari satu pihak saja, dalam hal ini pihak Tuhan. Manusia yang menjadi objek keselamatan juga dituntut mutlak untuk memberi diri dibentuk untuk dapat diubah dan mencapai target, yaitu menjadi manusia seperti rancangan semulaAllah. Untuk itu,kedua pihak harus aktif, baik pihak Tuhan maupun pihak manusia. Keselamatan dari pihak Tuhan berarti tindakan Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula atau tujuan awal,demi mewujudkan keselamatan atas manusia.
Dalam hal ini, respons manusia dalam menerima penggarapan Tuhan sangatlah penting. Harus dipahami bahwa kesempatan menjadi orang pilihan bukanlah jaminan seseorang bisa benar-benar terpilih masuk surga. Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Tanggung jawab terhadap anugerah itu juga dinyatakan berulang-ulang oleh Tuhan Yesus, ketika Tuhan menghendaki agar orang percaya berjuang untuk menjadi pemenang. Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat yang ditulis dalam Kitab Wahyu, kepada setiap jemaat Tuhan,Yohanes menghendaki agar jemaat-jemaat menjadi orang yang menang. Orang yang menang adalah orang yang terpanggil, terpilih, dan setia (Why. 17:14).Itulah sebabnya mengikut Tuhan Yesus adalah perjuangan, bukan suatu skenario yang sudah disusun dan orang percaya hanya menjalani atau menerimanya saja.
Suatu hari nanti, setiap orang dapat membaca buku catatan masing-masing yang diarsipkan oleh Allah, dan isinya ditentukan oleh masing-masing individu. Tidak ada orang yang bisa berdalih bahwa segala sesu...