ThaniBhala

KESADARAN PAKAN


Listen Later

tentang kesadaran pangan, yang dari hari ke hari semakin terbiaskan. Yang awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan pribadi dan keluarga sekitar, lambat laun terjadi keserakahan untuk memperkaya diri. Takut miskin menjadi bayang-bayang sehingga upaya mencapai hasil panen maksimal dilakukan dengan membabi buta.
Video ini terus melanjutkan apa yang harus dimiliki oleh petani selanjutnya adalah kesadaran pakan. Bila anda belum mengerti apa yang dimaksud dengan kesadaran pangan silahkan tonton video tersebut. Link kami sertakan di awal, di bagian atas deskripsi ini dan silahkan tonton pula kutipan videonya.
Sebuah ayat dalam al quran mengatakan :
"Bila kau tanam pohon, buahnya dimakan burung, hewan lain atau dirinya sendiri, maka dihitung pahala shodaqoh atasnya".
Saya sering mengatakan minimal kepada diri sendiri bahwa seegoisnya petani, menanam dan makan tanamannya sendiri, dia telah bershodaqoh. Shodaqoh berarti pahala yang diperoleh bukan karena mengerjakan sesuatu yang wajib dikerjakan. Bukan sekedar gugur kewajiban. Dia mengerjakan sesuatu yang boleh saja bila tidak dikerjakan. Betapa mulianya petani dengan rumusan itu.
Bila dikaji secara jauh, andai kita menanam pohon buah, walaupun buahnya kita petik dan makan, daun yang kering dan rontok akan menjadi kompos, rindangnya pohon memberi keteduhan bagi lingkungan, termasuk efek oksigen yang segar. Sangat logis, walau buahnya kita makan, efek lainnya tetap memberi banyak keuntungan.
Kesadaran pakan juga harusnya bisa menuntun petani lebih bijak dalam membunuh hewan. Toh kalau tanamannya dimakan hewan pahala masih menjadi hak penanam itu.
Berkali-kali saya membuat contoh hutan belantara, bagaimana berbagai tanaman bisa tumbuh subur tanpa perawatan, dengan berbagai hewan yang hidup berdampingan tapi masih pula bisa menyisakan buah, atau sumber makanan bagi semisal kita (manusia) mencari apa yang bisa dimakan disana.
Dengan semakin banyak ilmu yang dipelajari, kecanggihan teknologi yang dikuasai berbarengan keserakahan, kepongahan manusia justru menjadi bias bagaimana sesungguhnya bertani dengan bijak dan lebih proporsional.
Dari jaman sekolah dasar, kita diajari tentang teori rantai makanan. Saya yakin petani paham betul tentang itu. Tapi dalam praktek di lapangan, ilmu itu hampir tidak digunakan. ketakutan tidak panen mengaburkan untuk menjaga tidak terpenggalnya rantai makanan itu.
Kalau mau jujur, coba catat hewan apa yang dulu ada, sekarang sudah tidak kelihatan lagi di sawah. Coba catat bersama menghilangnya hewan itu penyakit apa yang kemudian timbul atau bahkan menjadi wabah.
Bagaimana pestisida digunakan begitu membabi buta. Tidak boleh ada hewan sekecil apapun mengganggu tumbuhan yang kita tanam. Disamping residu "racun" pestisida yang tertinggal apabila masuk ke pencernaan manusia. Tentu ada fek yang tidak baik bagi kesehatan. Terputusnya rantai makanan juga lambat laun akan menjadi bom waktu.
Nenek moyang kita jauh lebih bijak dalam menyikapi itu. Secara berkala di lahan pertanian ada sesajen beraneka warna yang ditaruh di pojok-pojok lahan. Orang Belanda tidak menemukan alur logis kenapa harus ada sesajen itu, maka kemudian menganggap itu syirik, itu ritual yang tidak jelas. Belum lagi ditambahkan dibakarnya kemenyan atau dupa beraneka bebauan. Semakin bingung dan tidak dimengerti. Karena tidak mengerti kemudian membangun isu bahwa itu hal syirik. Bertahun-tahun entah berkembang sendiri atau sengaja dikembangkan.
Hari ini seringkali kita lebih percaya rumusan molekuler yang canggih daripada hal-hal kecil, sederhana yang dulu pernah ada. Begitu mudah kita menganggap nenek moyang kita kuno, ketinggalan dan tidak beradab. Sementara ilmu barat begitu modern canggih, maju.
Ini bukan tentang mempertentangkan, tapi tantangan berat untuk kembali ke kesadaran pakan nyata adanya. Hilangnya beberapa satwa mestinya akan berbarengan dengan lahirnya satwa lain yang pengendaliannya lebih tidak kita mengerti.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

ThaniBhalaBy thanibhala