Tidak ada masalah yang lebih penting daripada masalah bagaimana kita dapat memiliki hubungan yang benar-benar nyata dengan Allah Bapa. Hal ini bukan hanya dirumuskan dengan kalimat atau sekadar diyakini di dalam nalar, melainkan merupakan pengalaman nyata yang dirasakan sendiri, dan pasti akan dirasakan oleh orang lain juga yang ada di sekitar kita. Hati kita harus merasa haus, bagaimana relasi intim antara kita dengan Allah yang kita panggil “Bapa” benar-benar terwujud, dalam penghayatan yang benar dan tidak dipaksakan (natural) menjadi realitas, yang walaupun orang lain tidak melihatnya, kita mengalaminya, dan akhirnya, orang lain di sekitar kita juga ikut merasakannya.
Dari pengalaman tersebut, kita memiliki kesaksian dalam batin tentang keberadaan dari Yang Mahaagung, Bapa kita. Kesaksian dalam batin tidak dapat diperoleh melalui bangku sekolah tinggi teologi, jabatan, atau kedudukan sebagai dosen sekolah tinggi teologi, pendeta, ketua sinode, atau jabatan lain dalam gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tetapi pengalaman hidup dalam perjumpaan dengan Allah Bapa secara konkretlah yang membuahkannya. Dalam hal ini, banyak teolog yang tersesat, karena mereka merasa sudah mengalami Allah Bapa dalam atau melalui rumusan-rumusan doktrin atau pengajaran yang mereka susun, tetapi sebenarnya mereka tidak mengalami Allah Bapa secara benar. Ironisnya, mereka merasa sudah mencapai atau menjangkau Allah Bapa secara benar, dan merasa berhak mengajarkannya kepada orang lain. Semua itu sebenarnya hanya fantasi dan imajinasi di dalam pikiran. Maka, tidak heran kalau standar moral mereka rendah.
Memang secara moral umum teolog-teolog tersebut terlihat santun, tetapi sebenarnya tidak sedikit di antara mereka yang hidup dalam arogansi akademis dan keangkuhan yang menyakiti sesamanya. Hal ini terbukti dari pernyataan-pernyataan mereka yang ditujukan kepada orang lain. Di antara mereka juga ada yang terlibat dalam pelanggaran moral yang memang tidak diekspos. Kemungkinan, mereka mengalami kebingungan, mengapa mereka tidak dapat menundukkan kodrat dosa di dalam hidup mereka. Sejatinya, memang pengetahuan teologi tidak memiliki kuasa yang cukup untuk membebaskan seseorang dari kodrat dosa. Tetapi, kebenaran yang murni dari Allah Bapa dan pengalaman perjumpaan dengan Dia yang mampu membuat seseorang terlepas dari kodrat dosa.
Kalau pengajarnya sendiri tidak memiliki pengalaman dengan Allah Bapa, maka yang ditularkan kepada jemaat hanyalah pengetahuan teologi yang mengisi pikiran, tetapi tidak mengubah karakter secara signifikan. Hal ini merupakan kerugian yang besar bagi pekerjaan Allah Bapa. Inilah yang menjadi penyebab mengapa banyak jemaat hidup dalam kewajaran anak dunia, tidak hidup seperti yang Yesus teladankan. Hal ini sudah berlangsung selama ratusan tahun. Ironisnya, gereja tidak menyadari keadaan ini. Kekristenan di dunia Barat membuktikan adanya fakta ini, dan hal ini tidak dapat dibantah. Namun demikian, pada kenyataannya banyak teolog yang tidak mau mengakui fakta ini. Mereka masih bangga dengan seminari-seminari di Eropa dan menjadi lulusannya. Padahal, seminari-seminari itu seperti orang lumpuh yang tidak berdaya mengangkat tubuhnya sendiri dan menolong orang lain untuk bisa tegak berjalan, artinya mereka tidak berdaya guna menyelamatkan masyarakat Barat dari pengaruh dunia yang jahat.
Untuk benar-benar memiliki hubungan yang nyata dengan Allah Bapa dan dalam persekutuan yang indah, dibutuhkan atau dituntut perjuangan berat, yang oleh karenanya orang percaya harus mempertaruhkan segenap hidup. Segenap hidup artinya tidak ada yang disisakan sama sekali. Hidup ini harus diisi hanya untuk benar-benar memiliki hubungan yang ideal dengan Allah Bapa. Inilah maksud keselamatan itu diberikan, agar manusia dapat menemukan Bapanya dalam persekutuan yang harmonis. Untuk itu, setelah memiliki pembenaran dari Kristus, selanjutnya kita harus bertumbuh menjadi dewasa, yaitu memiliki karakter yang dapat terhubung dengan Al...