Salah satu senjata untuk dapat menaklukkan semangat atau gairah zaman ini adalah bersedia hidup dalam kesederhanaan. Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Kita harus bisa membedakan antara berpenampilan baik untuk menjadi berkat, dengan berpenampilan untuk memperoleh penilaian dari sesama demi harga diri atau nilai diri. Dalam hal ini kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya, harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat. Agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Kalau seseorang sudah terikat dengan barang branded, maka sulitlah baginya untuk memahami pengertian kepatutan. Gaya hidup ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan membanggakan. Biasanya orang seperti ini mencari nilai diri dari barang yang dimiliki dan dikenakan. Betapa miskinnya mental orang Kristen seperti ini, sebab mestinya yang berharga adalah manusia batiniahnya, bukan lahiriahnya (2Kor. 4:16; 2Ptr. 3:4).
Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati tidak mencari hormat atau penilaian manusia. Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Mengapa bisa demikian? Sebab ia tidak mencari dan mengharapkan hormat dari manusia, tetapi dari Allah. Tuhan Yesus menyatakan, bagaimana seseorang bisa percaya kalau masih mencari hormat satu dengan yang lain (Yoh. 5:44)? Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia.
Teladan satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan Diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya. Ciri yang paling nyata dari orang yang memiliki sikap sederhana adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya”.
Orang yang membangun nilai diri berdasarkan barang yang dikenakan dan dimiliki, membawa dirinya kepada keadaan “letih, lesu, dan berbeban berat”. Kalau Tuhan menawarkan kelegaan itu berarti perhentian (Yun. anapauso). Perhentian di sini artinya, perhentian dari pengembaraan jiwa yang mengingini banyak hal. Perhentian di sini artinya juga jiwa dilabuhkan pada Tuhan, bukan kepada yang lain. Dalam pernyataan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia rendah hati dan lemah lembut (Mat. 11:28-29). Rendah hati dan lemah lembut adalah jiwa atau nafas dari spirit (gairah) kesederhanaan. Tanpa kerendahan hati dan kelemahlembutan seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, seseorang tidak akan memiliki kesederhanaan yang diinginkan oleh Bapa di surga. Kalau kita meneropong kehidupan Tuhan Yesus, Ia adalah Pribadi yang tidak memiliki keinginan kecuali “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Pola hidup seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini adalah pola hidup sederhana yang tidak rumit, tetapi agung tiada taranya.
Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini yang bukan berasal dari Allah, suatu hari nanti akan berakhir dan lenyap, tiada bekas dalam kebinasaan. Oleh sebab itu kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi tuhan bagi diri sendiri, bila berkeadaan kuat (kaya dan memiliki kuasa duniawi), ia juga menjadi tuhan bagi sesamanya.