Kalau kita tidak berani berkomitmen melepaskan segala sesuatu, maka kita tidak akan pernah mengalami perubahan secara benar. Melepaskan segala sesuatu artinya kesediaan tidak lagi menikmati dunia dengan segala hiburannya. Ini juga berarti kesediaan untuk menaruh seluruh pengharapan kita pada Kerajaan Surga di langit baru dan bumi yang baru. Dari pengalaman dapat dibuktikan, ketika seseorang tidak melakukan komitmen melepaskan segala sesuatu, ia tidak mengalami proses pendewasaan menuju kesempurnaan. Dalam hal ini, komitmen melepaskan segala sesuatu adalah pintu gerbang proses pendewasaan menuju kesempurnaan. Tidak ada komitmen melepaskan segala sesuatu, berarti menolak untuk dibentuk atau dimuridkan.
Dalam Ibrani 12:1, firman Tuhan menasihati kita agar menanggalkan beban dan dosa. “Beban” di sini maksudnya adalah ikatan percintaan dengan dunia, sedangkan “dosa” menunjuk kodrat dosa dalam daging kita. Banyak orang berpikir sangatlah sulit untuk dapat menanggalkan beban dan dosa. Karena berpikir bahwa hal itu sesuatu yang sulit dan bahkan dianggapnya mustahil dilakukan kalau belum dewasa, maka mereka tidak berani berkomitmen. Kita harus berani berkomitmen dulu di hadapan Tuhan bahwa kita bersedia menanggalkan beban dan dosa. Keberanian ini jangan diharapkan berasal dari Allah, karena manusia memiliki kehendak bebas, sehingga ia harus membangkitkan keberanian dari dirinya sendiri. Tuhan tidak akan menaruh keberanian dalam hati seseorang kalau orang tersebut tidak bersedia mengasihi Dia dengan segenap hati.
Orang yang berani berkomitmen, walaupun belum mampu melakukannya, adalah orang yang berani mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan akan mengalami penggarapan Allah melalui segala kejadian hidup yang dialaminya (Rm. 8:28-29). Penggarapan Allah inilah yang akan memampukan seseorang menjadi serupa dengan Yesus, artinya benar-benar bukan hanya dapat menanggalkan beban dan dosa, tetapi juga dapat serupa dengan Yesus. Dalam Ibrani 12, juga disinggung mengenai tujuan dari proses pendewasaan, yaitu agar menjadi anak Allah yang sah (huios) dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).
Seorang Kristen pergi ke gereja dengan segala kegiatannya, menjadi percuma dan sia-sia kalau ia tidak berani berkomitmen menanggalkan beban dan dosa. Walaupun sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, menjadi majelis, aktivis, bahkan menjadi pendeta, tetapi ia tetap tidak akan sampai kedewasaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Oleh sebab itu, kita harus berani terlebih dahulu berkomitmen. Adapun mengenai bagaimana memenuhinya, baru melalui proses. Itulah sebabnya, firman Allah mengatakan dalam Roma 8:12-14, bahwa orang percaya adalah orang yang berutang. Orang percaya “berutang bukan hidup menurut daging, melainkan menurut roh.”
Dalam pasal sebelumnya, Roma 7:25-26, Paulus menyaksikan pergumulannya: “Dengan akal budiku, aku melayani hukum Allah; dengan tubuh insaniku, aku melayani hukum dosa.” Menurut teks aslinya, sebenarnya artinya adalah “dengan akal budiku, aku melayani hukum Allah, sementara aku masih memiliki kodrat dosa.” Bisa dimengerti kalau Paulus berutang untuk hidup menurut Roh, artinya tidak boleh memuaskan keinginan dagingnya. Ibarat seorang yang berutang, harus memiliki komitmen untuk membayarnya, baru melangkah untuk memenuhi utang tersebut dalam proses yang bertahap. Tetapi kalau sudah merasa tidak mampu membayarnya dan tidak memiliki kesediaan untuk melunasinya, ia tidak pernah berusaha untuk melunasinya.
Ketika orang muda yang kaya dalam Matius 19 akhirnya menolak perintah Yesus untuk melepaskan segala miliknya, ia pergi dengan sedih, kemudian Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum,” Hal ini membuat murid-murid-Nya resah. Mereka berkata satu dengan yang lain: “Kalau begitu, siapa yang diselamatkan?” Kemudian Yesus berkata: “Bagi manusia mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Dalam hal ini, terdapat rumus kehidupan dalam pengiringan kepada Yesus: “aku haru...