Efesus 6:16-17 mengatakan, “… dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Ini kabar baik untuk kita. Kita semua bisa berhasil. Walau faktanya memang tidak semua orang berhasil. Mengapa? Tergantung dari keputusan individu. Tanpa disadari, ketika seseorang jatuh tertidur, keadaan itu disertai dengan pengalaman-pengalaman dunia di sekitar, pelan-pelan ia digiring ke situ. Seperti sarang laba-laba, dari kecil, tetapi semakin lama semakin makin besar, sampai serangga lain yang terjebak tidak bisa bergerak.
Dalam Galatia 6:7-8 tertulis, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Sebenarnya ketika Alkitab berbicara mengenai tabur tuai, itu masalahnya bukan soal sekadar urusan di bumi, melainkan bicara soal kekekalan.
Maka, kita harus serius, ada Allah Bapa yang Maha Besar, yang memperhatikan hidup kita. Kalau kita mau belajar untuk rendah hati, lemah lembut, mau jadi sempurna, Tuhan akan memberikan momentum yang mahal. Apa? Kita diizinkan mengalami perlakuan tidak adil, dihina, dan macam-macam yang tidak menyenangkan. Namun, itu adalah cara Tuhan mendewasakan kita. Momentum itu berharga untuk membentuk kita, supaya kita bertumbuh dalam kesempurnaan di dalam Tuhan Yesus Kristus, menjadi manusia yang agung. Kekristenan bukan hanya membuat kita menjadi orang baik, tetapi kekristenan membuat kita menjadi orang yang sempurna.
Banyak perjuangan yang dilakukan oleh orang hanya untuk memenuhi ambisi dan kesenangan dunia, tetapi bukan untuk meraih bagaimana memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Maka, kita harus berani fanatik, jangan jadi orang baik saja, jadilah orang yang sempurna. Nanti kita akan bertemu momentum-momentum yang mengubah hidup kita. Memang tidak bisa berubah dalam sekejap. Namun, ingatlah itu adalah momentum berharga yang Tuhan berikan, jangan disia-siakan. Kita bersyukur masih diberi kesempatan hidup di bumi ini. Kalau kita masih bisa bernapas saat ini, itu adalah anugerah Tuhan, kemurahan Tuhan.
Waktu sisa yang Tuhan masih berikan, harus kita gunakan sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, menyukakan hati Bapa. Ayo, kita berjuang menjadi anak-anak kesukaan Bapa di surga. Bukan sekadar anak-anak kesayangan Bapa di surga, tetapi menjadi anak-anak kesukaan. Filipi 3:13-14 tertulis, “Mari kita melupakan apa yang telah di belakang kita, mengarahkan diri kita ke depan, berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Kita harus fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya! Namun, kalau hati kita masih fokus kepada keinginan dunia, maka kita pasti akan menyesal ketika kita menutup mata selamanya. Firman Tuhan 2 Petrus 3:15a mengatakan, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.” Waktu hidup yang Tuhan masih beri bagi kita adalah kesempatan untuk kita beroleh selamat, bertobat, berubah menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah.
Sejak Rasul Petrus menulis surat ini, banyak orang yang mengejek, “Di mana janji tentang kedatangan Yesus? Katanya Yesus mau datang kedua kali ke dunia ini, tetapi kok belum datang juga?” Banyak orang mengejek kita, orang percaya, mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, tetapi Rasul Petrus memberikan jawaban atas ejekan tersebut, yaitu:
Pertama, Tuhan sabar terhadap kita. Memang Tuhan Yesus belum datang kedua kalinya ke dunia ini saat ini. Namun ingat, Tuhan bisa saja memanggil kita. Jadi bukan Tuhan yang datang ke dunia ini, tetapi kita yang datang kepada Tuhan. Itu bisa, yaitu kiamat pribadi kita.