Pada akhirnya, Tuhan akan memperkarakan gairah apa yang ada pada setiap individu. Dari gairah tersebut, akan terbukti seseorang mengarahkan hidupnya kepada siapa. Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan hidupnya kepada dunia. Ini berarti menjadikan diri mereka sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Dalam Yakobus 4:1-3 tertulis adanya manusia yang hidup hanya untuk mengingini kepuasan hawa nafsu. Kata “hawa nafsu” sama dengan kesenangan. Kata ini dalam teks aslinya adalah hedone. Adapun kata “mengingini” (Yak. 4:2) dalam teks aslinya adalah epithumia, yang artinya keinginan yang kuat. Dalam hal ini, kita harus memeriksa gairah apa yang paling kuat mendesak dalam jiwa kita. Gairah itu adalah nyawa seseorang. Bagaimana warna nyawa seseorang, tergantung dari apa yang disiramkan atasnya. Itulah sebabnya, Amsal 4:23 menasihati orang percaya agar menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Kata “hati” adalah leb (לֵב), yang juga berarti inner man (manusia batiniah), mind (pikiran), will (kehendak), heart (hati). Dalam hal ini, betapa kita harus merawat manusia batiniah kita dengan saksama.
Warna gairah seseorang tidak bisa dibangun dalam satu hari, melainkan harus dibangun dalam tahun-tahun yang panjang. Kalau seseorang selalu mendapat masukan dari dunia ini, warna jiwanya sama seperti dunia ini. Tetapi kalau seseorang selalu mendengar kebenaran Firman Allah yang benar, warna jiwanya sesuai dengan yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu, seseorang harus mengisi jiwanya dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Artinya, selain belajar kebenaran Firman dari berbagai media, juga mendengar suara Tuhan melalui pengalaman hidup dan berbagai penyataan lainnya.
Dalam Matius 4:4, satu aspek hendak ditunjukkan adalah bahwa makanan jiwa seseorang haruslah Firman yang keluar dari mulut Allah, dan aspek lainnya, harus diwaspadai bahwa ada “firman” yang keluar dari mulut yang lain. Kita harus selalu aktif mencari Firman Allah. Kita tidak boleh bersikap pasif. Kalau bukan Firman yang keluar dari mulut Allah, pastilah perkataan yang keluar dari mulut Iblis. Perkataan Iblis menciptakan karakter Iblis, tetapi Firman Allah membangun karakter Allah dan menciptakan gairah yang mengarahkan manusia menjadi kekasih Allah. Kalau seseorang mendengar Firman yang keluar dari mulut Allah, kesenangannya adalah kehadiran Allah dan Kerajaan-Nya, tetapi kalau dunia yang mengisi bejana hati seseorang, maka kesenangannya adalah dunia ini.
Kesenangan dunia membawa seseorang kepada kebinasaan. Setiap orang akan dibawa kepada dua kemungkinan, apakah gairahnya makin kuat ke arah Tuhan atau ke dunia. Oleh sebab itu, setiap kita harus memerhatikan, apakah yang paling banyak mengisi jiwa kita? Yakobus dalam suratnya, menasihati orang percaya bahwa kalau jiwa seseorang diisi dengan hikmat yang dari atas, maka kesenangannya tidak diarahkan kepada dunia ini. Orang seperti ini akan menjadi umat pemenang. Jadi, menjadi umat pemenang artinya jika seseorang berhasil memiliki gairah atau kesenangan yang bukan dunia ini.
Arah yang salah dalam waktu terlalu lama tidak bisa diubah lagi. Tidak ada kesempatan untuk merubah arah. Pergumulan ini sama dengan yang dikatakan Yesus dalam Matius 10:39, yaitu pergumulan kehilangan nyawa. “Nyawa” di sini adalah kesenangan. Kalau seseorang berhasil rela kehilangan kesenangan dunia ini, ia akan memperoleh kesenangan di dunia yang akan datang. Seseorang tidak bisa menikmati keduanya, harus memilih salah satu. Apakah Tuhan yang disambut, atau dunia ini yang di belakangnya ada Lusifer yang jatuh. Seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24).
Dalam Matius 10:40, Tuhan Yesus menegaskan, barangsiapa menyambut berita Injil, ia menyambut Tuhan Yesus, dan barangsiapa menyambut Yesus, ia menyambut Allah Bapa. Kata “menyambut” dalam Matius 10:39 adalah dechomai, yang berarti to take with the hand; to taker hold; to receive hospitality (menyambut dengan ta...