Adalah kesombongan kalau kita mencari Tuhan hanya pada waktu kita membutuhkan pertolongan-Nya. Namun ironisnya, itu sudah menjadi irama hidup banyak orang beragama. Kalau di dalam agama-agama suku, dan kepercayaan-kepercayaan di luar agama samawi khususnya, orang datang ke tempat keramat—pohon atau batu yang dianggap keramat atau tempat keramat lainnya—karena membutuhkan sesuatu. Biasanya juga membawa korban tertentu, di situlah terjadi transaksional. Sejatinya, hubungan kita dengan Allah tidak boleh dalam mekanisme transaksional. Kita harus mengenal benar siapa yang kita sembah. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan manusia, dan menghendaki kita ini ada. Ia tidak membutuhkan apa-apa sebenarnya, dan bisa tidak membutuhkan siapa-siapa.
Dengan menciptakan manusia, sebenarnya Allah masuk dalam satu “risiko.” Sebab manusia yang diciptakan memiliki kehendak bebas; free will. Dalam istilah Latin, liberum arbitrium. Manusia diberi pikiran dan perasaan, seperti komponen yang ada pada diri Allah, pasti makhluk kekal. Binatang mau secerdas apa pun, tidak memiliki komponen seperti yang manusia miliki. Karenanya, ketika binatang mati, maka ia diakhiri. Dengan pikiran dan perasaan, maka manusia dapat menciptakan kehendak.
“Kehendak” bukanlah Allah yang mengatur (mendesain), melainkan manusia itu sendiri yang menciptakan kehendak. Allah tidak menciptakan kejahatan. Tetapi manusia memiliki pikiran dan perasaan sehingga dapat memproduksi kehendak yang positif atau negatif; menyukakan Allah atau menyakiti hati-Nya. Manusia sebagai makhluk yang dipercayai Tuhan memiliki pikiran dan perasaan adalah makhluk yang berisiko tinggi, karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Tuaian itu bukan hanya sementara kita ada di dunia. Tetapi sampai di keabadian. Banyak orang tidak berpikir dari perspektif kekekalan. Inilah cara kuasa kegelapan menyesatkan manusia.
Kalau kita makhluk kekal—karena memiliki pikiran dan perasaan yang bisa menciptakan kehendak—maka kita harus berpikir dengan perspektif kekekalan. Sejujurnya, banyak di antara kita yang belum memiliki perspektif kekekalan, karena mewarisi apa yang orang tua lakukan; apa yang nenek moyang kita lakukan. Kita melihat model dari kehidupan, gaya dari kehidupan manusia yang perspektifnya kefanaan. Tentu tidak semua keluarga demikian, tetapi pada umumnya demikianlah orang-orang Kristen, mereka yang rajin ke gereja, aktivis, dan yang menyedihkan, bahkan pendeta.
Seseorang bisa ambil bagian dalam pelayanan gereja sebagai rohaniwan atau pendeta, tetapi tidak memiliki cara pandang kekekalan. Sehingga pelayanannya pasti hanya berorientasi pada hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan itu penyesatan. Ketika jemaat datang ke gereja dan merasa bahwa gerejalah sebagai agen Tuhan yang bisa memberikan nasihat dan tuntunan guna menjalani hidup, lalu gereja hanya memberikan khotbah-khotbah yang tidak membuka wawasan untuk menembus batas, gereja hanya bicara mengenai berkat jasmani, pertolongan Tuhan sekitar masalah-masalah fana, maka jemaat telah terkungkung, terbelenggu oleh pola berpikir yang salah. Bahkan kita yang sering berbicara mengenai langit baru dan bumi baru, belum tentu sudah keluar dari cara berpikir yang salah; belum tentu sudah menembus batas. Belum tentu sudah terbang seperti rajawali.
Banyak orang berurusan dengan Tuhan hanya pada waktu memiliki masalah-masalah berat. Atau berurusan dengan intensif, hanya pada waktu punya masalah, lalu transaksional. Mereka datang ke gereja, memuji dan menyembah Tuhan, supaya Tuhan berkati. Mereka memberikan persembahan dan berharap Tuhan gantikan lipat kali ganda. Dia adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yang menciptakan manusia dengan divine purpose; ada tujuan ilahi. Tujuan ilahi ini pasti berelasi dengan kekekalan. Mari kita lepas landas untuk membuka pikiran, agar tidak terkungkung dengan cara berpikir manusia di sekitar kita yang wawasannya hanya sebatas kubur,