Seseorang tidak akan bisa hidup dalam hadirat Allah kalau tidak hidup dalam kekudusan berstandar Allah. Allah menghendaki agar orang percaya benar-benar hidup bersih. Kalau seseorang baru menjadi Kristen, Allah menolerir keadaannya yang masih banyak kekurangan dan kelemahan. Allah masih berkenan menyatakan diri dalam berbagai tindakan dalam kehidupan orang Kristen tersebut. Tetapi ketika seseorang dipandang seharusnya sudah dewasa, maka Allah menuntut orang Kristen tersebut untuk benar-benar berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela. Jika tidak, maka Allah tidak hadir dalam hidup orang Kristen seperti itu. Di dalam Alkitab, jelas sekali ditunjukkan bahwa Allah menuntut umat pilihan untuk memiliki kekudusan seperti diri-Nya (2Kor. 6:17-18; 1Tes. 4:7-8; 1Ptr. 1:13-17, dan lain-lain).
Sebenarnya, kekudusan Allah diperkenalkan kepada manusia untuk menunjukkan bahwa Ia tidak menghendaki umat-Nya berkeadaan tidak sesuai dengan kekudusan-Nya. Allah tidak akan menolerir dosa terjadi di tengah-tengah umat-Nya. Sebab, Allah tidak bisa hadir dalam kehidupan seseorang kalau orang tersebut tidak hidup dalam kekudusan-Nya. Bila Alkitab menyatakan mengenai kekudusan Allah, hal itu bukan hanya bermaksud menunjukkan bahwa Allah tidak bercela dalam seluruh tindakan-Nya, melainkan juga hendak menunjukkan bahwa terdapat panggilan agar umat memiliki kekudusan Allah. Firman Allah berkata: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Kesucian adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa di surga dalam segala hal. Ini berarti orang percaya harus mengerti apa pun yang Bapa kehendaki, dan dengan sukacita dan rela serta bersungguh-sungguh, berusaha melakukannya (Mat. 7:21-23). Kesucian hidup adalah kehidupan yang melakukan kemauan atau keinginan Bapa dalam segala hal, di segala tempat, dan di sepanjang waktu hidup ini. Kehidupan Tuhan Yesus adalah contoh kesucian yang dikehendaki oleh Bapa. Dalam hal ini, pada dasarnya kesucian adalah kehidupan yang hanya mau memuaskan hati atau perasaan Allah. Agama pada umumnya melayani Allah dengan melakukan hukum-Nya, tetapi kekristenan melayani Allah dengan memuaskan keinginan hati dan perasaan-Nya.
Orang yang mau hidup dalam level di hadirat Allah harus bisa mencapai kehidupan yang memuaskan perasaan Allah. Tanpa kesucian hidup, tidak seorang pun dapat hidup di hadirat-Nya. Seorang yang hidup tidak benar-benar bersih, tidak akan menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya. Allah tidak dapat berjalan dengan orang yang kehidupannya najis. Dengan demikian, hanya orang yang memiliki kesucian yang dapat secara terus-menerus mengalami dan merasakan kehadiran Allah; hidup di hadirat Allah. Dengan demikian, harga untuk hidup di hadirat Allah adalah kesucian hidup yang berstandar Allah sendiri.
Kesucian haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki oleh orang percaya dengan sendirinya atau secara otomatis. “Kesucian” di sini maksudnya kedewasaan rohani dimana seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Tingkat kesucian yang dicapai seseorang bukan hanya tergantung dari kasih karunia Tuhan semata-mata, melainkan juga sangat tergantung dari perjuangan setiap individu. Semua potensi yang Tuhan berikan haruslah digunakan untuk meraih kesucian. Perumpamaan talenta yang ditulis dalam Injil Matius 25, sebenarnya bertalian dengan hal kesucian atau kualitas hidup yang harus dicapai seseorang. Setiap orang pasti mendapat kesempatan untuk menumbuhkan kesucian di dalam hidupnya. Kalau kesempatan untuk meraih kesucian disia-siakan, maka kesempatan itu akan hilang untuk selama-lamanya. Penyesalan atas hal ini tidak bisa dibayangkan, sangat dahsyat.
Dalam hal ini, harus ada kerinduan yang kuat untuk bertumbuh dalam kesucian. Orang percaya yang memiliki kerinduan yang kuat untuk mencapai kesucian, pasti dapat mencapainya. Hal ini sama dengan kerinduan melakukan kehendak Allah.