Truth Daily Enlightenment

Ketekunan


Listen Later

Pertumbuhan rohani merupakan proses yang berlangsung secara bertahap, yaitu bertahap ketat. Sebagaimana tubuh manusia yang bertumbuh secara ketat. Artinya, ada pertumbuhan yang berlangsung, tetapi nyaris tidak terdeteksi. Setiap hari ada sel-sel tubuh kita yang mati, tetapi ada sel-sel baru yang dilahirkan atau diciptakan. Kehidupan rohani kita juga bertumbuh bertahap secara ketat. Masalahnya, yang sering dipikirkan oleh banyak orang adalah pertumbuhan itu harus radikal sesuai dengan versinya. Ketika ia tidak melihat perubahan yang radikal, maka timbul keraguan, apakah ada proses pertumbuhan di dalam hidup rohaninya? Salah satu kebodohan orang percaya adalah mendengar suara Iblis yang berkata, “Kamu berdoa atau tidak berdoa, tidak ada bedanya. Nanti saja doanya, nanti saja sungguh-sungguh belajar firmannya. Kamu sudah setahun beribadah, ikut doa puasa, lalu apa perubahanmu? Tidak ada, kan? Sementara kamu lihat temanmu yang tidak ke gereja, tidak ikut doa puasa, keadaan mereka baik-baik saja.” 
Itu adalah tipuan Iblis. Lalu ada orang-orang yang mulai tidak setia, tidak tekun lagi. Kalau orang seperti ini kemudian meninggalkan persekutuan, meninggalkan jam doa, dan meninggalkan ketekunan belajar firman, maka 5, 10 tahun kita jumpai, orang itu tetap kerdil rohaninya. Namun, bagi orang yang mau bertekun, 5-10 tahun kita jumpai, pasti kita bisa rasakan perubahannya. Mungkin ada di antara kita yang baru belajar berdoa dan mengeluh sering sulit konsentrasi atau pikiran mengembara. Maka, kita harus belajar berdoa dengan tekun. Sampai suatu hari, kita bisa berdoa di satu kawasan di mana pikiran kita tidak bisa mengembara lagi. Hal ini tidak bisa dibagikan, tetapi kita harus mengalaminya sendiri. 
Ini juga berlaku untuk hal kekudusan. Dulu, kita mudah berbuat salah atau menggampangkan sesuatu. Kita biarkan perasaan kita menjadi liar. Namun, kalau kita tekun, maka kita akan sampai pada tahap tertentu di mana kita tidak bisa liar lagi, tidak bisa menyentuh dosa lagi. Kita berusaha untuk mencintai Tuhan dan kita berkata, “Aku cinta pada-Mu, Tuhan.” Tetapi kenyataannya, kita masih punya banyak hal yang menarik perhatian, yang memikat hati. Kalau kita mau bertekun dan belajar terus, maka kita akan tiba di suatu level di mana kita tidak bisa menarik cinta kita kepada-Nya. Kita belum terlelap tidur, peluk guling, kita bisa berkata dengan air mata: “Aku cinta Engkau, Tuhan.” Mengapa bisa begini? Ternyata itu adalah proses bertahap ketat yang kita jalani. 
Karenanya, kita tidak boleh meninggalkan persekutuan dengan Tuhan. Setiap hari kita harus datang kepada Tuhan. Jadi, proses bertahap ini harus kita jalani dan satu kata yang sangat penting adalah “ketekunan.” Kalau seseorang bisa dewasa rohani, suci, dekat dengan Tuhan dengan mudah, maka ia tidak menghargai nilai-nilai rohani. Sama seperti kalau seseorang mendapatkan mutiara dengan mudah, maka menjadi tidak berharga mutiara itu. Namun, akan berbeda ketika dia harus menyelam di kedalaman sekian meter dengan pertaruhan nyawa, maka mutiara itu menjadi sangat berharga.  Ingat, Tuhan punya tatanan; “Carilah Aku selama berkenan ditemui;” “Bertekunlah.” Semua itu mengisyaratkan harus ada usaha dari kita yang mau sungguh-sungguh dan pasti membutuhkan ketekunan. 
Sebenarnya, semua masalah kita itu hanya ada satu penyelesaiannya, yaitu Tuhan. Kita mau belajar untuk hidup dalam kekudusan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan sampai kita dapat mengerti kehendak Tuhan; apa yang Dia rencanakan dalam hidup untuk kita penuhi. Tuhan tidak membuat hidup kita menjadi rumit. Sejatinya, Tuhan mau menjadikan kita sebagai kawan sekerja-Nya untuk melayani dan mengabdi kepada Dia. Maka, proses pertumbuhan bertahap ini harus kita alami secara nyata dalam kehidupan kita. Masalahnya, sering kita tidak mengenali diri, mengapa Tuhan izinkan kita mengalami hal-hal yang menyakitkan. Ternyata, jawabannya adalah karena masih ada “penyakit-penyakit” dalam jiwa yang tidak kita kenali. 
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings