Dewasa ini banyak pengajaran yang tidak sesuai dengan Injil yang murni. Inilah yang dimaksud Paulus dengan injil-injil lain, yaitu injil yang berbeda dari Injil yang diberitakan oleh Paulus (Gal. 1:1-10). Injil lain mengajarkan Yesus yang lain dan spirit atau gairah yang lain (2Kor. 11:2-4). Injil lain ini menyesatkan karena memuat ajaran Iblis yang oleh karenanya Tuhan Yesus berkata agar Iblis enyah dari hadapan-Nya sebab itu merupakan suatu batu sandungan (Mat. 16:23). Injil palsu tersebut tidak dikenali kepalsuannya oleh banyak orang Kristen, sebab mereka tidak mengerti kebenaran sehingga tidak bisa membedakan kepalsuan atau kebenaran.
Mereka mengemas khotbah atau pengajaran mereka dengan merangkai berbagai ayat dan kesaksian pribadi seakan-akan hal itu alkitabiah. Ditambah lagi dengan pernyataan bahwa mereka sangat dekat dengan Tuhan, maka pengakuan itu merupakan usaha melegalisir pengajaran palsu tersebut seakan-akan kebenaran agar bisa diterima masyarakat Kristen. Ajaran-ajaran palsu tersebut pasti tidak menggiring orang Kristen pada rencana penyelamatan yang benar, yaitu mengembalikan manusia kepada rencana Allah yang semula. Mereka memikirkan apa yang dipikirkan manusia, yaitu bagaimana menyelamatkan hidup hari ini melalui karya salib Tuhan Yesus Kristus. Padahal salib itu diadakan justru untuk meninggalkan dunia atau tidak menyelamatkan hidup hari ini demi kehidupan yang akan datang.
Dengan cerdiknya, mereka membungkus pengajaran palsu tersebut dengan bungkusan yang baik, seakan-akan rohani padahal isinya sangat duniawi yang bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Pemalsuan ini begitu canggih sehingga banyak orang tanpa sadar disesatkan. Pada dasarnya mereka membangun kerajaan manusia di bumi, sama seperti murid-murid Tuhan Yesus yang menghendaki agar Tuhan Yesus memulihkan kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6-8). Banyak kemasan spirit atau gairah dunia dengan bungkus “rohani,” sehingga banyak orang tanpa sadar disesatkan.
Dan untuk menghapus pikiran sesat yang ada pada pikiran kita tidak bisa cepat, perlu waktu yang panjang dan keseriusan. Waktu panjang dan keseriusan itu adalah belajar kebenaran firman Tuhan yang memadai sehingga menguduskan diri orang percaya. Pengudusan terjadi melalui kebenaran firman Tuhan (Yoh. 17:17). Penyucian oleh firman adalah penyucian di dalam pikiran mereka. Hal ini tidak bisa berlangsung secara cepat atau terburu-buru. Seperti halnya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, seseorang harus mengunyah makanan secara benar dan melalui tahapan-tahapan yang ketat, artinya tidak bisa makan sekaligus satu ton beras, demikian pula kehidupan rohani atau pemenuhan kebutuhan jiwa. Setiap hari harus mengalami proses pengudusan sampai pikirannya terbuka untuk melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4).
Tanpa ketekunan, seseorang tidak akan melihat cahaya Injil tersebut. Sayangnya sekali banyak orang Kristen merasa sudah dimerdekakan oleh kurban Kristus di kayu salib. Padahal kurban Tuhan Yesus merupakan pintu gerbang yang dibuka oleh Tuhan agar manusia dapat memperoleh kesempatan untuk dimerdekakan oleh kebenaran (Yoh. 8:31-36). Kurban Tuhan Yesus tidak secara otomatis membebaskan manusia dari belenggu dunia. Dalam hal ini setiap orang percaya harus memiliki usaha untuk menyerap sebanyak mungkin kebenaran untuk dimerdekakan.
Aspek lain, kalau orang-orang Kristen dari kelompok tertentu sudah telanjur terjerat oleh pengajaran yang sesat, maka mereka tidak mudah dapat dilepaskan. Telinga mereka sudah tidak bisa lagi mendengar ajaran yang benar, mereka mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga (2Tim. 4:3). Mereka yang mendengar ajaran salah itu bisa semakin sesat dan sampai taraf tertentu membuat mata hati mereka menjadi gelap dan tidak pernah bisa mengerti Injil Kerajaan Surga yang benar (2Kor. 4:3-4; Mat. 3:21-22). Kalau mata hati mereka gelap, maka betapa gelapnya kegelapan itu.