Orang yang tulus terhadap sesamanya adalah orang-orang yang tidak berlaku munafik. Orang yang tulus tidak memiliki “keramahtamahan yang dibuat-buat”. Dengan demikian sikap lahiriahnya menjadi manifestasi dari sikap batiniahnya. Oleh sebab itu kalau kita mau menjadi seorang yang memiliki kejujuran, bukan sikap lahiriahnya yang dipoles, tetapi sikap batin yang terus menerus diperbaharui.
Kata “kemurnian” dalam 2 Korintus 1:12, dalam teks aslinya adalah haplotes (ἁπλότης), artinya without dissimulation (tanpa berpura-pura). Kata ini bisa berhubungan dengan kata hagioteti (sanctity), yang juga dapat diterjemahkan sebagai kesucian. Menunjuk sikap yang tidak jahat terhadap sesamanya. Sebaliknya, orang yang tidak berlaku apa adanya adalah orang yang berlaku jahat terhadap sesamanya. Kata hagioteti juga diterjemahkan sebagai simplicity (kesederhanaan). Ini menunjuk kepada orang yang tidak berhati bengkok terhadap sesamanya. Orang yang tidak berlaku belat-belit. Kemurnian ini adalah kemurnian dari Allah, menunjuk ketulusan hati Yesus. Dalam kehidupan setiap hari kita sering melakukan kebohongan yang terselubung melalui keramahtamahan yang berlebihan atau dibuat-buat dan diplomasi-diplomasi yang sama artinya dengan “politik pergaulan”.
Di dunia timur seperti di Indonesia ini, keramahtamahan adalah ciri masyarakat yang sering dibangga-banggakan. Keramahtamahan yang identik dengan corak kehidupan dan sopan santun ini sering dianggap sebagai kendaraan untuk menciptakan harmonisasi hubungan antar pribadi. Padahal keramahtamahan yang berlebihan dan dibuat-buat merusak prinsip persahabatan dan persaudaraan yang murni. Tuhan memang menghendaki kita berlaku ramah terhadap yang lain, tetapi keramahan yang tulus, yang lahir dari kasih. Ini adalah keramahtamahan yang berakar dari hati yang memuat kasih agape. Keramahtamahan sejatinya bukanlah sikap lahiriah, tetapi sikap hati atau batin yang memancar atau terekspresi dalam perbuatan lahiriah.
Keramahtamahan ini sebenarnya sesuatu yang positif dan luhur, tetapi kalau keramahtamahan menjadi sesuatu yang dimanipulasi, maka lebih tepat dikatakan sebagai kemunafikan yang sejajar dengan kepura-puraan atau dusta. Oleh sebab itu, keramahtamahan yang dibuat-buat dan berlebihan pun dapat dikategorikan sebagai kebohongan terselubung. Sebagai orang timur yang biasa dengan keramahtamahan yang berlebihan, kita harus mulai belajar memiliki keramahtamahan yang benar. Untuk membangun keramahan yang benar, maka yang digarap adalah sikap hati kita terhadap sesama. Kita harus menerima orang lain sebagaimana adanya dengan kasih Kristus. Hendaknya kita tidak menuntut orang menjadi seperti yang kita kehendaki. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan kelemahlembutan. Dengan demikian kita dijauhkan dari sikap diplomasi dalam berinteraksi dengan sesama. Hal ini merusak kesucian hidup.
Diplomasi adalah bahasa dunia yang sangat populer dan makin populer dewasa ini. Hampir dalam segala kesempatan gerak kehidupan, diplomasi menjadi bagian dari komunikasi manusia. Bukan hanya di kalangan para diplomat dan politikus saja, dalam dunia perdagangan, gereja dan pergaulan sehari-hari pun diplomasi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Diplomasi dalam pergaulan bisa merusak kesucian hidup, karena diplomasi dalam pergaulan pada hakikatnya adalah kepura-puraan. Ini adalah bentuk kemunafikan yang sejajar dengan penipuan secara terselubung. Kita dapat melihat, banyak pembicara di mimbar gereja mempraktikkan diplomasi-diplomasi dan keramahantamahan palsu, yang sama artinya dengan kebohongan terselubung ini. Dalam hal ini setiap unsur diplomasi adalah sesuatu yang tidak Alkitabiah. Diplomat yang sejati tentulah mempunyai kata-kata dan sikap untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Ini adalah dusta yang sangat halus dan secara tidak langsung. Untuk menjadi sempurna, diplomasi seperti ini harus dibuang jauh-jauh.